PROLOG

3.6K 142 10
                                        

_
_
_

Aku benci suara petir. Aku benci hujan.
Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Setiap kali langit mulai menggelap dan angin membawa bau tanah basah, tubuhku langsung bereaksi seolah-olah sedang menghadapi sesuatu yang mengerikan.

Dadaku menegang, tenggorokanku terasa kering. Bahkan sebelum tetes pertama hujan jatuh, aku sudah tahu malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Tubuhku bergetar setiap kali mendengar dentingan air yang menghantam atap rumah.

Suara itu seperti jarum kecil yang menusuk kepalaku tanpa henti.
Napasku mendadak sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dadaku kuat-kuat. Kepalaku berdenyut hebat, seakan ingin meledak dari dalam. Aku mencoba menutup telingaku dengan kedua tangan, tapi tetap saja suara hujan itu merembes masuk, menyelinap ke dalam pikiranku.

Selalu seperti ini setiap tahun.

Ding… Dong…

Suara itu kembali terdengar. Bunyi jam dinding tua yang tergantung di ruang tamu. Dentingannya pelan, tapi di telingaku terdengar seperti palu yang menghantam tengkorakku.

“BRENGSEK!!”

Tanganku meraih benda pertama yang ada di dekatku dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah jam sialan itu.

Prangg!!

Benda itu menghantam dinding dan pecah berkeping-keping di lantai. Namun jam dinding klasik itu tetap menggantung di sana dengan tenang, seolah sengaja mengejekku. Jarumnya terus bergerak. Dentingannya terus berbunyi.

Sial!

Aku sudah berkali-kali mencoba menghancurkan benda laknat itu. Melemparnya, menjatuhkannya, bahkan pernah memukulnya dengan kursi. Tapi entah bagaimana, jam itu selalu kembali utuh seperti sebelumnya.
Seakan-akan benda itu memang ditakdirkan untuk terus berdetak di rumah ini… mengingatkanku pada sesuatu yang ingin kulupakan.

Ding… Dong…

Suara itu kembali terdengar. Aku menutup mata rapat-rapat dan menarik napas dalam-dalam, meski rasanya paru-paruku menolak bekerja sama.

Aku tidak suka kegelapan. Kegelapan selalu membuatku merasa seperti sedang terjebak di dalam lubang tanpa dasar, tanpa cahaya, tanpa jalan keluar.

Tapi anehnya… aku justru merasa paling aman di dalamnya. Di tempat gelap, tidak ada yang bisa melihat wajahku. Tidak ada yang bisa melihat bagaimana tubuhku gemetar seperti orang gila. Tidak ada yang mendengar napasku yang terengah-engah.

Di dalam kegelapan, aku bisa memeluk tubuhku sendiri. Aku bisa meringkuk di sudut ruangan, menekan lututku ke dada, dan berpura-pura bahwa dunia di luar sana tidak ada.

Bahwa suara hujan itu tidak nyata. Bahwa malam ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika matahari terbit.

Namun jauh di dalam hatiku, aku tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Karena rasa sakit ini… selalu datang kembali. Setiap tahun, pada malam yang sama. Seolah-olah ada sesuatu yang sengaja mengingatkanku. Sesuatu yang perlahan-lahan menggerogoti pikiranku… seakan ingin membunuh jiwaku sedikit demi sedikit. Dan aku tidak bisa menghentikannya.

 Dan aku tidak bisa menghentikannya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
FAKE MASK [TAMAT]Stories to obsess over. Discover now