Prolog-

347 47 1
                                        

Happy Reading
[Zyruvie Elnathenz]

--

Dunia tidak selalu menyambut tamu barunya dengan hamparan karpet merah. Terkadang, ia menyambut dengan sunyi yang mencekam dan aroma antiseptik yang tajam.

Di sebuah gang sempit pinggiran kota yang diguyur hujan deras, seorang lelaki ambruk dengan napas tersengal.

Jaket hitamnya sudah basah kuyup, bukan hanya oleh air, tapi juga oleh darah yang merembes dari luka di perutnya. Dia adalah salah satu pion dalam papan catur gelap dunia mafia—seorang bawahan yang hanya ingin pulang.

Matanya yang mulai meredup menatap langit malam. Di kejauhan, ia membayangkan istrinya yang saat ini sedang bertaruh nyawa di bangsal rumah sakit.

"Maafkan aku... kumohon, biarkan dia melihat dunia yang lebih terang dariku," bisiknya dalam hati.

Tak ada suara, hanya doa yang terputus bersamaan dengan napas terakhirnya yang menguap di udara dingin. Ia pergi tanpa pernah tahu warna mata putranya.

Sementara itu, suasana di ruang bersalin tak kalah tegangnya. Suara monitor jantung berbunyi ritmis, memecah kesunyian malam yang mencekam.

"Sedikit lagi, Bu... dorong sedikit lagi!" seru perawat dengan nada menyemangati.

Wanita di atas ranjang itu, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, memberikan segalanya. Hingga akhirnya, suara tangisan nyaring memecah ketegangan. Seorang bayi laki-laki yang manis, dengan kulit kemerahan dan jemari mungil, lahir ke dunia.

Sang Ibu bernapas lega, meski tubuhnya terasa kian ringan seolah melayang. Sang perawat meletakkan bayi itu di dekapan ibunya. Dengan tangan yang gemetar, sang Ibu mengelus pipi lembut putranya.

"Zyruvie... Elnathenz," bisiknya lirih. Sebuah nama yang terdengar seperti melodi indah di tengah badai.

"Maafkan Ibu, Sayang. Jadilah anak yang kuat... jadilah cahaya."

Ia mencium dahi Ruvie lama sekali, menyalurkan seluruh sisa kasih sayang yang ia miliki sebelum akhirnya matanya perlahan tertutup. Senyum kecil masih tersisa di bibirnya, meski denyut nadinya telah berhenti.

Ruvie kecil, yang seolah merasakan kehangatan itu mulai mendingin, menangis lebih kencang. Ia menggeliat di samping raga ibunya yang sudah tak bernyawa.

Suster Ema, perawat yang sejak tadi membantu proses persalinan, tertegun di samping ranjang. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan memilukan itu.

Ayahnya tewas di jalanan (seperti kabar yang baru saja masuk ke meja administrasi), dan ibunya menyusul beberapa menit kemudian.

"Malang sekali nasibmu, Nak..." bisik Suster Ema. Ia menggendong Ruvie, menimangnya dengan penuh perasaan.

Ia menatap wajah bayi itu yang terlihat sangat polos. Entah dorongan apa yang menggerakkannya, namun di dalam hati Suster Ema berjanji satu hal: ia tidak akan membiarkan anak ini tumbuh sendirian di dinginnya panti asuhan.

"Jangan takut, Ruvie. Dunia mungkin mengambil mereka, tapi aku akan memastikan kamu tetap punya tempat untuk pulang."

Zyruvie ElnathenzStories to obsess over. Discover now