BAB 1. Kanza Zenaya

335 3 0
                                        

Happy Reading
.
.
.
.
.
Sedari kecil Zena tak pernah melihat rupa orang tuanya.

Mereka sudah meninggal karena kecelakaan, itulah penuturan singkat dari kakek.

Meskipun begitu, ia mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari sang kakek, dan hidup berkecukupan.

Tak dapat dipungkiri, ketidakhadiran orang tua dalam hidup membuatnya sering mengurung diri, introvert dan tak banyak bicara.

Namun semua tingkahnya tak berlaku untuk satu-satunya orang yang ia sayangi.

Tapi hari itu semua benar-benar hancur berantakan.

Dunianya seakan runtuh melihat detik-detik pemakaman sang kakek.

Air matanya menggenang tanpa henti jatuh seperti air terjun yang tak pernah surut.

Ia merapatkan gigi dengan bibir terkatub.

Kehadiran orang-orang penting di pemakaman punya berbagai macam ekspresi. Kecuali bawahan, kali ini merek benar-benar kehilangan sosok pemimpin yang amat dihormati dan disegani.

Zena bisa mendengar apa yang orang lain bicarakan di pemakaman itu.

Bagaimana dengan aset pria tua itu, siapa yang akan memimpin organisasi Kanza selanjutnya.

Disana tak ada yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya.

Siapa yang akan merawat dirinya dan bertanggungjawab terhadap dirinya kelak.

Zena terlihat tak berharga di hadapan mereka.

Andai kata ada, mereka pasti hanya ingin memanfaatkan peninggalan  apa yang kakeknya berikan terhadap dirinya.

Ia tahu semua itu, tapi ia tak ingin bersuara.

Kematiannya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hancur habis tak bersisa.

"Kenapa kakek harus meninggalkanku secepat ini?!

Bukankah kakek yang sudah berjanji akan hidup lebih lama sampai punya cicit" batin Zena.

Ia mengingat kata candaan kakeknya ketika masih hidup.

Berulang kali air matanya diseka oleh bibi pembantu yang bekerja di kediaman kakeknya. Sekaligus orang yang ikut merawatnya dari bayi.

"Nona, ikhlaskan tuan agar dia bisa beristirahat dengan tenang. Tolong jangan menangis." Lirihnya.

Meskipun begitu, air mata bibi juga ikut mengalir.

Begitu pula dengan Rayyan salah satu bawahan yang memegang payung untuk memayungi Zena.

Ia tampak menahan kesedihan hingga tak sanggup mengangkat kepalanya. Meskipun begitu tangan yang memegang payung itu tetap berdiri kokoh.

Setelah pemakaman itu selesai rinai hujan itu berhenti.

Walau kesedihan itu belum selesai, sudah ada pertanyaan menghampiri Zena.

Benar sekali, kata-kata iti mencuat dari salah satu orang penting yang menjalankan perusahaan dibawah naungan kakeknya.

Ia merupakan anak dari adik laki-laki kakek.

Paman Sandi. Orang yang dikenal serakah ingin menguasai semua aset keluarga inti dengan berbagai cara.

Ia dengan langkah kaki santai bersama bawahannya menemui gadis belia berusia 15 tahun yang tidak tahu apapun.

"Nak, apakah tak ada ucapan terakhir dari kakekmu atau sesuatu yang ia tinggalkan padamu. Apa kau sudah memutuskan untuk tinggal dengan siapa..."

Bertubi pertanyaan itu bagai tusukan pisau dihati Zena.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 26, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MY LITTLE LADI [REVISI]Stories to obsess over. Discover now