01

38 6 2
                                        

Tidak ada yang lebih ramai dari hari kemerdekaan di komplek tempat KKN-ku berlangsung. Sejak pagi, suara tawa dan sorak-sorai sudah memenuhi udara. Anak-anak berlarian sambil menggenggam bendera kecil, wajah mereka memerah oleh matahari dan semangat. Ibu-ibu sibuk menyiapkan perlombaan, tertawa sambil sesekali berteriak mengatur anak-anaknya. Para pemuda karang taruna mondar-mandir dengan pengeras suara di tangan, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Suasana begitu riuh, sampai rasanya sulit mendengar suara hati sendiri. Tapi entah kenapa, di tengah kebisingan itu, justru hatiku berdenyut paling keras. Di tengah keramaian itulah aku melihatnya untuk pertama kalinya. Laki-laki berkaos putih. Ia tidak ikut tertawa keras seperti pemuda lainnya. Tidak sibuk mengatur lomba, tidak pula menjadi pusat perhatian. Ia berjalan pelan, wajahnya tenang, dingin, dan sedikit terlalu serius untuk suasana semeriah itu. Tatapannya lebih sering tertuju ke tanah, seolah ia sedang menjaga jarak dengan dunia di sekelilingnya. Dan setiap kali berpapasan dengan perempuan, kepalanya langsung menunduk, cepat, rapi, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang tertanam lama. Aku tidak tahu kenapa mataku terus mengikutinya. Seolah Tuhan sengaja memperlambat waktu, agar aku bisa menyadari satu hal aku sedang melihat seseorang yang kelak akan mengubah banyak hal dalam hidupku. Aku mencoba mengalihkan pandangan, menyibukkan diri dengan membantu di posko. Tapi rasa penasaran itu terus mengganggu. Hingga akhirnya, tanpa tahu dari mana keberanian itu datang, aku bertanya pada kakak karang taruna yang kebetulan cukup dekat denganku.

"Ka, cowok yang pakai kaos putih itu siapa sih?"

Kakak itu menoleh ke arah yang kutunjuk, lalu tersenyum tipis. Senyum yang aneh, seperti orang yang tahu sesuatu yang aku sendiri belum mengerti.

"Oh, itu Bintang," katanya santai. "Kenapa, Sin?"

Aku langsung menyangkal, pura-pura biasa saja.
"Ngga kok, Ka. Cuma... kelihatan pendiem."

Kakak itu tertawa kecil.
"Dia aslinya asik kok, kalau kita udah dekat."

Entah kenapa, kalimat itu menancap lebih dalam dari yang seharusnya. Ada sesuatu di dadaku yang bergerak pelan. Bukan jatuh cinta. Belum. Tapi rasa ingin tahu yang tiba-tiba tumbuh subur. Tentang caranya menunduk, caranya menjaga diri, caranya memilih diam di tengah keramaian.

Sejak hari itu, tanpa kusadari, aku mulai mencarinya di setiap sudut. Di antara lomba-lomba kecil, aku memperhatikan apakah dia ikut membantu. Di posko KKN, aku menunggu apakah dia akan lewat. Di kerumunan orang, mataku selalu bergerak, mencari sekelibat kaos putih itu. Aku bahkan mulai mencari tahu tentangnya. Instagram-nya. Namanya. Nomor kontaknya. Dan di situlah aku mulai sadar aku tertarik pada seseorang yang bahkan belum pernah berbicara panjang denganku. Dan itu membuatku sedikit takut, tapi juga diam-diam senang.

*****

Akhir Agustus datang bersama rencana liburan singkat. Anak-anak KKN dan pemuda karang taruna sepakat pergi ke sebuah villa dekat pantai. Bagiku, itu hanya perjalanan biasa. Setidaknya, itu yang kupikirkan sebelum berangkat. Sampai seseorang berkata...

"Sin, kamu bonceng sama Bintang ya."

Jantungku langsung berdebar seperti habis lari lomba karung. Aku menoleh, dan di saat yang sama, Bintang juga melihat ke arahku. Ia tersenyum kecil. Tidak lebar, tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuatku terdiam beberapa detik.

Perjalanan menuju villa terasa berbeda. Bintang tidak banyak bicara memang begitu dirinya. Tapi justru dalam sunyi itu, aku merasa tenang. Angin sore menyapu wajahku, jalanan terasa lebih panjang dari biasanya.

Di tengah perjalanan, ia tiba-tiba mengulurkan sebelah earphone.

"Ka mau dengerin musik bareng ngga?"

Aku mengangguk kecil. "Boleh."

Dan untuk pertama kalinya, aku mendengarkan lagu sambil duduk di belakang seseorang yang membuatku nyaman hanya dengan diamnya. Lagu itu mengalun pelan, menyatu dengan suara angin dan detak jantungku sendiri. Tanpa kusadari, lagu itu kelak menjadi playlist favoritku bukan karena melodinya, tapi karena kenangan yang melekat padanya.

Villa itu berada tepat di tepi pantai. Sore hari, kami semua keluar menyambut senja. Aku duduk di gubug bambu bersama Ratu, Anah, Nopi, Bintang, dan Aldi. Kami bernyanyi bersama, tertawa kecil, membiarkan angin laut membawa aroma asin yang menenangkan. Saat itu, aku masih merasa biasa saja.
Belum jatuh hati.
Belum terlalu peduli.

Aku hanya mengaguminya dari jauh. Kagum pada caranya diam, pada caranya hadir tanpa berisik. Tapi perjalanan pulang dari villa mengubah segalanya. Untuk pertama kalinya, Bintang banyak bicara padaku. Kami ngobrol tentang pendidikan, musik, pengalaman-pengalaman lucu, juga mimpi-mimpi kecil yang terdengar sepele tapi ternyata penting. Rasanya seperti menemukan seseorang yang frekuensi jiwanya sama. Yang dunia di dalam dirinya terasa mirip dengan dunia di dalam diriku.

Sejak hari itu, semuanya perlahan berubah. Kami mulai chatting. Tidak intens. Tidak setiap jam. Tapi cukup untuk membuatku menunggu notifikasi. Cukup untuk membuatku tersenyum sendiri tanpa alasan jelas.

*****

September datang membawa kabar duka. Ayah dari teman posko-ku meninggal. Kami semua melayat. Sore itu, Ratu meminta Bintang ikut. Lagi dan lagi, aku dibonceng olehnya.

Di perjalanan itu, obrolan kami semakin panjang. Tidak lagi sekadar cerita ringan. Kami mulai berbagi hal-hal yang lebih dalam. Tentang lelah. Tentang takut. Tentang hidup yang tidak selalu ramah.

Sejak saat itu, rasa dalam diriku tumbuh lebih cepat dari yang kubayangkan. Kami sering berbicara tentang hal-hal absurd, saling curhat, saling tertawa. Kami sering menghabiskan malam mengelilingi kota, menikmati city light yang membuat langit terlihat lebih hidup daripada biasanya.

Dan entah sejak kapan, aku jatuh cinta.

Pada tatapannya yang jarang tapi dalam.
Pada diamnya yang menenangkan.
Pada caranya mendengarkan tanpa menghakimi.
Pada keberadaannya yang terasa seperti rumah.

Itu adalah hari-hari ketika aku dan dia belum menjadi apa-apa, tapi segalanya sudah terasa seperti sesuatu. Dan aku tidak pernah tahu, bahwa pertemuan sederhana pada 17 Agustus itu akan menjadi awal dari kisah yang tidak pernah benar-benar selesai bahkan ketika kami berdua kelak berjalan di jalan hidup masing-masing.


GIMANA GUYS BAB 1 INI?
SERUU NGGA HEHE?
KALAU SERU JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA GUYS, DNEGAN CARA VOTE, COMMENT DAN JANGAN LUPA FOLLOW XIXI

HAPPY READING GUYS AND ENJOY

kita, yang tak pernah jadi apa-apaWhere stories live. Discover now