Bab 6

491 123 20
                                        

Haiiii. Sowyyy baru update lagi wkwkwk. Btw, aing baru tahu lho klo feed balik lagi horayyy jdi jngan lupa vote dan komen ya biar bisa di-notice pembaca lainnya. Thankyuuuu

💞💞💞

Sunyi. Kesan itulah yang Gita dapati ketika menginjakkan kaki di rumah keluarga Wijaya. Tidak ada sambutan selamat datang atau keriuhan saudara dan tetangga sekitar layaknya orang punya hajat.

Keheningan itu semakin nyata ketika mertuanya, lebih tepatnya ayah mertuanya pamit untuk istirahat, sedangkan ibu mertuanya terlihat tidak senang melihat Gita. Ya, siapa yang suka jika calon mantu idamannya ditukar? Tidak ada. Tidak mendapatkan hinaan saja sudah bersyukur, apalagi ini diterima di rumah ini, sudah sangat-sangat bagus.

Sepeninggalan mertuanya, Gita bingung harus ke mana sedangkan Bayu menghilang sejak mereka memasuki rumah tadi. Dengan ragu-ragu ia meninggalkan ruang tamu untuk memasuki ruang tengah yang cukup luas sebab menyatu dengan dapur. Tak berapa lama, senyumnya terlihat. Ruangan ini terlihat hampir sama di rumahnya karena meja makan kayu besar itu dan kursinya model jengki dengan anyaman rotan.

Secara spontan ia mengelus permukaan meja itu, mengetuknya pelan, bunyinya berbeda dengan meja di rumahnya. Jelas meja ini bukan meja biasa, seratnya saja utuh. Jati. Iya, Gita yakin meja ini terbuat dari jati tua utuh. Mungkin Gita tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi kakeknya suka mengajarinya soal kayu-kayu berkualitas tinggi, jadi sedikit banyak ia tahu. Seperti kursi yang ia duduki ini, terlihat kuno tapi beratnya menggambar bahwa bahan yang digunakan berkualitas tinggi dan jelas harganya mahal.

Namun, dari mana keluarga ini memiliki barang-barang berharga ini padahal kata Ririn mereka hanya keluarga miskin? Oh ya, bisa saja barang-barang ini diberikan saudara Bayu di kota, kan? Ya bisa jadi. Ternyata menjadi miskin tidak terlalu menyedihkan jika memiliki saudara yang suka membantu.

"Ini istrinya Mas Bayu, to?"

Suara itu membuyarkan pikiran Gita saat menaksir harga meja dan kursi yang ia duduki. "Inggih, Bu." Gita mengulurkan tangan pada ibu paruh baya di depannya. "Saya Gita."

Mimin menyambut uluran tangan Gita. "Ayu tenan e," celetuk pembantu Pak Jaya itu. "Selamat ya, Mbak, buat pernikahannya. Maaf, Ibu tadi nggak bisa ikut soalnya cucu Ibuk sakit, ibunya pas kerja, jadi nemenin." Perempuan paruh baya itu mulai mengambil celemek, mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. "Panggil saja Bu Mimin, Bapak, Ibu, sama Mas Bayu biasanya manggil saya begitu."

"Ndak apa-apa, Bu." Untung saja Gita sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa, jadi tidak aneh bertahan di dapur membantu IRT keluarga ini. "Inggih, Bu. Saya bantu, ya, Bu?" Gita mendekat ke sisi wanita itu. Saat itulah ia terbelalak melihat deretan pisau menempel di kayu panjang yang ditempelkan di dinding. Pisau itu seperti melayang sebab tidak jatuh tanpa penyangga.

"Ibuk awalnya juga kaget lihat pisaunya melayang tapi kok nggak jatuh, terus kata Mas Bayu di balik kayu itu ada magnetnya, jadi nggak akan ngerusak pisaunya," jelas Bu Mimin yang melihat Gita kaget dengan peletakan pisau bermotif aneh itu. Baginya, motif pisau itu aneh tapi untuk ketajamannya jangan diragukan. Jari saja bisa terpotong dalam hitungan detik. "Ambil yang kecil atau sedang saja, Mbak, biar nggak berat."

Pisau dengan motif gelombang air itu membuat Gita penasaran, benarkah pisau kecil ini berat? Rasanya tidak mungkin jika dilihat dari bentuk dan ukurannya. Namun, perkiraan Gita salah. Kesombongannya diruntuhkan dalam hitungan detik saja. Pisau itu sesuai dengan peringatan yang diberikan Bu Mimin.

"Pegang di pangkalnya ya, Mbak. Kalau di ujungnya, tangan cepet pegel. Pertama dulu ya ndak terbiasa tapi lama-kelamaan enak juga. Tajam banget pisaunya jadi nggak perlu tenaga banyak-banyak pas motong."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 05 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Romansa di Balik BayanganStories to obsess over. Discover now