Tentang Dekapan

2 1 1
                                        

Taksi yang membawa Haneena, Hanan, dan Fathien yang masih tak sadarkan diri akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah. Hanan langsung turun dengan gerakan gesit. Ia membuka pintu belakang, mendengarkan intruksi Haneena, ia membopong tubuh Fathien yang lunglai.

Haneena menyusul turun dengan langkah gontai. Wajahnya pucat pasi, satu tangannya diam-diam menekan ulu hati yang terasa makin melilit.

"Buka gerbangnya, Neen! Buruan, berat nih!" seru Hanan terengah-engah.
Haneena mendorong gerbang dengan bibir mengerucut tak terima. "Berat katanya? Dasar lo lemah, Nan!" omelnya pelan, padahal ia sendiri sedang menahan sakit. Namun, matanya sedikit membulat saat melihat mobil Mas Alzam sudah terparkir manis di halaman.

Saat Haneena membuka pintu utama, ia hampir bertabrakan dengan Alzam yang hendak keluar. Wajah Alzam yang tadinya bingung seketika berubah tegang melihat adiknya membopong seorang gadis. Di belakang Alzam, muncul sosok wanita cantik dengan wajah teduh yang sangat Haneena kenal—Kak Soraya.

"Lho, Haneena? Hanan? Ini kenapa?" tanya Alzam cepat.

Soraya tidak menunggu jawaban. Dengan insting medisnya, ia sigap memeriksa denyut nadi di leher Fathien.

"Tadi ada kecelakaan di deket kampus, Mas. Dia kayak panik atau trauma gitu, histeris banget sampai pingsan," jawab Hanan dengan napas memburu.

"Bawa ke kamar tamu aja, Nan. Mumpung ada Soraya, biar diperiksa. Tolong ya, Ay?" perintah Alzam.

Soraya mengangguk tenang. "Aku ambil air hangat dulu, sama izin ambil beberapa alat medis kamu ya, Mas?" Alzam mengangguk cepat. Sebelum bergerak ke dapur, Soraya sempat melirik Haneena. "Haneena, kamu nggak apa-apa? Duduk dulu, Sayang. Muka kamu juga pucat banget."

Haneena hanya mengangguk lemah. Pikirannya belum sempat memproses kenapa Soraya bisa ada di rumahnya ini.

Saat Hanan membawa Fathien ke kamar yang sudah diikuti Soraya, Alzam menarik Haneena untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Syukurlah ada Kak Soraya, jadi Fathien bisa langsung ditangani," gumam Haneena sambil memijat pelipisnya yang pening.

Alzam kemudian menyodorkan segelas air putih hangat yang sempat disiapkan Soraya tadi.
"Minum dulu. Kamu pasti syok juga liat kejadian tadi," ucap Alzam lembut sambil mengusap rambut adiknya, berusaha menenangkan.

Di dalam kamar tamu, suasana berangsur tenang. Soraya begitu telaten. Ia mengusapkan minyak aromaterapi di pelipis Fathien, memeriksa pernapasan, dan memijat jemari gadis itu.

Hanan berdiri di pojok ruangan, menyandarkan punggungnya ke tembok. Matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Soraya—ia merasa ada yang berbeda di sini.

Beberapa menit berlalu, Fathien mulai mengerang pelan. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit dengan linglung sebelum fokus pada wajah Soraya yang tersenyum sangat tulus.
"Hai, kamu sudah aman. Napas pelan-pelan ya..." bisik Soraya lembut.

Hanan langsung mendekat. "Fat? Lo udah sadar?"

Soraya membantu Fathien duduk bersandar pada bantal, sementara Hanan menyodorkan air hangat. Seketika itu juga, air mata Fathien jatuh tanpa suara. Trauma itu masih segar, mencabik-cabik ketenangannya. Hanan yang tak tega melihat sahabat kembarannya hancur, mencoba menguatkan dengan mengusap pundak kanan Fathien.

Tanpa diduga, Fathien memeluk pinggang Hanan erat, menyembunyikan wajahnya di sana sambil terisak. Hanan membeku, tangan kanannya menggantung di udara karena terkejut. Namun, melihat bahu Fathien yang bergetar hebat, ia akhirnya luluh. Ditambah dengan tatapan Soraya yang seolah berkata "biarkanlah."

Tangannya yang bebas mulai mengusap-usap punggung Fathien dengan kikuk namun penuh empati.

Tak lama, Haneena dan Alzam masuk. Melihat pemandangan itu, Hanan yang merasa canggung perlahan melepaskan diri dan mundur beberapa langkah saat Haneena langsung menghambur memeluk Fathien.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 05 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Fading Melody Where stories live. Discover now