Cerita hanya karangan semata yang berasal dari kepala author.
Maap ya ges yak soalnya baru bisa update sekarang, otak we lagi buntuu buntunya gtw mau nulis apa di chapter 1 ini. Hehe
So enjoyy
.
.
.
.
Pagi akhirnya tiba, menandai berakhirnya tugas sang rembulan yang perlahan menyerahkan singgasananya kepada sang mentari. Langit yang semula diselimuti kelam kini dihiasi gradasi jingga keemasan, sementara cahaya matahari mulai mengusir sisa-sisa kegelapan yang bertahan sepanjang malam.
Embun-embun bening yang menggantung di ujung dedaunan memantulkan cahaya bak butiran kristal. Di beberapa tempat, tetesan embun bahkan berubah menjadi partikel-partikel mana berwarna kebiruan sebelum perlahan larut bersama hembusan angin pagi.
Kicauan burung-burung menggema dari balik rimbunnya pepohonan. Mereka mengepakkan sayap, mengawali hari baru dengan melodi yang terdengar begitu damai. Di antara mereka, tampak pula kawanan burung berekor panjang dengan bulu-bulu berkilauan layaknya permata, serta rusa bertanduk kristal yang berjalan anggun menyusuri hutan tanpa sedikit pun merasa terusik.
Sinar mentari menembus celah-celah dedaunan yang menjulang tinggi, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menyinari lantai hutan. Di bawahnya, bunga-bunga liar bermekaran perlahan mengikuti arah datangnya cahaya. Kelopak mereka memancarkan kilau lembut, seakan menyimpan sihir yang mengalir bersama nadi alam.
Tak jauh dari sana, para pixie-peri-peri kecil penjaga hutan-terbang dengan riang di antara ranting-ranting pohon. Sayap transparan mereka berkilauan diterpa sinar matahari, meninggalkan jejak partikel sihir berwarna emas setiap kali mengepak. Butiran-butiran cahaya itu jatuh perlahan, menyerap ke dalam tanah, akar, dan dedaunan, menghidupkan kembali mana alam yang telah digunakan sepanjang malam.
Bagi para penghuni dunia ini, pemandangan tersebut merupakan sesuatu yang biasa. Namun bagi orang asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di hutan itu, semua keajaiban tersebut terasa bagaikan lukisan yang hidup-indah, damai, sekaligus menyimpan misteri yang belum terungkap.
Jauh dari rimbunnya hutan yang dipenuhi kehidupan, berdiri sebuah mansion megah yang dikelilingi tembok batu tinggi. Bangunan itu menjulang anggun di tengah hamparan taman yang terawat, memancarkan wibawa sekaligus kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata- kediaman sebuah keluarga dengan marga Eastra.
Dindingnya tersusun dari perpaduan batu alam dan kayu jati berwarna cokelat tua yang telah dipoles hingga berkilau. Ukiran-ukiran halus menghiasi setiap pilar penyangga, menceritakan kisah-kisah yang telah diwariskan selama bergenerasi. Sementara itu, jendela-jendela besar berbingkai kayu membiarkan cahaya mentari pagi menyelinap masuk, menerangi setiap sudut bangunan dengan semburat keemasan.
Di halaman depan, hamparan taman mawar membentang luas bagaikan lautan warna. Mawar merah merekah dengan anggun, mawar putih melambangkan ketulusan, mawar merah muda memancarkan kelembutan, sementara mawar kuning dan jingga menambah semburat kehangatan pada taman tersebut. Embun yang masih bertahan di atas kelopak bunga berkilauan diterpa sinar mentari, membuat setiap kuntum tampak seolah dihiasi butiran permata.
Sebuah jalan setapak dari batu-batu alam membelah taman itu. Jalan tersebut membentang lurus dari gerbang utama menuju pintu depan mansion, sementara beberapa jalur lainnya bercabang menuju berbagai sudut kawasan di balik tembok-menuju gazebo yang teduh, rumah kaca tempat tumbuhan sihir dirawat, kandang para makhluk penjaga, hingga taman belakang yang jauh lebih sunyi.
YOU ARE READING
The Mediator : ch Nusan
Action[REVISI] Dunia sihir kembali berada di ambang kehancuran. Seorang pemuda bernama Indonesia Khatulis D Eastra hanya ingin menemukan masa lalunya yang hilang. Namun takdir memiliki rencana lain. Saat rahasia tentang penengah ketujuh mulai terungkap da...
