bayangkan orang dulu kita anggap sebagai sahabat kemudian menjelma menjadi musuh terberat di kehidupan kita. Dulu, mereka hanya dua anak desa yang duduk di bangku kayu, menatap langit senja sambil bermimpi keluar dari kemiskinan.
Kini, mereka berdir...
NOTE : Novel ini berisi banyak adengan berbahaya, peran*okan, dar*h, dan temb*kan
PEMBACA : usia 16 +
CATATAN KECIL :
Pernah ka anda membayangkan, seorang sahabat masa kecil, harus berubah menjadi musuh terberat di kehidupan kita.
Suara temb*k*n, krimi**litas, dan peperangan, harus terjadi, bukan pada musuh, namun pada orang yang dulu kita anggap sebagai sahabat, yang menginspirasi.
Banyak pertanyaan kenapa dia melakukan nya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
PROFIL
Nama lengkap : Arka pradipta
Nama Panggilan : Arka
Tempat lahir : desa langit senja
Usia saat di desa : 14 tahun (Kelas 3 SMP)
Usia saat ini : 29 tahun
Pekerjaan : perwira polisi berpangkat tinggi di kota Ardhavira
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
PROFIL
Nama lengkap : Raka mahendra
Nama Panggilan : Raka
Tempat lahir : desa langit senja
Usia saat di desa : 15 tahun (Kelas 3 SMP)
Usia saat ini : 30 tahun
Pekerjaan : Pemimpin jaringan mafia terbesar di Kota Ardhavira
PROLOG:
Di desa langit senja tumbuh seorang anak, bernama Raka mahendra, dan Arka pradipta, mereka berdua merupakan sepasang sahabat, yang bersekolah di SMP negeri 1 langit senja.
Hari hari itu terasa sangat menyenangkan, walaupun mereka bersekolah di sekolah yang sederhana, namun itu merupakan saksi bisu persahabatan mereka.
Di SMP negeri 1 langit senja, nama Raka mahendra selalu di sebut pertama. Nilainya selalu sempurna, sikapnya sopan dan pikiran nya tajam. Guru menjadi kannya contoh, murid lain menjadikan nya panutan. Bagi Arka pradipta Raka bukan hanya sekedar sahabat dia adalah cerminan masa depan yang ingin ia kejar.
Raka sering berkata,
"Kalau kita cukup pintar kita bisa keluar dari desa ini dan kembali untuk memperbaikinya."
ucapan itu sangat mengispirasi bagi Arka.
Hari hari mereka, selalu di penuhi dengan canda tawa, sepulang sekolah Raka sering mengajak Arka, untuk berkelana, seperti anak pada umumnya, mereka menjalani hari, memanjat bukit, yang tak jauh dari sekolah nya, dan bercerita.
"Arka apa keinginan mu?" tanya Raka," Aku ingin menjadi inspektur polisi yang hebat, dan membanggakan orang tuaku," perkataan tersebut membuat Raka terlihat sangat senang, dan menyemangati Arka, kemudian Arka pun menanyakan hal yang sama, Arka menjawab bahwa dia ingin menjadi walikota, agar dapat membantu banyak orang.
Setelah itu mereka pun mulai tertawa bersama, sambil berbaring di rerumputan, di atas bukit. hari hari yang cerita selalu bersama mereka.
Namun waktu mengubah langkah kami:
Memisahkan jalan yang tak sejajar.
POV Arka :
Ketika hukum menjadi sumpah hidupku, kau justru menjelma menjadi banyangan paling gelap yang harus ku hadapi.
Kini di antara sirine dan tembakan, aku berdiri di antara tugas dan masa lalu.
Aku masih ingat bau tanah basah di lapangan kecil dekat rumah kita, tempat dua anak lelaki berlari tanpa takut apa pun selain dimarahi ibu karena pulang terlalu sore. Kau selalu berlari lebih cepat dariku, tertawa keras sambil menoleh ke belakang, seolah dunia ini hanya permainan yang tak akan pernah berubah. Saat itu, aku tak pernah membayangkan bahwa suatu hari aku akan mengejarmu bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh.
Waktu memisahkan kami pelan-pelan. Aku memilih jalan yang rapi, berseragam, penuh aturan. Kau memilih jalan yang gelap, penuh bisikan, darah, dan kekuasaan. Saat dewasa, namamu menjadi bisik-bisik menakutkan di ruang rapat kepolisian. Mafia paling berbahaya, kata mereka. Sementara aku, duduk di kursi dingin dengan pangkat tinggi di pundak, mendengarkan laporan tentang kejahatan yang kaulakukan kejahatan yang tak pernah bisa kuhubungkan dengan bocah yang dulu membagi sepotong roti denganku.
Setiap kali fotomu muncul di layar, ada bagian dalam diriku yang berontak. Aku tidak melihat penjahat. Aku melihat sahabatku. Aku melihatmu, yang dulu bersumpah akan selalu ada di sisiku. Namun dunia tak peduli pada kenangan. Dunia hanya mengenal hukum dan dosa.
Bagaimana mungkin, seorang seperti mu melakukan ini?, tanyaku