prolog and introduction

60 3 2
                                        

Kata mama-anak sulung harus sabar dan harus memberikan contoh pada adiknya

Burung-burung berkicau riang, menyanyikan melodi alam yang merdu di halaman belakang rumah kakek. Aroma tanah basah dari sawah menari-nari mengelilingi udara, bergandengan dengan cahaya matahari pagi yang bersinar terang, menciptakan suasana yang benar-benar indah dan menakjubkan. Namun, keindahan itu seolah tak mampu menembus pikiran Arya yang sedang duduk termenung di sudut gubuk sawah.

Sesekali, Arya melempar batu ke arah sawah. Ia mendengus kesal, wajahnya yang tampan kini penuh luka lebam, dan baju yang dikenakannya kotor berlumur tanah. Benar-benar pemandangan yang kontras dengan suasana pagi yang tenang.

"Arya...? Kok sendirian?"
Sebuah suara lembut, tenang, namun tegas memecah lamunan Arya. Matanya membelalak kaget, menatap ke sumber suara. Sang kakek menghampirinya dengan senyuman tulus yang terpatri di wajah tuanya. Postur tubuhnya yang cukup bungkuk mengharuskannya memakai tongkat untuk membantu berjalan, namun tatapannya tetap meneduhkan.

Arya langsung cemberut, bibirnya dimajukan beberapa senti. Jelas sekali ia sedang kesel luar biasa.

"Teman teman kompleks pada gak mau temanan sama Arya kek.." jawab Arya jujur, suaranya parau menahan kekesalan.
Mendengar aduan cucunya, sang kakek ikut duduk di sampingnya, mengelus kepala Arya dengan penuh kasih sayang.

"Mereka ninggalin Arya waktu jatuh di sawah..." gerutu Arya lagi, menumpahkan kekesalannya.


Kakek tersenyum kecil, membetulkan posisi duduknya sambil menepuk-nepuk pundak Arya. "Dulu, Kakek juga pernah kok. Waktu seumur kamu, Kakek pernah jatuh dari pohon jambu dan teman-teman malah ninggalin Kakek," cerita Kakek mengenang masa lalunya.

Mendengar itu, Arya langsung menatap sang kakek yang berada di sampingnya dengan tatapan tidak percaya. "Beneran Kek? Kok-mereka gak mau temenan sama Kakek?" ucap Arya polos, membayangkan kakeknya yang gagah pernah sedih sendirian.

Pertanyaan polos itu membuat Kakek tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit. "Ya begitulah namanya pertemanan anak-anak, ya. Kadang nakal, tapi besoknya main bareng lagi. Yang penting, kamu gak boleh sedih terus. Nanti wajah tampan nya hilang loh!" Seru kakek memberi semangat,

Arya, yang sedari tadi cemberut, perlahan mengubah ekspresinya setelah mendengar cerita sang kakek. Senyum tipis mulai terukir di wajahnya.

"Nah gitu dong, cucu kakek harus tersenyum, jadi tambah ganteng," ujar sang kakek dengan senyum lebar, sembari memberikan gestur jempol kepada Arya.

Kakek menatap cucunya dengan penuh kasih, lalu berucap lagi, "Kuncinya itu harus bersabar! Ya?" Arya pun mengangguk-angguk paham, meresapi makna kalimat tersebut.

Angin sepoi-sepoi pagi itu mengayun lembut hamparan padi yang mulai menguning, menciptakan aroma khas pedesaan yang menenangkan. Mereka kembali menikmati keindahan alam tersebut, duduk santai di gubuk kecil di tengah sawah yang begitu indah.

"Mau ikut kakek?" sahut kakek tiba-tiba, memecah keheningan pagi dan membuat Arya kecil menatap penasaran ke arah sang kakek.

"Ke mana, Kek?" tanya Arya dengan mata berbinar.

"Pancing ikan di pinggir sungai," jawab kakek sembari berdiri dari duduknya, merapikan baju koko putihnya yang sedikit lusuh.

Mendengar tawaran menarik tersebut, Arya yang tadinya duduk santai langsung berdiri dengan bersemangat. "Ikut! Ikut, Kek!" serunya gembira, tak sabar ingin segera memegang pancing bambu dan menikmati petualangan pagi di pinggir sungai bersama kakek.

Panglima Soft Spoken Where stories live. Discover now