Namaku Galen. Aku kelas 10 SMA. Umurku masih enam belas, angka yang katanya masih terlalu muda untuk merasa tertinggal. Orang-orang sering bilang, “Kamu masih punya banyak waktu.” Tapi entah kenapa, setiap kali aku mendengar kalimat itu, yang kurasakan justru sebaliknya seperti aku sudah terlalu lambat memulai sesuatu yang bahkan belum ku pahami sepenuhnya.
Tinggi badanku biasa saja, tidak pendek, tidak tinggi. Wajahku juga biasa saja, tipe wajah yang tidak akan langsung diingat kalau tidak menyapa lebih dulu. Aku bukan anak yang pernah dipanggil ke depan lapangan saat upacara untuk menerima penghargaan. Namaku tidak pernah terdengar dari pengeras suara sekolah dengan nada bangga. Tidak ada prestasi yang bisa ditulis dengan huruf tebal di papan pengumuman. Tidak ada bakat yang membuat orang berbisik kagum.
Kalau ada yang bisa disebut ciri khas dariku, mungkin hanya jaket abu-abu yang selalu kupakai, bahkan saat matahari terasa membakar kulit. Entah kenapa aku merasa lebih aman saat memakainya, seolah-olah kain itu bisa menahan sedikit dunia luar agar tidak terlalu dekat. Rambutku jarang rapi. Bukan karena tidak bisa dirapikan, tapi karena aku tidak pernah benar-benar peduli untuk berdiri lebih lama di depan cermin. Kadang aku berpikir, untuk apa terlihat rapi kalau tetap tidak ada yang benar-benar memperhatikan?
Di kota kecil ini, orang-orang lebih mudah mengenali jaket abu-abuku daripada mengenal isi kepalaku. Abu-abu yang tidak hitam, tidak juga putih warna yang berada di tengah, seperti posisiku di kelas, seperti nilaiku. Hampir setiap hari aku memakainya, seolah-olah kain itu bisa menyembunyikan hal-hal yang tidak ingin kulihat kan. Kainnya cukup tebal untuk menahan angin sore, tapi tidak cukup tebal untuk benar-benar melindungi ku dari dunia luar. Entah sejak kapan jaket itu seperti jadi identitasku, lebih mudah diingat daripada namaku sendiri.
Jaket itu bukan sekadar abu-abu polos. Di bagian pergelangan tangannya ada sedikit benang yang mulai berbulu, bekas terlalu sering ku cuci dan kupakai bergantian hampir tanpa jeda. Resletingnya kadang macet di tengah, dan aku harus menariknya pelan-pelan sambil menahan napas, takut giginya copot satu lagi. Di bagian dalamnya ada saku kecil yang jarang orang tahu, tempat aku biasa menyelipkan kertas-kertas kecil berisi daftar mimpi yang ku tulis diam-diam. Mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kota ini, terlalu asing untuk dibicarakan di kelas yang lebih sering membahas rangking daripada kemungkinan.
Kadang aku membayangkan suatu hari nanti orang-orang tidak lagi mengenaliku dari jaket abu-abu ini. Mereka mungkin akan mengenalku dari sesuatu yang ku buat, dari karya yang ku taruh diam-diam di internet, dari keberanian yang dulu hanya ku tulis di kertas kecil dalam saku tersembunyi itu. Tapi bayangan itu sering terasa jauh, seperti melihat lampu kota dari balik bukit terlihat indah, tapi tidak tahu jalan pastinya ke sana.
Dan tetap saja, setiap pagi, aku mengenakan jaket itu lagi. Bukan karena aku ingin bersembunyi sepenuhnya, tapi mungkin karena aku belum siap dilihat tanpa lapisan apa pun. Jaket abu-abu itu menjadi saksi bagaimana aku berjalan pelan-pelan tidak mencolok, tidak meledak, hanya bertahan. Dan mungkin, di antara abu-abu yang tidak hitam dan tidak putih itu, ada ruang kecil untuk berubah. Ruang kecil yang suatu hari nanti bisa ku jadikan awal dari sesuatu yang lebih terang.
Lucu ya, kain usang ini lebih dikenal daripada suaraku sendiri.
Tapi mungkin memang begitu. Tidak ada yang benar-benar ingin tahu apa yang sedang kupikirkan. Dan sejujurnya, aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kalau ada yang bertanya.
Katanya masa SMA adalah masa mencari jati diri, masa eksplorasi, masa mencoba ini dan itu. Tapi aku bahkan belum selesai mengenal siapa diriku sebenarnya. Aku tahu apa yang kusukai, tapi aku tidak tahu apakah itu cukup untuk masa depanku.
Siang hari di kota ini selalu terasa terlalu terang, seolah matahari sengaja turun lebih dekat dari seharusnya. Atap-atap seng rumah memantulkan panas yang menyilaukan. Udara lengket, menempel di kulit dan membuat seragam terasa berat. Sekolahku berdiri tak jauh dari pasar, jadi dari kelas kadang masih terdengar suara pedagang yang menawarkan dagangan, suara plastik kresek, dan sesekali aroma ikan asin yang terbawa angin bercampur dengan bau bensin kendaraan yang lalu lalang.
YOU ARE READING
Overpressure
General FictionSebuah kisah slice of life tentang remaja laki-laki di kota kecil yang hidup dalam posisi "abu-abu" tidak menonjol, tidak tertinggal, tapi selalu merasa kurang. Di balik jaket abu-abunya, ia terus menekan dirinya sendiri dalam hampir segala hal nil...
