Hanya ada suara kayu yang berderak di dalam perapian dan deru angin yang menghantam dinding kayu pondok. Di ruangan yang temaram itu, napas seorang wanita tersenggal. Gaun sutra yang ia kenakan untuk latihan adegan malam itu tampak kontras dengan kedinginan yang merayap di sekelilingnya.
"Kau keterlaluan, Atlas," bisik Lumi dengan suara bergetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena luka yang baru saja dibuka pria di depannya. "Kau pikir kau siapa? Kau pikir kau punya hak untuk menghancurkanku hanya karena kau merasa aktingmu lebih 'suci'?"
Lelaki itu berdiri hanya beberapa centimeter darinya. Aroma kayu manis dan brandy menguar dari napasnya yang berat. Matanya yang biasanya sedingin es, kini berkilat penuh emosi yang sulit diartikan—kemarahan, rasa frustasi, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
"Aku tidak sedang menghancurkanmu, Lumi," suara Atlas rendah, hampir seperti geraman. Ia maju satu langkah, membuat Lumi terpojok ke dinding kayu yang kasar. "Aku sedang mencoba menemukan sesuatu di balik topeng cantikmu ini. Tapi yang kutemukan hanyalah ketakutan. Kau takut jika kau berhenti berakting menjadi 'si manis' kesayangan dunia, tidak akan ada lagi yang mencintaimu."
Lumi mengangkat tangannya, hendak menampar wajah sombong itu, namun Atlas dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Cengkramannya kuat, namun tidak menyakitkan—sebuah kontak fisik yang membuat aliran listrik statis meledak di antara mereka.
"Lepaskan aku!" Lumi mendesis, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa?" Atlas menunduk, wajahnya kini begitu dekat hingga Lumi bisa merasakan panas dari kulit pria itu. "Takut karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, kau tidak bisa bersembunyi di balik skenario?"
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Kebencian yang selama ini mereka pelihara seperti bahan bakar yang kini tersulut api. Atlas menatap bibir Lumi bergetar, lalu kembali ke mata wanita itu yang penuh amarah.
"Aku membencimu, Atlas Valerand," isak Lumi pelan, meski ia tidak lagi memberontak.
"Aku tahu," jawab Atlas dengan suara yang mendadak parau. "Dan sialnya, aku merasakan hal yang sama. Tapi katakan kepadaku, Lumi... kenapa saat aku melihatmu menangis seperti ini, aku malah ingin menghancurkan siapa pun yang pernah membuatmu sedih?"
Di luar, badai salju semakin menggila, mengubur pondok itu dalam kesunyian. Di dalam, ego yang paling ditakuti di industri film Paris itu hancur, menyisakan kebenaran mentah yang selama ini tidak pernah tertulis di naskah apapun.
Jangan lupa vote dan komen!! Semoga suka, thank u (。♡‿♡。)
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Collions of Two Stars [END]
RomantizmDua bintang besar. Dua ego raksasa. Satu kebohongan yang menjadi nyata. Atlas Valerand, adalah aktor idealis yang memuja seni. Lumiere Vesper, adalah ratu box office yang memuja popularitas. Bagi Atlas, Lumi adalah kepalsuan. Bagi Lumi, Atlas adal...
![Collions of Two Stars [END]](https://img.wattpad.com/cover/405575222-64-k708956.jpg)