Prisoner of Fate

13.5K 511 36
                                        

Prisoner of Fate,written by kalamkalbi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Prisoner of Fate,
written by kalamkalbi

***

🎶 On Playing — Maula Mere Maula

***

Seraphina Elowen Luminaire menjual dirinya kepada Maharaja Ashvara dengan harga yang tidak bisa ditawar, yakni nyawanya sendiri.

Bukan dengan emas, permata, atau tanah subur Kerajaan Luminveil. Seraphina hanya memberi tubuh rapuhnya yang gemetar, berdiri di lorong Istana Agniveer dengan penjaga berpedang terhunus di belakangnya, seakan ia masih punya tempat untuk lari.

Kerajaan Luminveil telah jatuh. Ayahnya, kakaknya, dan para bangsawan mati. Kini yang tersisa hanya Adrian—adiknya yang berusia tiga belas tahun—yang sedang gemetar ketakutan di ruang bawah tanah menunggu eksekusi.

Seraphina tidak akan membiarkan itu terjadi.

Pintu besar terbuka. Ruang singgasana terhampar luas, diterangi cahaya matahari yang menyapu pilar-pilar marmer keemasan. Aroma dupa cendana dan mawar memenuhi udara. Di ujung ruangan, di atas tahta obsidian yang diukir simbol matahari dan api, duduk sosok yang membuat seluruh Kerajaan Luminveil gemetar.

Maharaja Arjuna Vikram Adhiraja Ashvara.

Jubah panjang hitam dengan bordir emas rumit menutupi tubuhnya yang tinggi dan terlatih. Ikat pinggang lebar kulit berhias emas melilit pinggangnya. Kain merah dan hitam keemasan menyapu lantai dengan megah.

Seraphina memaksa dirinya menatap mata Maharaja itu, meski jantungnya ingin melarikan diri dari dadanya.

"Aku di sini," lirih Seraphina, suaranya bergetar. "Seperti Yang Mulia minta. Aku adalah Seraphina Elowen Luminaire, putri terakhir Kerajaan Luminveil. Ambil aku. Bunuh aku jika Yang Mulia mau. Tetapi tolong biarkan adikku pergi."

Arjuna tidak bergerak. Mata pekatnya menyapu Seraphina dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya tidak menyiratkan nafsu, meski dipenuhi oleh sesuatu yang lebih rumit dari itu—kebencian, dendam, dan perasaan lain seperti kepedihan.

Sunyi bertahan cukup lama hingga akhirnya Sang Maharaja menghembuskan napas perlahan.

"Kau pikir aku monster yang akan membunuh bocah tak berdosa?" tanyanya dengan suara rendah seperti guntur di kejauhan. "Atau kau pikir aku sama seperti ayahmu?"

Seraphina tersentak. Kata-kata itu seperti tamparan.

Arjuna bangkit dari takhtanya, membuat Seraphina refleks mundur. Pria itu tinggi, jauh lebih tinggi dari yang wanita itu kira, dengan tubuh yang dilatih untuk berperang.

"Adikmu tidak akan mati," ujar Arjuna, berhenti beberapa langkah di depan Seraphina. Kulitnya yang kecokelatan membuat kulit pucat Seraphina tampak seperti bulan yang berdiri di hadapan matahari. "Aku bukan pembunuh anak-anak. Tidak seperti Raja Luminaire yang terkutuk itu."

Prisoner of FateStories to obsess over. Discover now