Prolog

21 5 3
                                        

Namaku Gina, Gina Muslimah. Aku adalah seorang anak yang hidup sebatang kara, aku tinggal di sebuah panti kecil dan panti kecil itu di bina sama bu ratih. Sejak kecil aku memang selalu di ajarkan tentang ilmu agama dari segi fiqih, tauhid, hingga tasawuf.

Kini usiaku telah menginjak remaja, dan aku tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat pendiam. Memang itu semua sudah menjadi kebiasaan bagiku, entah mengapa di sekolah aku selalu di anggap kayak mainan gitu. Aku sering di bully, di suruh beli ini beli itu, di suruh kerjain tugas yang bukan kewajiban aku.

Pokoknya banyak deh, namun aku tetap senang kok dengan perlakuan teman-temanku seperti itu, dalam pikiranku mungkin mereka mencoba ingin berteman dekat denganku.

Tapi siapa sangka dengan perlakuan seperti itu aku selalu dapat banyak ide untuk melanjutkan novelku.

Karena dulu aku pernah bermimpi ingin menjadi penulis novel dan menerbitkan sebuah karya yang bisa membuat seluruh orang di dunia ini kagum gitu.

Maka dari itu aku harus bekerja keras untuk menggapai impianku, namun di tengah perekonomian yang sulit ini aku hanya bisa belajar menulis lewat ponsel. Sebenarnya aku ingin sih ikut kelas menulis, tapi karena biayanya mahal jadi aku memilih menulis lewat ponsel.

Memang agak sulit sih, tapi tidak ada salahnya kan kita mencoba. Karena aku yakin suatu saat tulisan ini akan di baca semua orang, cuma belum waktunya saja.

Namun aku tidak pernah menyadari kalau ada seseorang yang diam-diam mengagumi diriku. Awal bertemu dia di saat aku terburu-buru dan secara tidak sengaja aku mengotori sepatunya.

Namanya adalah Wahyu Ardiansyah, atau biasa di panggil Ardian. Ia orangnya baik, perhatian dan nggak pilih-pilih dalam berteman.

Dan dari sinilah kehidupanku mulai berubah di mana aku yang awalnya tidak bisa bergaul dengan teman kini menjadi bisa.

GianDonde viven las historias. Descúbrelo ahora