Jevano Danadyaksa, Ketua OSIS SMA Merpati Putih yang dingin, efisien, dan anti-cinta, dipaksa bekerja sama dengan Aqeela Yasmine, Wakil PMR yang tengil, ceria, dan sumber kekacauan tak terhindarkan, demi sebuah acara amal besar.
Pertemuan mereka ada...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
⛑️🎓⛑️🎓
Panas terik yang menerpa lapangan upacara sudah mencapai titik didih. Aqeela menarik napas dalam, memantapkan skenario yang sudah ia susun matang; pura-pura pingsan, disambut sorot mata cemas dari seluruh penjuru, dan yang terpenting, ditolong oleh dewa penolongnya, Jevan-sang Ketua OSIS yang paling tampan dan berkharisma.
Dalam lamunannya, ia sudah membayangkan tubuhnya melayang anggun dan ditopang oleh lengan berotot Jevano yang berbisik khawatir. "Tenang, aku di sini." la mulai mengendurkan lutut, memejamkan mata dramatis, dan membiarkan tubuhnya oleng ke belakang.
Sempurna! pikirnya. Namun, alih-alih pelukan Jevano yang wangi mint dan musk, sebuah sentuhan canggung dan bau balsem menyeruak di hidungnya. Saat ia membuka mata dengan kesal, ia terkejut mendapati wajah Bambang, si murid paling culun dengan kacamata tebal dan keringat bercucuran, yang kini dengan polosnya menopang dirinya. "Astaga, Qeel! Untung aku sigap!" seru Bambang, sementara Jevan hanya menatap mereka dari jauh dengan ekspresi datar.
Aqeela dengan segera menjauhkan dirinya dari Bambang. "Lo ngapain sih nyentuh gue!?" Omel Aqeela dengan nada khas yang sedikit cempreng. Mendengar omelan dari Aqeela, Bambang dengan polosnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu berkata. "T-tadi, kamu mau pingsan . . . aku c-cuma mau tolongin kamu."
Aqeela memutar bola matanya malas. Tanpa sengaja, pandangan Aqeela dan Jevan saling mengunci. Ada ketajaman yang dingin dalam sorot mata Jevan, yang dengan cepat memutuskan ikatan itu dan membuat Aqeela tersentak untuk memusatkan diri pada upacara.
Tidak terasa, upacara pada pagi itu telah selesai. Beberapa murid mulai berhamburan saat MC sudah memberi arahan untuk para siswa meninggalkan lapangan upacara, dan kembali ke dalam kelas masing-masing.
Aqeela tidak langsung kembali menuju ruang kelasnya. Aqeela menunggu sahabatnya muncul di tengah-tengah lautan siswa siswi SMA Merpati Putih, sembari mencari keberadaan sang lelaki pujaannya itu. Disaat Aqeela sedang menoleh kanan kiri, ia terlalu fokus, hingga tidak menyadari jika seseorang yang ia tunggu sejak tadi sudah ada di belakangnya. Paham dengan tingkah Aqeela, Aurel langsung menepuk pundak sahabatnya hingga ia terkejut.
"Qeel, tadi lo mau pura pura pingsan, kan? Supaya Jevan nolongin lo?" Tanya Aurel disaat Aqeela sudah membalikkan tubuhnya menghadap Aurel. Seketika senyum manis Aqeela melebar, tak hanya di bibirnya, namun juga memancar dari kedua matanya yang berbinar penuh rahasia, menyadari Aurel, dengan kecerdasan yang tajam, rupanya sudah lebih dulu membaca seluruh skenario pura-pura pingsannya. Padahal Aqeela belum sempat menceritakan hal ini kepada sahabatnya.
Aurel menggeleng pelan, ia tak kuasa menahan kekehan gelinya, suara tawa ringan itu meluncur bebas dari bibirnya saat ia menangkap ekspresi Aqeela terperanjat, campuran antara rasa malu karena ketahuan dan senyum bangga karena strategis berhasil dibaca satu-satunya orang yang ia harapkan. "Kalau pun lo pingsan beneran, Jevan nggak akan tolongin atau gendong lo, Qeel. Pasti dia akan panggil petugas PMR buat nyari bantuan."
Seketika raut wajah Aqeela berubah menjadi kesal, dan satu tangannya melayang untuk menepuk pundak Aurel berkali-kali. "Gitu banget sih, lo. Nggak bisa ya lihat sahabat sendiri bahagia?" Omelnya.
"Ya bener, dong, Jevan bukan anggota pmr." Ucap Aurel disela-sela tawanya. Aqeela mematung sejenak, apa yang dikatakan oleh Aurel ada benarnya.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Aurel segera menarik tangan Aqeela untuk menuju ruang kelasnya. Namun, alih-alih Aqeela akan segera kembali ke ruang kelasnya, justru Aqeela kembali menahan tangan Aurel. "Gue laper . . . kantin dulu, yuk." Ucapnya.
"Udah jam masuk, Qeel."
"Biarin, kita mampir kantin sebentar nggak ada yang tau, kan?"
saat hendak berbalik arah menuju kantin, mereka terlonjak kaget dan menoleh bersamaan. Di hadapan mereka, berdiri tegak Jevan, sang Ketua OSIS yang kharismatik, ditemani oleh Mahen, sang Wakil Ketua OSIS yang berwajah dingin. Melihat dua sosok paling bertanggung jawab atas ketertiban sekolah itu kini menghalangi jalan mereka, rencana Aqeela untuk membawa Aurel 'kabur' ke kantin seketika lenyap tak berbekas, tertelan rasa takut ketahuan melanggar peraturan.
"Balik kelas." Ucap Jevan singkat, dengan nada penuh penekanan.
Berbeda dengan Jevan, Mahen justru memangkas jarak diantara dirinya dan Aurel, merapatkan tubuhnya hingga berdiri tegak tepat dihadapan Aurel. "Mau kemana?"
Aurel menahan napas, matanya berkedip cepat seolah sedang me-reset pikirannya, sementara jemarinya diam-diam meremas ujung rok Aqeela. "Ehh . . . i-itu," ia memulai, suaranya terdengar begitu gugup, "kami . . . mau ke . . . toilet," ucapnya cepat, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak meyakinkan, membuat kebohongan itu terasa pahit di lidah.
Jevan melipat kedua tangannya didepan dada. "Arah toilet disebelah sana," Jevan menunjuk ke arah lain, "sedangkan kalian berdua pergi ke arah menuju kantin."
"Sekarang balik ke kelas, atau . . ."
Sebelum Jevan menyelesaikan ucapannya, Aqeela dengan segera menarik Aurel agar segera meninggalkan tempat itu. Aqeela melambaikan tangannya kepada Jevan dan Mahen, "bye . . . gue balik duluan, ya. Lo berdua jangan pada bolos." Teriak Aqeela yang mulai menjauh dari sang Ketua dan Wakil OSIS itu.
Disisi lain, Aqeela masih setia pada gerutuannya, menggerutu dan melontarkan umpatan-umpatan kecil yang hanya bisa didengar oleh Aurel, meluapkan seluruh kekesalannya karena rencana yang sudah ia susun rapi untuk menyerbu kantin harus kandas total di tangan Jevan.
Meskipun Aqeela masih bersungut-sungut dengan omelan kecil tentang rencananya yang digagalkan oleh Jevan, jauh di lubuk hatinya ia harus mengakui kekesalan itu segera menguap, sebab ia tidak bisa benar-benar marah lama-lama pada sosok Jevan yang beruntung memiliki paras setampan dewa Yunani.
⛑️🎓⛑️🎓
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
⛑️🎓⛑️🎓
Segitu dulu ya teman teman, maaf kalau ada kemiripan tokoh atau alur, kesalahan dalam penulisan, dll.
『Jangan lupa untuk tekan tombol vote, serta tinggalkan jejak komentar di paragraf yang kalian sukai.』