Anomali

35 2 0
                                        

1

Tanpa kehadiran guru, kelas 12 MIPA 1 berubah menjadi pasar yang riuh. Canda dan tawa serta teriakan bersaut melambung memenuhi kelas, seolah merayakan kebebasan mereka. Di tengah hiruk-pikuk itu, terselip sejoli yang tengah asyik menikmati waktu di pojok kelas.

"Na, malam ini jalan yuk!" ajak Juan kepada gadis yang tengah menyandar di bahunya. Sedangkan Keyna, beralih fokus menatap Juan sejenak sebelum mematikan ponselnya.

"Gak bisa deh, Ju. Malam ini ada dinner keluarga gitu," tolak Keyna pada akhirnya.

Juan menghela napas. "Kita jarang main loh akhir-akhir ini. Kamu gak mau jalan sama aku?"

Keyna menegakkan posisinya. "Gimana kalo malam Minggu aja? Malam ini aku bener-bener ga bisa Ju," tawar Keyna berharap Juan memahami posisinya.

Senyum Juan mengembang, bola matanya berbinar seolah baru saja mendapatkan durian runtuh. "Okey, malam Minggu aku jemput!" ucapnya riang. Keyna bernapas lega, akhirnya malam ini dirinya bisa menikmati waktu.

"Cakep banget sih pacar aku, sayang deh!" ujar Keyna sembari menakup wajah Juan.

Tiba-tiba seseorang berseru di ambang pintu mengabaikan kelas yang riuh. "Oy Na! Kantin yuk, mumpung sepi nih! Jangan mojok ae kerjaanya!" ajak Refana, teman Keyna.

Karena seruan Refa, kelas menjadi senyap perlahan.
Tak lama dari itu seseorang ikut muncul di belakang Refa, berjalan mendekati Keyna. Tatapan tajam menghunus tepat pada manik Juan. "Kebanyakan mojok, bunting mampus lo!" sindirnya kepada Keyna.

Sedangkan Keyna balas menatap sinis Misha. "Mulutnya bisa disaring gak?"

Keyna beranjak dari duduknya, menoleh ke arah Juan. "Aku mau ke kantin, kamu mau ikut atau titip gak?"

Juan tak bergeming beberapa detik sebelum menggeleng. Menatap dingin ke arah Misha kemudian bergabung dengan teman yang tengah bermain game online sembari duduk lesehan di samping meja guru.

"Dasar cuek," gumam Keyna.

"Lelet!" bisik Misha menarik tangan Keyna.

"Lama amat pamitnya, keburu mapel selanjutnya mulai!" protes Refa tak sabaran. Ia menggandeng tangan kedua temannya dan bergegas menuju kantin.

"Lo serius sama si Juan? Bukannya dia 'pemain'?" tanya Misha di sela perjalanan mereka. Kening Keyna mengerut, sedikit tidak nyaman.

"Emang kenapa? Hubungan gue selama ini aman aja tuh. Jangan berprasangka buruk, deh!" jawab Keyna.

"Bukan gitu, kita cuma gak mau perasaan kamu dimainin sama cowo aneh macam Juan," ujar Refa meluruskan maksud Misha.

Keyna terkekeh sejenak kemudian dengan riang ia berucap, "Tenang, gue gak akan bisa dia mainin."

Dahi Misha mengernyit. Raut tak suka jelas terpancar dari wajahnya. "Yakin banget?"

Dengan bahu terangkat dan senyum seenaknya, Keyna tampak acuh tak acuh berjalan meninggalkan Refa dan Misha.

"Temen lo, tuh!" seru Misha.

"Temen kamu juga!"

###

Layar ponsel itu menyala, suara notifikasi memecah hening. Tertera sebaris pesan di balik kaca. Si gadis melirik sekilas tak bergeming, enggan tuk sekadar membaca. Malam ini terasa panjang sebab hatinya terlajur muram. Sang kekasih tak kunjung menjemput, meninggalkan kecewa.

'Yang, malem ini cancel dulu ya. Tugas aku numpuk banget, ganti video call aja gimana?' Kira-kira seperti itu pesan yang tertera di layar ponselnya.

Ia tak membalas, namun refleksnya cepat menggeser ikon hijau. Panggilan video tersambung, wajah seorang lelaki muncul setelahnya.

"Jangan cemberut dong, Yang. Tugas aku bener-bener numpuk. Deadline besok pagi. Sebagai gantinya aku udah pesenin kamu makanan. Sebentar lagi mungkin sampai," ucap sang lelaki karena mendapati kekasihnya cemberut.

"Bodo! Aku ngambek! Kesel banget aku sama kamu. Liat-," Gadis itu tampak menyandarkan ponselnya. Kemudian mundur, memperlihatkan outfitnya malam ini. "Aku udah cantik, rapi, dan wangi tiba-tiba kamu cancel?! Sakit hati aku!" ketus si gadis menatap garang lelaki di layar.

Si lelaki mendesah pelan. "Gimana dong, Yang? Tugasnya numpuk banget, nih." Lembaran putih memenuhi layar ponsel si gadis. Terlihat jelas laporan praktikum menjadi headline.

"Tau gitu aku keluar sama yang lain aja." Kedua tangan si gadis terlipat di depan dada.

Gimana? Seru ga?
Jangan lupa tekan bintangnya! (≧∇≦)/

Lembar BaruMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon