Prolog

536 86 13
                                        

Hujan turun deras, memantul di permukaan jalan yang licin dan basah. Lampu kota berpendar dalam genangan air, menciptakan ilusi keindahan di tengah malam yang gelisah.

Lampu merah di persimpangan berkedip samar—nyaris tenggelam di antara kilatan cahaya kendaraan yang melintas tanpa benar-benar peduli.

Di sudut jalan, pintu sebuah bar terbuka sedikit terlalu cepat.

Seorang pria keluar.

Langkahnya panjang dan tergesa, namun tubuhnya berusaha keras terlihat tenang. Mantel gelapnya basah di bagian bahu, rambutnya sedikit berantakan—tapi tidak cukup untuk menghapus kesan rapi yang selalu melekat padanya.

Di belakangnya, pintu bar kembali terbuka.

Lalu satu suara.

Klik.

Ia berhenti.

Hanya sepersekian detik. Cukup untuk menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian.

Beberapa sosok bermunculan dari balik bayangan—sebagian berlari kecil, sebagian lainnya sudah mengangkat kamera lebih dulu. Cahaya kilat menyambar tanpa ampun.

Klik. Klik. Klik.

"Siapa perempuan itu?!"

"Apakah ini hubungan baru?!"

Suara-suara itu tidak terlalu keras, namun cukup tajam untuk terasa seperti penghakiman. Asumsi demi asumsi tumbuh semakin liar dari detik ke detik.

Pria itu memilih pergi. Menghindar, alih-alih menghadapi. Tatapannya bergerak sekilas—ke arah jalan, ke lampu merah yang masih menyala, lalu ke hujan yang semakin deras—seolah sedang mencoba menelan situasi ini bulat-bulat.

Di dalam bar, bayangan seorang perempuan masih terlihat samar di balik kaca. Gaun hitam. Siluet yang terlalu mencolok untuk diabaikan—namun kini tampak sama rapuhnya dengan pria di luar sana, seolah ikut melarikan diri dari kilatan cahaya dan bisik-bisik yang tak kunjung reda.

Pintu bar tertutup kembali.

Menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Pria itu menarik napas pelan. Lalu melangkah—tepat saat lampu berubah hijau.

Kendaraan mulai bergerak. Klakson bersahutan. Namun kamera-kamera itu tetap mengejar, berusaha menangkap sesuatu yang mungkin tidak seharusnya mereka lihat.

Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka. Tanpa ragu, pria itu masuk.

Mobil itu melaju cepat—meninggalkan keramaian, meninggalkan sorotan, meninggalkan rasa kecewa dari mereka yang haus akan fakta. Atau mungkin, skandal.

Namun di tengah kekacauan yang nyaris reda, seseorang berhasil menangkap satu gambar yang seharusnya tidak ada.

Gambar yang—jika dilihat lebih lama—akan terasa... tidak biasa.

Seperti banyak hal lainnya malam itu, gambar itu tidak akan bertahan lama.

Karena di kota ini, beberapa cerita tidak pernah benar-benar dibiarkan untuk diceritakan.

Behind The FilterWhere stories live. Discover now