Berkat hallyu wave, Naya pernah terjangkit demam drakor. Saat itu kondisi Naya cukup parah, dia bisa menghabiskan akhir pekan seharian di kamar bertemankan tayangan ulang drama Korea di layar laptop. Kalau lapar, dia cukup memasak ramyeon instan. Jika sedang malas berjibaku di dapur, layanan pesan antar siap sedia menyajikan semangkuk topokki dan sepiring gimbab sebagai kudapan teman menonton. Gejala itu bisa makin menjadi bila yang Naya tonton termasuk ke kategori office romance.
Secara berangsur-angsur Naya membentuk antibodi terhadap virus itu setelah menjalani pelatihan sebagai dokter muda. Namanya juga dokter muda, karena masih muda, jadi harus banyak belajar. Termasuk belajar mengakali sistem di dunia kerja. Meskipun belum bisa lepas secara mandiri menangani pasien, Naya tahu dokter mana saja yang asyik dijadikan teman mengobrol dan mana yang lebih baik diajak berinteraksi secukupnya. Malam ini, Naya beruntung karena mendapat jadwal jaga bersama Julian, dokter UGD yang sudah terbukti paling enak diajak bicara.
Masih menyandang ransel di punggung, Naya mengendap-endap ke balik punggung Julian. Kekasihnya ini serius sekali menerjemahkan hasil EKG pasien ke dalam bentuk laporan pesan singkat. Dengan sabar Naya menunggu hingga Julian mengetuk tombol kirim, lalu tanpa takut-takut gadis itu mengetuk permukaan meja tiga kali.
Julian berjengit di kursinya. "Aku kira siapa."
"Tara!" Naya merentangkan lengan ke samping. "Malam ini aku kebagian jadwal jaga."
Julian melirik jam dinding di balik punggung Naya. "Koas dari mana? Laporan yang benar."
"Ih, Kak Julian." Naya meninju pelan lengan kekasihnya. "Masa lupa? Kemarin lusa, kan, aku sudah kasih kabar dapat bagian rotasi ke rumah sakit ini."
"Kemarin itu kamu kasih kabar ke pacar. Sekarang kasih laporan ke dokter jaga." Julian tersenyum miring sambil bersedekap. "Siapa namanya? Koas apa?"
Naya membaca suasana. Awalnya di balik nurse station ini cuma ada Julian. Para perawat sepertinya sedang bertugas di sisi pasiennya masing-masing. Tidak tahu berapa lama lagi mereka akan kembali, tetapi yang pasti Julian akan berhenti main-main jika ada orang lain datang ke sini.
"Kenapa tegang gitu, sih? Kita nggak backstreet, kan?" Julian berdiri. Telapak tangannya mengusap bahu Naya. "Baru jam 3, kamu cari makan dulu aja. Nanti tasnya bisa ditaruh di ruangan. Kalau ada kasus pasien anak, bakal aku panggil, kita periksa bareng."
"Aku bawa snack bar. Nanti aku bagi ke kamu." Naya mengikuti arahan Julian dan berhenti di depan pintu ruang jaga bersama. "Jaga bareng gini masuk ke genre office romance nggak sih, Kak?"
Kekehan Julian menyingkirkan kekhawatiran yang sempat merayapi hati Naya. "Karena office-nya dokter memang di rumah sakit, berarti termasuk. Kamu mau coba praktik ilmu yang kamu dapat dari nonton drakor?"
"Di drakor lebih banyak yang pacaran diam-diam kalau lagi di kantor, Kak." Naya bisik-bisik. "Lebih menegangkan, lebih asyik."
Julian mengernyit. "Kita nggak bisa selamanya backstreet, dong? Kalau nanti kamu kerja di rumah sakit keluargaku, pasti semuanya bakal langsung tahu hubungan kita."
"Tapi, ini bukan rumah sakit keluarga Kak Julian."
"Berarti kamu maunya tetap backstreet?"
Naya mengangguk. Namun, Julian justru tersenyum getir.
"Suka-suka kamu aja. Aku balik mau cek jawaban konsul."
Apa yang Julian katakan sebagai hubungan backstreet sesungguhnya tidak murni tidak diketahui orang lain. Keluarga kedua pihak sudah saling berkenalan, bahkan sebelum Julian menyatakan perasaan. Hubungan mereka bisa terjalin pun sebagian besar karena ada dukungan dari kakak Naya. Selain keluarga, teman-teman dekat Naya maupun sahabat Julian juga tahu. Hanya saja, meskipun pernah sekampus, hubungan mereka tidak banyak diketahui publik karena baru terjalin setelah Julian lulus dari pendidikan preklinik.
YOU ARE READING
From Rebound to Home
RomanceBreaking news: Naya diputusin! Naya kira hubungannya dengan Julian akan terus mengalir mengalahkan rekor waktu dua tahun. Ternyata tidak. Ketika Naya sedang pusing menjalani kehidupan laksana keset rumah sakit (baca: menjadi Dek Koas), petaka itu da...
