BAB 1 . Warisan Luka Yang Tak Diinginkan

950 45 2
                                        

☆ ۪ ׂ ︶︶ ─── ✦ ─── ︶︶ ׂ ۪ ☆

[27/02/2008]

Koridor rumah sakit itu bergema oleh suara langkah kaki yang tergesa. Fahri Alvaro menggenggam erat tangan istrinya, Sarah, yang terbaring di atas brankar yang didorong cepat menuju ruang persalinan.

Wajah Fahri pias, keringat dingin membasahi pelipisnya, namun mulutnya tak berhenti membisikkan doa.

"Bertahan, Sayang. Demi Allah, bertahanlah. Kamu kuat," bisik Fahri, suaranya bergetar.
Di belakang mereka, Alrian, bocah sepuluh tahun itu, berlari kecil berusaha menyamai langkah sang ayah.

Wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa, namun ada binar harapan di matanya. Ia sudah lama menantikan kehadiran seorang adik.

Sarah meringis, tenaganya terkuras habis, namun ia sempat menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelelahan. "Fahri... jika nanti dia lahir... beri dia nama yang gagah. Alexander... Alexander Alvaro. Aku ingin dia menjadi pelindung, seperti artinya..."

Fahri mengangguk cepat, air mata mulai menggenang. "Iya, Sayang. Alexander Alvaro. Nama yang indah. Kita akan membesarkannya bersama-sama. Sekarang, fokuslah pada napasmu."

Lampu ruang operasi menyala merah. Fahri dan Alrian tertahan di luar. Di dalam sana, perjuangan antara hidup dan mati dimulai.
Puncak Kebahagiaan yang Singkat
Satu jam kemudian, tangis bayi pecah, membelah kesunyian koridor. Fahri tersimpuh, mengucap hamdalah berkali-kali.

Tak lama, seorang dokter keluar dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Selamat, Pak Fahri. Putranya lahir dengan selamat. Ibu Sarah sedang dalam masa pemulihan, kondisinya stabil untuk saat ini."

Momen itu adalah puncak kebahagiaan. Fahri diizinkan masuk untuk melihat Sarah yang tampak pucat namun bercahaya setelah melihat bayi mungil di pelukannya. Alrian pun ikut mendekat, menyentuh jari adiknya dengan penuh kekaguman.

"Lihat, Yah. Xander tampan sekali," bisik Alrian riang.
Sarah mencium kening bayinya dengan sisa tenaga yang ada.

"Jadilah anak yang saleh, Alexander..."
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap mata. Tiba-tiba, alarm pada mesin monitor jantung berbunyi nyaring. Ritmenya kacau. Wajah Sarah mendadak membiru, ia tampak tercekik, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

"Dokter! Suster!" teriak Fahri histeris.
Petugas medis berhamburan masuk, memaksa Fahri dan Alrian keluar. Melalui celah pintu yang mulai tertutup, Alrian melihat ibunya kejang, sementara bayi kecil itu terus menangis di dalam boks, tidak menyadari bahwa keberadaannya baru saja memicu badai yang akan menghancurkan hidupnya.

Dua jam kemudian, dokter keluar dengan kepala tertunduk. Tidak ada kata-kata. Hanya gelengan lemah yang bermakna kematian.

I. Hati yang Membatu

Kini, ruang rawat inap kelas VVIP itu tidak terasa seperti tempat menyambut kehidupan baru.

Udara di sana terasa berat, sesak oleh aroma disinfektan dan sisa-isa kesedihan yang belum menguap.

Fahri Alvaro berdiri mematung di depan jendela besar, membelakangi boks bayi tersebut. Ia tidak menoleh sedikit pun, seolah suara tangis lirih dari bayi itu adalah duri yang menusuk gendang telinganya.

"Ayah..." Suara Alrian terdengar serak di ambang pintu.

Matanya sembap, seluruh binar harapan di wajahnya telah padam, digantikan oleh kegelapan yang pekat.

Fahri tidak menjawab. Ia tetap menatap kosong ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Alrian: "Kenapa anak itu masih bernapas, Yah? Sementara Ibu... Ibu sudah dingin di sana. Kenapa Allah mengambil Ibu dan membiarkan dia tetap di sini?"

Pertanyaan itu mencerminkan racun yang mulai menyebar di hati Alrian. Fahri akhirnya berbalik. Wajahnya keras, matanya kering seolah air matanya sudah habis terbakar amarah.

Fahri: "Dokter bilang dia mewarisi kondisi langka itu dari ibumu, Alrian. Penyakit yang selama ini tertidur di tubuh ibumu terbangun karena kehadirannya. Dia hidup dengan cara merenggut seluruh sisa napas ibumu. Dia mencuri cahaya rumah kita."

Alrian melangkah mendekat ke arah boks bayi. Ia menatap adiknya dari balik kaca dengan tatapan yang sangat dingin, jauh dari tatapan kagum yang ia tunjukkan beberapa jam lalu.

Alrian: "Lihat dia, Yah. Dia tampak sangat tenang setelah menghancurkan segalanya. Ibu pergi karena dia. Seharusnya dia tidak perlu bangun untuk melihat dunia ini. Dia pembunuh, bukan?"

Fahri menghela napas panjang, sebuah hembusan yang sarat akan kepahitan dan penolakan. Ia berjalan melewati boks itu tanpa memberikan satu lirikan pun pada bayi yang sedang berjuang di dalamnya. Kehangatan seorang ayah telah mati bersama istrinya.

Fahri: "Dia bukan anugerah untuk keluarga ini, Al. Dia hanyalah pengingat abadi bahwa kebahagiaan kita sudah mati. Mulai hari ini, jangan pernah anggap dia bagian dari kita. Dia hanya 'beban' yang terpaksa kita bawa."

Di dalam boks kaca itu, Alexander kecil menggeliat. Jemari mungilnya menggapai udara kosong-mencari kehangatan yang tak akan pernah ia dapatkan dari orang-orang di ruangan itu. Ia adalah makhluk paling murni di sana, namun ia sudah dijatuhi hukuman atas dosa yang tidak pernah ia lakukan. Sebutan "pelindung" yang diinginkan ibunya, kini berubah menjadi sebutan "pembawa petaka" di mata ayah dan kakaknya sendiri.

To be continued...

☆ ۪ ׂ ︶︶ ─── ✦ ─── ︶︶ ׂ ۪ ☆

Hilang Nya Keindahan Di Dasar Samudra Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora