Semuanya terjadi terlalu cepat. Langit Stockholm yang semula cerah tiba-tiba berubah abu-abu, disusul guncangan yang membuat meja dan kursi di kelas bergeser keras ke arah dinding. Gempa, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi di kota ini. Suara kaca pecah bersahutan dengan jeritan mahasiswa. Astrid menunduk, berusaha melindungi kepala, tapi lantai di bawahnya terus bergoyang.
Dia tahu satu hal, tempat tinggi bukan pilihan. Tanpa banyak pikir, Astrid lari keluar kelas, menuruni tangga menuju koridor bawah, lalu berbelok ke arah gudang penyimpanan. Gudang itu sudah lama tak digunakan, baunya apek dan debu menempel di udara. Tapi di tengah guncangan yang membuat tembok bergetar, hanya tempat itulah yang terasa cukup kuat untuk berlindung.
Begitu sampai, dia menutup pintu dan bersandar di dinding, napasnya memburu. Namun matanya tertuju pada sesuatu—lemari kayu besar di pojok ruangan. Dari celah pintunya, muncul asap tipis, hitam pekat, berputar pelan seperti hidup. Astrid menelan ludah. Antara takut dan penasaran. “Apa ini...?” bisiknya.
Guncangan semakin kuat. Tanpa sadar, dia mendekat. Begitu tangannya menyentuh gagang lemari, sesuatu menyeretnya—bukan secara fisik, tapi seperti disedot ke dalam udara. Dunia berputar, tubuhnya serasa ditusuk cahaya panas dan kabut dingin bersamaan. Lalu semuanya gelap.
Saat dia membuka mata, gempa telah berhenti. Tapi tempat itu… bukan gudang sekolah. Langitnya kelam tanpa sumber cahaya, dan udara beraroma besi. Dari kejauhan, terdengar suara seperti nyanyian lirih, monoton, penuh gema. Dia menoleh ke bawah dan melihat tanah yang menurun curam, menuju lingkaran besar yang dipenuhi orang-orang berjubah.
Mereka mengenakan tudung berwarna, merah, putih, hitam, dan ungu. Masing-masing berdiri mengelilingi simbol besar yang berpendar samar di tanah. Astrid menahan napas, hatinya berdegup cepat. Mereka tak menyadari keberadaannya, seolah dia tak terlihat. Tapi rasa takutnya lebih besar dari rasa ingin tahunya. Ia hanya ingin pulang.
Ia menatap ke belakang, ke arah kabut hitam tempatnya muncul. Di sanalah satu-satunya pintu keluar yang ia tahu. Tapi semakin lama ia memandang, semakin kabut itu berputar, seolah hidup… seolah menunggunya untuk kembali.
Astrid melangkah pelan. Dunia di sekitarnya terasa berdenyut. Ia sadar satu hal: ia berada di tempat yang tak seharusnya ada.
Perlahan, kesadaran Astrid mulai kembali.
Kepalanya berat, pandangannya buram, seolah baru saja ditarik keluar dari mimpi yang terlalu nyata.
Ia mengerjap pelan.
Masih di gudang.
Udara lembap menempel di kulitnya, bau debu menusuk hidung. Tumpukan kardus masih di tempatnya, meja tua masih diam di sudut. Tapi semuanya terasa berbeda. Sunyi. Terlalu sunyi.
Kabut hitam yang tadi memenuhi ruangan sudah lenyap.
Namun, bayangan tentang apa yang baru saja ia lihat masih menari di kepalanya — orang-orang bertudung, berdiri melingkar, menyanyikan sesuatu dalam bahasa yang tak dimengerti. Di tengah lingkaran mereka, tanah penuh dengan pola aneh… melingkar dan saling bertaut, seperti simbol-simbol ritual yang tak seharusnya ada di dunia nyata.
Astrid memejamkan mata kuat-kuat, mencoba menepis bayangan itu. Tapi suara mereka masih terngiang—suara rendah, monoton, dan menyeramkan.
Ia menelan ludah.
Gempanya sudah berhenti, tapi jantungnya masih berdetak tak karuan. Tangan dingin, lutut lemas.
“...Apa barusan itu... mimpi?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Tanpa berpikir panjang, Astrid bangkit. Nafasnya berat, langkahnya goyah tapi cepat. Ia membuka pintu gudang, lalu berlari. Sepatu ketsnya menabrak lantai koridor yang dingin, menggema di antara dinding yang retak karena gempa tadi.
Begitu keluar dari bangunan utama, ia langsung disambut udara dingin sore.
Lapangan depan kampus sudah dipenuhi orang. Mahasiswa, dosen, staf—semuanya berkumpul, wajah mereka dipenuhi panik dan kebingungan. Sebagian duduk di tanah, sebagian lagi berdiri, menatap gedung yang mungkin akan runtuh kalau gempa terulang.
YOU ARE READING
Echoes Of Stockholm
Mystery / ThrillerAstrid, seorang mahasiswa beasiswa di Stockholm, tanpa sengaja menemukan gudang yang membawa dirinya ke dunia lain setelah gempa misterius. Di dunia itu, ia melihat ritual aneh dengan orang-orang bertudung, simbol-simbol yang tak pernah ia pahami, d...
