Prolog

76 9 16
                                        

__________
____________________

Aku dulu percaya dunia bekerja dengan aturan yang sederhana.

Kalau kau tidak menonjol, orang-orang akan melewatkanmu.
Kalau kau tidak ikut campur, hidupmu akan tetap utuh.

Pemikiran itu terdengar wajar. Hampir menenangkan.
Setidaknya sampai aku melihat bagaimana dunia bergerak saat tidak ada yang mengawasi.

Salju turun tipis di tanah terbuka yang kehilangan warnanya. Putih bercampur lumpur, lalu berubah lebih gelap di beberapa bagian. Bau besi memenuhi udara. Tidak menusuk, hanya terasa berat. Sejenis aroma yang menetap di napas dan enggan pergi.

Tubuh-tubuh tergeletak tanpa pola. Ada yang masih memegang senjata, jari-jari mereka kaku. Beberapa jatuh dengan mata terbuka, seperti belum sempat memahami apa yang salah. Angin bergerak pelan, lewat begitu saja, tanpa benar-benar menyentuh apa pun.

Aku berdiri di tengah medan itu.

Tubuhku diam. Pikiranku tidak.

Aku hanya perlu memastikan satu hal lebih dulu... Bahwa semua ini benar-benar terjadi.

* * *

Di sebuah aula batu yang luas dan dingin. Langit-langitnya tinggi, ditopang pilar-pilar tebal yang dipahat dengan lambang kerajaan. Cahaya obor memantul di dinding marmer pucat.

Seorang pria berlutut di tengah ruangan.

Zirahnya bersih. Pedangnya tertambat rapi di pinggang. Bahunya tegap, meski lututnya menyentuh lantai tanpa alas. Di sekelilingnya, para bangsawan berdiri dalam barisan. Wajah-wajah tenang. Terlalu tenang.

Raja duduk di singgasana. Usianya sulit ditebak. Tangannya menggenggam pedang panjang dengan gagang emas yang sudah aus oleh waktu.

Ia berdiri.

Langkahnya berat, bergema di aula yang sunyi. Ujung pedang menyentuh bahu kiri pria yang berlutut.

"Dengan ini," ucapnya datar, "pengabdianmu diakui."

Pedang berpindah ke bahu kanan.

"Kau diberi hak untuk membawa nama dan kehormatan kerajaan."

Tidak ada sorak atau tepuk tangan. Hanya anggukan kecil dari mereka yang berdiri menonton.

Pria itu menunduk lebih dalam. Bukan karena rendah hati. Lebih seperti menerima sesuatu yang tak bisa ditolak.

Di lantai atas, di balik pilar, seseorang mengamati. Wajahnya tidak terlihat jelas. Hanya siluet yang diam terlalu lama, seolah memahami harga dari kehormatan semacam itu.

Obor berderak pelan.

Pedang diangkat kembali. Upacara selesai.

* * *

Api menyala di alun-alun kota.

Kayu disusun tinggi. Tali mengikat pergelangan tangan dan dada. Orang-orang yang terikat berdiri kaku. Sebagian menunduk. Sebagian lain menatap lurus, memaksa diri tetap tegak.

Aku berada di antara kerumunan.

Warga berdiri rapat. Ada tawa kecil. Ada sorakan. Bahkan ada cemoohan. Beberapa bertepuk tangan, seolah menyaksikan sesuatu yang layak dirayakan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 13 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Great Conquest Where stories live. Discover now