1

161 8 0
                                        

^_^HAPPY READING ALL^_^

AWAS TYPO✋🚫⁉️😵

Langit pagi itu tampak mendung ketika ia tiba di pemakaman. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut membawa kabar duka yang masih sulit ia terima. Ia melangkah pelan menyusuri jalan setapak, melewati deretan batu nisan yang berdiri sunyi.

Orang-orang berkumpul dengan wajah tertunduk. Tidak banyak percakapan terdengar, hanya isak tangis yang tertahan dan suara angin yang menggerakkan dedaunan. Ia berdiri di antara mereka, mencoba terlihat tegar, meski hatinya terasa rapuh.

Di hadapannya, tanah yang baru digali masih tampak basah. Bunga-bunga tersusun rapi di samping pusara. Ketika doa mulai dilantunkan, ia ikut menundukkan kepala. Setiap kalimat doa terdengar pelan namun penuh makna, menggema di dalam keheningan pagi itu.

Kenangan-kenangan tentang sosok yang telah pergi tiba-tiba hadir dalam benaknya-senyum yang menenangkan, tawa yang hangat, dan nasihat yang dulu sering ia dengar. Air matanya perlahan jatuh, meski ia berusaha menahannya.
Satu per satu pelayat maju menaburkan bunga. Saat gilirannya tiba, tangannya sedikit gemetar. Ia menaburkan bunga dengan hati-hati, lalu berdiam sejenak, seolah menyampaikan kata-kata terakhir dalam hati.

Setelah prosesi selesai, ia tidak segera pergi. Ia tetap berdiri memandangi pusara itu, membiarkan waktu berjalan perlahan. Di tengah kesedihan yang masih menyelimuti, ia mulai merasakan secercah ketenangan-bahwa meski perpisahan terasa berat, kenangan akan tetap hidup di dalam hatinya.

"Nak, ayo kita pulang sayang" ucap wanita yang berperan sebagai 'ibu' dikehidupan nya ini.

"Udah ya nak, jangan nangis terus nanti kakeknya ikut sedih kalo kamu nangis terus" ayahnya pun ikut menenangkan sang anak yang sepertinya masih terpukul karena kepergian kakek tercintanya.

"Bu, yah, kalo aku ikut ke jakarta lagi nanti siapa yang pake rumah kakek? kakek ga suka kalo rumahnya sepi bu, yah" ucap lelaki yang sekarang baru saja menyelesaikan ujian untuk kenaikan kelas ke kelas 11.

"Nanti rumahnya ditinggal sama bibi kamu sayang jadi kamu ga usah khawatir, udah ayo kita pulang dulu beres-beresin barang kamu nanti ayah kamu mau ngurusin pindahan sekolah kamu" si ibupun akhirnya berhasil mengajak anaknya untuk pulang dari pemakaman tersebut, mereka ber3 pun pulang ke rumah kakek si anak lelaki itu yang baru saja pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

Sesampainya di rumah kakeknya si anak lelaki itu langsung mengemasi barang-barangnya karena dia akan kembali ke jakarta karena di sini -bandung- ia sudah tidak ada kakeknya lagi.

Varen, VARENO SHANKARA yang biasa di panggil VAREN itu putra tunggal dari pasangan suami istri ADENO XAQUILE yang biasa di panggil ADEN dan ARABELLA yang bisanya di panggil BELLA.

Varen awalnya tinggal di jakarta tapi, ia pindah ke bandung saat kelas 8 smp karena ayahnya yang diperintahkan oleh kakeknya untuk membantu mengelola perusahaan kakeknya yang bangkrut karena paman varen, varen rasa itu akan lama jadi, ia meminta untuk ikut ikut pindah ke bandung bersama orang tuanya dan juga varen pidah sekolah ke tempatnya sekarang.

Orang tua varen hanya tinggal di bandung sampai varen lulus smp tetapi varen tidak ikut kembali ke jakarta saat itu karena ia ingin melanjutkan SMA di bandung dan ingin tinggal menemani kakeknya. Dan sekarang varen sudah mau memulai kelas 11 tetapi ia harus kembali pindah ke jakarta karena sekarang kakeknya sudah tidak ada, sebenarnya varen tidak ingin kembali ke jakarta karena alasan tertentu dan jika ia boleh tinggal bersama bibinya mungkin ia ingin tinggal, tetapi ibu dan ayahnya tidak memperbolehkannya karena takut merepotkan bibi dan pamannya.

Dan untuk perusahaan kakeknya yang hampir bangkrut itu sekarang dikendalikan oleh suami bibinya yang sekarang tinggal di rumah kakeknya.

Varen sudah selesai mengemasi barang-barangnya dan sekarang ia sedang memandangi sebuah bingkai poto yang dimana itu adalah poto dirinya bersama seseorang.

"Kita bakalan ketemu lagi, apa dia masih inget gua? apa dia benci gua? apa dia mau ketemu gua lagi setelah apa yang sudah terjadi?" semua pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepala varen, siapa seseorang yang membuat varen berpikir keras itu? apakah ia sangat penting dihidup varen? entahlah mungkin hanya varen yang tau apakah ia penting atau tidak sama sekali.

_______________^^_______________

Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya varen dan kedua orang tuanya sampai di rumahnya -jakarta- saat ini varen sedang merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah lama ia tinggal.

"Apa dia masih tinggal di rumah nya yang dulu?" tanya varen pada dirinya sendiri, kenapa ia terus memikirkan si 'dia' itu?

"Huh, kenapa siiihhh harus inget dia lagiiii?? gua kan udah berusaha buat lupain diaaaa huhuhuuu" kenapa harus tinggal di rumah ini lagi? kenapa tidak pindah rumah saja? ya tidak apa-apa jika bukan di bandung asalkan JANGAN di komplek ini, pikir varen.

"Gimana kalo gua satu sekolah sama dia lagi? gua ga mau ketemu dia setiap hari anjir GUA GA MAUUU" membayangkannya saja varen sudah sangat frustasi jika setiap hari bertemu 'dia'.

"Dah lah gua cape gua mau tidur, semoga aja gua ga satu sekolah sama dia" ya tuhan ayolah kali ini saja berpihak padaku, pikir varen.

Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri akhirnya varen pun bisa memejamkan matanya dan tertidur lelap. Varen harus tidur dengan cukup untuk menjalani aktivitas besok di sekolah barunya.

_______________^^_______________

Sekian dari saya, pamit undur diri 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
segini dulu ya best😽😽 nanti lanjut lagi yang lebih panjang 😌😌 zorry kalo ada typo😉😉 janlup votmen nya ya manizz😉😌😽😋

UP SESUAI MOOD AUTHOR

Ex? (BxB) Where stories live. Discover now