Prolog

28 6 3
                                        

     Hujan deras membasahi kota sejak sejam yang lalu. Malam yang gelap diselimuti kabut membuat pria berambut coklat itu menangkupkan rahangnya hingga bersuara. Ia sudah mengirim semua bawahannya untuk menyapu bersih semua sudut kota.

     "Sialan! Dia tidak mungkin kabur jauh! Cari lebih teliti!"

     Suaranya menggelegar, disusul deru mesin-mesin kendaraan yang dengan gesit menyisir semua gang kota. Para penduduk menghentikan kegiatan mereka dan menonton dengan cemas, karena ini pertama kalinya mobil sebanyak itu turun ke jalan. Di masa ini, hanya sedikit orang yang cukup beruntung dapat duduk di dalam mobil. Lebih sedikit lagi yang punya. Jauh lebih sedikit lagi yang memilikinya dengan jumlah sebanyak ini. Kami semua tahu siapa orang yang terlalu beruntung itu.

     "Aku bersumpah kau tidak akan tenang seumur hidupmu, Haren! Dasar pengecut!"

     "Haren ... kau yakin ini akan berhasil?" Wanita yang duduk di sampingku menarik lengan bajuku. Suaranya parau, jelas sekali ketakutan.

     "Tenanglah, sayang. Perhitunganku tidak mungkin salah." Suaraku tenang seperti biasa, walaupun tanganku yang menggenggam setir mengerat.

     Mobil yang kami kendarai bergabung dalam barisan mobil-mobil Lucien tanpa ragu. Mereka semua mengangkut pria-pria yang terlatih memegang senjata. Walaupun begitu, nyaliku tidak sedikitpun surut. Sesekali, aku melirik spion untuk memeriksa keadaan sebuah gundukan di kursi belakang. Itu adalah penyebab semua ini.

     "Tahan gerbang utama! Jangan sampai lolos!"

     Pengaruh Lucien memang tidak bisa diremehkan. Semua bergerak sesuai jentikan jarinya.

     Kau salah memilih lawan, Lucien. Kau lupa kita aku selalu selangkah di depanmu.

     DUAR!

     Sebuah ledakan besar tiba-tiba terdengar dari arah barat.

     "Sialan! Itu arah tanggul! Berpencar! Tanggul tidak boleh rusak!" Mobil-mobil itu berpencar, mencoba menyelamatkan salah satu aset penting kota yang menyokong kesejahteraan penduduk sembari sisanya tetap menjalankan perintah tuan mereka mengejarku. Mereka tidak tahu yang dikejar sedang berada di tengah-tengah mereka.

     "Haren ...."

     Aku ikut bersama barisan utama menuju gerbang kota. Sedikit demi sedikit, aku merapat ke sisi tepi. Lampu menara sudah berganti arah sejak tadi, dari arah gerbang menuju arah tanggul tempat di mana ledakan itu terjadi, membuat lingkungan sekitar kami yang dikelilingi pepohonan lebat minim pencahayaan. Lampu mobil mereka tidak bisa menolong banyak ketika salah satu mobil mengendap pergi.

     Wanita di sampingku menyandarkan kepalanya pada lenganku sesaat setelah kami melewati batas kota. Jemarinya sedikit bergetar di sekitar lenganku.

     "Kita sudah melakukan hal yang benar. Aset ini tidak boleh jatuh ke tangan iblis itu," bisikku. Wanita itu mengangguk.

     Jalanan malam ini sunyi. Sayup-sayup, aku dapat mendengar kericuhan dari kota. Entah karena ledakan tadi, atau karena mereka menyadari ketiadaanku.

     Yang manapun itu, yang penting kami sudah aman. Yang penting istriku bisa bernapas lega dan barang-barang kami di kursi belakang juga masih utuh.

     Aku menarik kepala istriku mendekat, membiarkannya bersandar lebih leluasa. Jemariku dengan lembut menyusuri rambutnya.

     "Setelah ini, kita akan bahagia. Selalu. Akan kubangun untukmu rumah indah dengan bunga beraneka ragam jenis dan warnanya. Akan kubuatkan tetesan surga untukmu tinggal. Tidak akan ada yang dapat membuatmu menangis lagi. Akan kulakukan apapun, kasihku. Maka kumohon, tersenyumlah dan genggam tanganku sampai akhir."


(˚ˎ 。7 Prolog ended.


Leave a vote and comment if you like this story! ><

AxionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang