Arian adalah seorang anak berumur 12 tahun, anak ketiga dari tiga bersaudara . Bocah yang baru lulus SD itu kini merengut tak suka saat keluarganya pergi mengunjungi acara teman papanya tapi tidak membawa dirinya. Alasan yang ia tau adalah karena mobil sudah penuh jadi ia tidak bisa dibawa, padahal ia sudah bersiap dengan rapi saat mendengar jika papanya akan pergi menghadiri acara temannya. ia juga sudah bersiap saat melihat kedua kakak laki-lakinya bersiap, padahal Mathias tidak mengatakan apapun padanya yang membuat ia bergegas untuk bersiap.
Arian memiliki inisiatifnya sendiri, ia mencari pakaiannya sendiri, pakaian yang menurutnya terbaik ia kenakan tanpa bantuan siapapun. Mathias pernah mengatakan jika ia sudah besar tidak bisa meminta di gendong atau manja seperti bayi lagi saat umurnya 7 tahun, jadi ia mulai belajar melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan siapapun, ia tidak meminta tolong untuk di bantu tapi para pekerja di rumah besar itu peka, jadi mereka diam-diam mengurus tuan mudanya tanpa Arian sadari.
Kembali pada Arian yang saat ini duduk di sofa ruang tamu setelah Mathias mengatakan dengan nada tak sukanya, mengatakan jika ia tak perlu ikut dengan alasan yang sudah dijelaskan, akhirnya ia duduk sendirian dengan lesu di ruang tamu tersebut, pikirannya berkelana memikirkan, kenapa kedua kakaknya diizinkan ikut sementara dia tidak, apa karena ia yang masih kecil jadinya ia dilarang untuk ikut.
''Adek, ayo tidur.. ini sudah jam 9 malam'' itu bibi Arum, salah satu pekerja yang bertanggung jawab atas Arian, Arian mendongak dengan wajah sedih dan binar yang memancarkan kekecewaannya membuat Bibi Arum tersenyum hangat. Ia berjongkok dihadapan Arian, mengenggam lembut tangan anak berumur 12 tahun itu lembut. ''Kita tidur yok, bibi buatkan susu Strawberry buat adek'' bujuknya, tapi bocah maniak buah bewarna pink itu nampak tak tertarik sama sekali, biasanya Arian akan melompat dengan senang saat ia ditawari buah tersebut. Tapi nampaknya kekecewaan Arian begitu luar biasa membuat ia hanya menundukkan kepalanya sambil mengelus tangan bibi Arum yang memegangnya.
''Bibi'' Panggil Arian lesu.
''Kenapa papa bilang Arian tidak bisa ikut, padahal Arian sudah siap'' ucapnya dengan nada kecil.
Maka untuk menjawabnya peretanyaan agar tidak menyakiti tuan kecilnya bibi Arum terpaksa berbohong. ''Bukan tidak mengajak, tapi Adek harus tidur jam 10 nanti, adek kan mau bermain ditaman besok, adek lupa?'' Arian mengerjapkan matanya beberapa kali membuat Bibi Arum tersenyum. ''Jadi Arian harus tidur ya biar besok tidak terlambat ke taman nya?'' tanya Arian lagi. ''Tentu saja, jika Arian mengikuti tuan besar otomatis Arian akan pulang jam 12 malam, Arian mau?'' dengan cepat ia menggeleng keras. Alasan Arian menggeleng kuat adalah jika ia tidak tidur tepat waktu maka jam tidurnya akan berantakan, jika sudah seperti itu maka ia pasti rewel. Pernah sekali saat ia berumur 8 tahun, waktu itu ia tidak tidur siang tapi saat sore hari ia baru tidur, alhasil ia bergadang semalaman Bibi Aria harus menemaninya. Alhasil keesokannya ia rewel karena tidak bisa tidur. Akibat rewelnya, Mathias memarahinya, membentaknya dengan kasar dan suaranya yang keras, mengatakan jika ingin menangis maka menangislah diluar. sejak saat itu ia tidak mau lagi mrmbuat papanya marah, ia takut. ''Kalau begitu sudah tau kan kenapa tuan tidak membawa Arian?''
''Sudah bibi, untung bibi memberitahu Arian alasan papa tidak membawa Arian, atau Arian akan sedih sangat lama''
''Karena sudah tidak bersedih lagi, sekarang bersiap untuk tidur oke''
''okee!!''
''Tapi bibi bantu Arian ya'' bibi Arum mengangguk mengerti, ia menggandeng tangan kecil Arian sambil membawa gelas bergambar pelangi milik Arian.
Arian bukan anak yang manja seperti anak umumnya yang seumuran dengannya, Dari kecil Arian selalu merasa sendiri, kedua kakaknya tidak mau diajak bermain, begitupun papanya, saat ia mendekat membawa mainan-mainannya, baik kakak maupun papanya langsung berlalu pergi membuat ia menatap bingung punggung tegap yang berjalan menjauh. Lalu di waktu yang bersamaan seorang maid mengatakan jika kakak dan papanya sibuk jadia ia tidak bisa diajak bermain. sekali dua kali Arian mengerti, tapi semakin lama ia mulai jarang mengajak lagi sampai sekarang.
Arian tumbuh sendirian dengan 3 maid yang membantunya ini itu, bahkan untuk membaca dan menulis ia dibantu oleh maid secara bergantian. ia tidak pernah terlihat di rumah besar itu, papa dan kedua kakanya akan terus berjalan melewatinya dan bahkan mengabaikan suaranya.
Arian tidak pernah bertanya mengapa ia diperlakukan seperti ini, padahal umurnya sudah 12 tahun, sudah cukup besar untuk mengetahui sesuatu yang mungkin seharusnya tak ia ketahui. tapi ia memilih diam dan terus berpikir jika mereka semua memang sibuk dan ia tidak boleh menganggu.
Pagi saat sarapan dimulai, Arian sudah mandi dan wangi, aroma parfum vanilla yang manis dengan sampo rasa buah yang segar membuat siapapun ingin memeluk dan menciuminya.
Saat ia menuruni anak tangga dengan cepat, ia melewati meja makan dimana papa dan kedua kakanya tengah sarapan. aroma nya membuat ketiga orang dewasa itu menghentikan suapannya dan menoleh pada Arian yang berlari dengan semangat memasuki dapur,
''Bibi, Arian mau dibuatkan bekal roti bakar keju, buah strawberry sama air putih ya, tapi tidak dingin, minum air dingin pagi-pagi kan tidak sehat'' ucapnya membuat beberapa pekerja yang berada didapur tersenyum gemas. Mereka ingin memeluk Arian dan menciuminya, namun tertahan karena mereka sudah berada di dapur saat matahari masih gelap yang otomatis mereka berbau asap.
''Adek tidak mau sarapan dirumah saja?'' itu bibi Ririn bertanya sambil berjongkok menyamakan tinggi Arian yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa.
''Nanti kalau Arian sarapan di rumah Arian terlambat ke tamannya. Alio sudah menunggu Arian bibi'' balas Arian. ''Tunggu sebentar ya, bibi siapkan, adek mau minum susu dulu sambil menunggu ?'' tanya bibi Arum dan Arian menjawabnya dengan gelengan kepala. Arian berbalik, melihat papa dan kedua kakaknya sedang sarapan ia lantas mendekat dengan senyum lebarnya, lalu duduk disebelah Calvin Galtero Smith, kakak pertamanya. Arian memperhatikan keluarganya dengan seksama. Ini hari sabtu tapi keluarganya sudah berpakaian begitu rapi.
''Papa, Arian mau main ke taman ya'' ucapnya, dan Mathias hanya meliriknya sekilas tanpa memberikan jawabannya. Arian tidak sedih, ia sudah biasa. Papanya jarang membalas perkataannya dan ia tak mempermasalahkan bagaimana papanya dalam menyikapi. Lalu Arian beralih pada kakaknya Calvin dan Charles yang nampak santai dalam memakan makananya.
''Papa-'' belom selesai Arian berbicara Mathias sudah bangun dari duduknya dan berlalu pergi dan Arian hanya bisa menatapnya bingung. ''Abang, Arian mau minta uang, Arian mau beli permen kapas sama Alio'' ucapnya pada Calvin namun lagi-lagi Calvin tak meresponnya seperti biasa. ''Ab-'' dan sebuah lemparan kertas mengarah padanya, saat ia menunduk ternyata itu uang 50an yang beberapa lembar berserakan dilantai. Arian mendongak melihat Charles yang baru saja meletakkan dompetnya diatas meja dan menatapnya datar.
''Kau memerlukan uang ?'' tanyanya, suaranya begitu rendah, Arian tak mengerti mengapa nada bicara Charles begitu padanya dan Calvin yang terlihat tak perduli. ''Ambil itu anak haram'' ucap Charles, lalu ia pergi dengan santai setelah mengatakan sesuatu yang sedikitnya menyakiti Arian. Arian menunduk lalu mengambil beberapa lembaran bewarna biru tersebut, 300 ribu. ''Padahal kan bisa tidak perlu dilempar, Arian kan cuma minta uang, kenapa abang harus ngomong kalau Arian anak haram, memangnya kalau Arian anak haram harus diperlakukan seperti ini ya'' gumam Arian pelan, sangat pelan tapi Calvin yang posisinya ada di sebelahnya sedikitnya mendengar ucapan kecil itu, Dan lagi-lagi ia memilih diam.
Yang tidak Arian ketahui adalah selama ini bahwa ia adalah anak dari selingkuhan mamanya sendiri. benar, Naraya ibu Arian melakukan pengkhianatan dibelakang Mathias hingga Arian muncul. Naraya tidak ingin merawat anak hasil dari perselingkuhan yang ia sendiri tidak tau siapa ayahnya, jadi ia meninggalkan Arian dirumah itu sendirian dan ia melanjutkan kehidupannya. Sayangnya Mathias tak tau jika selama ini mantan istrinya mengandung anak dari hasil perselingkuhannya, ia baru tau saat Arian berusia 2 tahun, saat mantan istrinya meminta harta gono gini dan mengatakan kebohongan yang ia simpan selama ini, setelahnya seperti yang kita tau, Mathias mulai risih melihat Arian atau mendapati Arian berada disekitarnya. ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika Arian berumur 18 tahun maka Arian harus pergi dari rumah ini suka tidak suka. Bukan tugasnya merawat anak yang bukan dari darah daginganya, itu sudah keputusannya. Ia sudah berbaik hati mau menampung anak itu dari lahir sampai sekarang.
Itulah alasan dari sikapnya selama ini, hingga waktunya tiba, Arian harus tau kebenaran ini suatu saat nanti bahwa ia bukanlah anak kandung Mathias Smith. Dan tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Smith.
YOU ARE READING
Arian
Non-FictionBrothership // Bromance Arian adalah sebuah dosa yang seharusnya Mathias hapus sejak dulu, saat ia mengetahui sebuah fakta dari mantan istrinya beberapa tahun yang lalu. bukannya membiarkan anak itu tinggal didekatnya. Seharusnya Mathias tak pernah...
