Pulang, Gangguan!

25 2 0
                                        

Setelah hari yang panjang dalam bekerja dan berkutat dengan angka dan data data yang tidak balace ini aku memutusakan membeli kopi cup dipinggir jalan dengan harga terjangkau. 

"Caffe latte satu ya, Kak. Yang normal dan dingin," pesanku kepada kasir kedai itu. Tak lama kemudian, ia menyodorkan nota yang harus kubayar.

Jalanan sore ini cukup padat, jam jam para pekerja dan anak SMA pulang. Aku duduk di depan kedai menunggu kopiku jadi sambil memandangi jalanan. Kosong sekali hidupku yang hanya kerja, pulang, lalu tidur dan begitu setiap hari. 

Aku membuang napas panjang dan mulai beranjak pulang setelah kopiku selesai dibuatkan.
Sambil mengendarai motor kesayanganku yang sudah setia menemani dari masa sekolah hingga tiga tahun bekerja, aku menikmati hembusan angin sore yang sejuk.

Senja di ujung langit menyala dengan semburat jingga yang memikat, seolah membayar hari-hariku dengan pemandangan yang tak bisa dilewatkan. Setiap detik perjalanan pulang terasa seirama dengan warna langit, tenang, damai, dan sempurna.

Seperti biasa, setibanya di depan rumah, pintu gerbang masih tertutup. Namun dari celah kecilnya, aku melihat sosok ibu berlari kecil dari dapur untuk segera membukakan pintu garasi, seolah takut aku menunggu terlalu lama. Dengan daster lusuh kesayangannya, ibu tergopoh-gopoh menyambut kepulanganku. Senyum hangatnya selalu menjadi pemandangan pertama yang kuterima setiap pulang, sederhana, tapi penuh cinta.

Dan seperti itulah rumah, tempat di mana lelah seolah tahu caranya pulang.

"Aduh aduh sudah pulang anak cantik ibu" ucapnya menyambutku.

Aku menyetadarkan motorku lalu menyalami ibu. "Masa tadi hitungan aku minus buu." 

"Terus gimana itu? kamu dimarahin gak?" tanya ibu khawatir.

"Enggak sih bu tapi jadinya ngulang masukin datanya."

"Alhamdullilah kalo gitu. Ya sudah jangan sedih lagi, ibu masak soto kesukaan adek"

"Ihhhh mau dong"

"Mandi dulu, ibu udah siapin air anget"

"Siap bos!" Aku segera meletakkan tasku dan bersiap mandi.

Selesai mandi aku langsung bergegas ke ruang makan. Soto ceker buatan ibu sudah tersaji di meja makan bersama sambel cabai merahnya. Aku duduk manis di kursi sebelah ibu yang sudah siap menyuapiku, aku sayang sekali sama ibu Tik ini yang sayangnya seluas samudra, hidup lebih lama ya ibu untuk aku dan bahagia yang akan datang.

Sambil disuapi aku menceritakan semua yang terjadi pada hari ini, maklum anak ibu sekali. Aku hanya berdua bersama ibu, aku anak tunggal dan ayahku kerja di luar kota yang pulangnya dua kali dalam sebulan. Sebenarnya kalaupun aku tidak kerja juga tidak apa-apa semua aku tercukupi tapi untuk upgrade skill ku aku harus terjun kedunia kerja yang setiap harinya dar der dor itu. 

"Habis isya ibu mau ke rumah nenek, kamu mau ikut gak?" tanya ibu di sela menyuapiku.

"Mau apa?"

"Pengajian keluarga lho Ifi, ini kan hari jumat. Gimana sih kamu masa lupa!"

"Lho iya ya, tapi aku gak ikut dulu deh bu, capek banget mau tidur" 

"Yaudah gakpapa, nanti ibu dijemput sama Om Fadil"

Selesai makan dan menyuapi aku, ibu segera berkemas dan siap siap. Ya pada umumnya ibu-ibu selalu rempong.

"Dek, kunci semua pintu kalo nanti mau tidur ya, ibu udah bawa kunci sendiri jadi nanti gak perlu bangunin kamu, ibu berangkat dulu ya, assalammualaikum." 

Aku menghantar ibu hingga pintu depan dan menyalami Om Fadil dan Tante Fani. 

"Hati-hati ya om, salam buat oma dan opa maaf gak bisa ikut" salamku sebelum mobil Om Fadil berjalan meninggalkan rumah.

Aku segera masuk dan mengunci pintu. Sebelum naik ke lantai dua menuju kamarku, aku mengambil buah terlebih dahulu di kulkas untuk menemaniku menonton drakor yang semalam belum aku selesaikan karena keburu ngantuk, mangga potong dan susu kedelai buatan ibu. Setelah menutup kembali kulkas, aku melangkah menuju kamar dan tidak lupa memastikan lampu-lampu sudah kumatikan.

Aku membuka pintu balkon, berniat duduk santai sambil melanjutkan drakor. Aku memilih duduk di ayunan kayu yang dibelikan ayah sebulan lalu dan kini menempati sudut balkon kamarku. Jujur saja, benda itu cukup memakan tempat, tapi harus kuakui, nilai estetikanya lumayan memanjakan mata.

Tinggal tiga episode lagi drakor yang semalam kutonton. Seharusnya sudah selesai, andai saja rasa kantuk tak menyerang lebih dulu.

Jalanan di depan rumah malam ini cukup ramai. Beberapa kali suara kendaraan menenggelamkan dialog dalam drama, membuatku kehilangan beberapa adegan penting. Merasa sedikit terganggu, aku memutuskan masuk ke dalam kamar setelah menuntaskan dua episode.

Sepiring mangga dan segelas susu kedelai kutaruh di atas  laptop yang masih terbuka. Angin malam yang semakin kencang membuatku buru-buru menutup pintu balkon, memilih kehangatan kamar sebagai pelarian.

"Kak Ifi!!!" Suara kencang dari sebelah rumah menghentikanku untuk masuk ke rumah, aku menoleh mencari sumber suara.

"Mahesa?" Aku menyipitkan mata memastikan itu suara yang ku kenal.

"Kak Ifi! ini gue Mahesa!" teriaknya lagi.

Aku berjalan ke ujung balkon, mendekat ke ke rumah sebelah ya walupun masih agak jauh.

"Bjir Mahesa! Lu ngapain disitu! Lu ngikutin gue ya?!" Sahutku ketus.

Dia Mahesa, anak SMA  dekat kantorku dan selalu bertemu ketika aku istirahat siang dan membeli makan di luar. Dia masih kelas tiga SMA tapi sudah berani menyatakan perasannya kepadaku, padahal jelas-jelas umur kita terpaut jauh sekali.

"Ihhh ini jodoh gak sih Kak If?" jawabnya dengan percaya diri.

"Ogah!" Aku buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintu balkon. Aku mematikan lampu untuk segera tidur, satu episode itu tidak aku lanjutkan moodku sudah terlanjur berantakan gara-gara anak SMA itu.

***

Alarm pagi sudah berbunyi, bukan alarm hp tapi ibu yang sudah membangunkanku. Seperti biasa air hangat dan baju kerja sudah disiapkan ibu Tik kesayanganku. Aku beranjak ke kamar mandi, karena kalau pagi ritual mandiku lumayan lama jadi ini baru pukul enam pagi dan aku berangkat kerja pukul delapan pagi, ya aku menghabiskan hampir satu jam untuk mandi pagi.

Setelah selesai semua ritual mandiku dan pas sekali pukul 07.40 WIB aku menuju ke ruang makan dengan seragam kerjaku yang warna biru muda ini dan make up juga rambut yang sudah on point

Hari ini ibu sudah siap dengan bubur ayam untuk sarapan yang ibu beli di warung depan dan seperti biasa aku akan disuapi sambil aku membalas chat grup kerjaan di wa. Ternyata hari ini akan ada audit dan aku harus mempersiapkan pemberkasan sebelum jam satu siang. Karena banyak berkas yang akan aku bawa jadi hari ini aku memutuskan untuk membawa mobil saja.

Setelah pamit ke ibu aku segera berangkat dengan mobil kecil ini, kado dari ayah di hari ulang tahunku tahun lalu yang ke 22 tahun.

"Dadah ibu, Assalammualaikum" 

Dengan memutar lagu kesukaanku untuk mengawali pagi ini sebelum audit dan rasa tegang semoga bisa membawa suasana lebih baik. Aku segera melajukkan mobilku.

Belum lama aku berjalan , suasana hatiku sudah dibuat muram. Suara klakson mobil belakang berisik sekali. Aku memperlambat lajuku agar mobil belakang bisa mendahuluiku. Saat mobil belakang sampai disamping mobilku dan dia menurunkan kaca mobilnya betapa hancurnya moodku pagi ini. Betul sekali, dia Mahesa si anak SMA yang semalam tiba-tiba muncul di samping rumahku.

"Kak Ifi buka dong kacanya!" triaknya.

Aku tidak membuka kacaku dan segera melajukan mobilku.

"Orang gila, jam segini baru berangkat sekolah, udah telat gak sih?" moodku benar-benar hancur karena seonggok anak SMA.

Wrong Age, Right GuyWhere stories live. Discover now