Felyn Anindya adalah sosok gadis dengan kepribadian ceria, lembut, dan penyayang. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak perempuan yang selalu tersenyum bahkan untuk hal-hal sederhana seperti menerima sebuah permen, senyuman manis itu selalu menghiasi...
Itulah satu-satunya hal yang Felyn kenal sejak kecelakaan itu terjadi.
Tidak ada cahaya, tidak ada bayangan, dan tidak pula ada warna. Hanya kekosongan yang setia menemaninya, pagi dan malam, seolah mengingatkannya bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang tak akan pernah bisa ia genggam lagi.
Dulu, Felyn adalah gadis yang mudah tertawa.
Ia ingat sekali saat usianya masih sepuluh tahun, ia bisa tersenyum hanya karena ayahnya membelikan permen di warung kecil depan rumah. Ibunya akan mengelus rambutnya, dan dunia terasa begitu hangat saat itu.
Namun semua itu kini hanya tinggal ingatan.
Tiba-tiba suara keras dari kejauhan terdengar sampai kedalam kamar nya tempat dia berada sekarang. Suara itu, suara yang kasar dan terdengar marah kepada Felyn.
"Felyn! jangan hanya diam didalam kamar mu! Kemarilah, cuci piring kotor ini! Berhentilah bermalas-malasan." Ucap ibunya yang bernama Lydia dengan nada memerintah. tidak ada lagi suara lembut dan hangat yang dulu dia dengar.
"Jadi anak tidak bisa diuntungkan. Bisanya jadi beban saja." Gerutu ibu nya yang masih bisa terdengar di telinga felyn.
Felyn tidak menjawab. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan saat ia masih duduk di tepi kasur nya. Rasa sesak didada selalu ada saat ibunya berkata dengan kata-kata tajam itu kepadanya.
Felyn menarik napas pelan, seolah itu satu-satunya cara agar dadanya tidak runtuh saat itu juga. Ia bangkit perlahan, meraba sisi kasurnya hingga menemukan tongkat berwarna silver. tongkat yang selalu menemani nya kemana pun ia melangkahkan kaki.
Setiap langkah menuju pintu kamar terasa berat. Bukan karena jaraknya, tapi karena hatinya sudah lebih dulu lelah.
Di dapur, suara piring beradu terdengar kasar. Felyn menunduk, meraba permukaan meja hingga menemukan wastafel. Tangan nya menyentuh keran dan menyalakan keran tersebut hingga air dingin mengalir dan menyentuh kulit tangannya. Ia mencuci piring-piring itu dengan hati-hati, seolah sedikit saja ia ceroboh, amarah ibunya akan kembali menghantamnya.
"Cepat sedikit!" Perintah Lydia lagi.
Felyn mengangguk kecil, meski ia tahu ibunya tidak melihatnya. Ia selalu mengangguk. Selalu patuh. Karena membantah hanya akan menambah luka. Saat piring terakhir diletakkan, ibunya terdiam sejenak. Lalu suara yang lebih rendah, tapi jauh lebih tajam, meluncur begitu saja.
"Bersiaplah. Tidak lama lagi hidupmu akan berubah."
Felyn berhenti bergerak. Jantungnya berdegup tidak karuan. "Apa maksud ibu...?" tanyanya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara air.
Ibunya mendengus. "Kamu akan menikah." Kata itu keluar begitu saja,tanpa peringatan dan tanpa ruang untuk bertanya.
Felyn mematung. Piring ditangannya hampir terlepas. "M-menikah...?" ulangnya dengan suara pelan, seolah berharap apa yang dia dengar itu tidaklah benar.
"Dengan pria yang bisa melunasi utang keluarga ini," lanjut ibunya dingin.
"Kamu tidak punya pilihan, Felyn. Anggap saja ini satu-satunya gunamu."
Dunia yang sudah kosong itu seakan runtuh kembali. Felyn ingin menangis. Ingin berteriak. Ingin berkata bahwa ia takut.... takut pada dunia yang tak bisa ia lihat, takut pada masa depan yang dipaksakan, takut pada seorang pria asing yang akan menjadi suaminya.
Namun, seperti biasa, tak satu pun kata pertentangan keluar dari mulutnya.
Ia hanya berdiri di sana, dalam sunyi, sementara takdir perlahan mengikat hidupnya. Dan Felyn tidak tahu.... bahwa di balik pernikahan yang berasal dari paksaan itu, akan ada suatu hal mengejutkan yang benar-benar akan membuat hidup nya berubah.
***
Terimakasih yang sudah membacaaa🫶🤍
Felyn Anindya
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Umur: 23 tahun Kesukaan: merajut, mencium aroma bunga di pagi hari, dan makanan manis.