[Malam setelah Kinanthi pergi ke Tabanan]
"Orang-orang percaya bahwa angin bukan sekadar udara yang berpindah. Ia adalah pembawa pesan yang paling tabah. Namun, terkadang, angin adalah pencuri yang paling licik. Ia membawa aroma tubuhnya, tawanya yang setipis benang, lalu menghilangkannya di antara deburan ombak Pantai Nusa Dua.
Namaku Aruna. Dan di depanku, ada Kinanthi-perempuan yang seolah diciptakan semesta dari serpihan cahaya fajar dan sisa sunyi malam hari.
Kami adalah dua orang yang merasa asing di tanah ini. Aku datang dari dinginnya Kintamani, dan dia dari rimbunnya Selemadeg. Kami bertemu di sebuah gang sempit perempatan kampus, tempat kos-kosan kami saling berhadapan-seperti dua pasang mata yang ingin menyapa, namun terhalang ragu.
'Aruna,' panggilnya suatu sore, saat ia menjemur kain kebayanya di balkon lantai dua. 'Kamu tahu kenapa laut tidak pernah bosan memeluk pantai, padahal ia tahu akan dipaksa surut lagi?'
Aku yang sedang sibuk dengan penggaris siku dan maket arsitektur di teras bawah, hanya menoleh. Menatap matanya yang serupa telaga tenang. 'Kenapa, Nan?'
'Karena bagi laut, pelukan itu satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia pernah ada. Meski hanya sebentar. Meski nanti hilang lagi.'
Saat itu, aku tidak paham. Aku hanya menganggapnya mahasiswi sastra yang terlalu banyak meminum diksi. Aku tidak tahu bahwa kalimat itu adalah sebuah peringatan. Bahwa Kinanthi adalah Anila-angin yang datang untuk memelukku sebentar, namun takdir tak pernah mengizinkannya untuk sampai ke pelabuhanku.
Kini, di bawah langit malam Nusa Dua yang menyisakan sedikit bintang, aku berdiri di bibir pantai yang sama. Sendirian. Merasakan angin yang menerpa wajahku-angin yang sama yang dulu pernah menyentuh rambutnya.
Aku sadar, melupakannya adalah rencana yang paling mustahil. Karena di setiap jengkal kota ini, ada percakapan kita yang masih tertinggal di udara."
❯❯❯❯
KAMU SEDANG MEMBACA
Anila yang Tak Lagi Sampai
Poetry"Kamu tahu kenapa laut tidak pernah bosan memeluk pantai, padahal ia tahu akan dipaksa surut lagi?" Kinanthi bertanya itu di pertemuan pertama mereka. Aruna tidak paham waktu itu. Ia baru mengerti jawabannya setelah terlambat.
