Prolog

253 24 3
                                        

Kata orang rumah adalah tempat ternyaman disaat kita sedang merasa capek, sedih, dan juga stres. Namun, kenapa berbeda dengan gue? Kenapa rumah yang seharusnya bikin gue bahagia malah jadi tangisan? Apakah itu yang disebut dengan rumah seperti yang semua orang katakan?

Gue Katharine Queenby Jane semua orang biasa panggil gue Kate. Gue anak tunggal yang sejak kecil harus merasakan kesepian karena tidak mempunyai saudara. Kini gue sudah beranjak dewasa dan udah saatnya bagi gue untuk memilih hidup gue sendiri. Seperti saat ini, gue memilih untuk pindah ke Bali buat sekolah SMA disana, yang mana itu udah menjadi tujuan gue sejak kelas 3 SMP.

"Kamu beneran mau sekolah di Bali sayang?"

Maureen ibu Kate bertanya untuk memastikan keputusan yang diambil oleh anaknya itu benar atau tidak.

"Iya, Ma."

"Why Bali? Kenapa gak di Jakarta aja?"

Kate yang sedang memasukkan bajunya kedalam koper pun langsung menghentikan aktivitasnya tersebut.

"Ma, ini pilihanku. So, don't forbid me!"

Maureen menghela nafasnya pasrah, dia tidak bisa melarang anaknya lagi untuk menentukan pilihannya. Karena dia udah janji pada Kate, kalau dirinya udah lulus SMP dia bisa bebas mau kemanapun yang dia mau termasuk sekolah.

"Mama khawatir sama kamu, Kate. Disana kamu bakalan tinggal sendirian, jauh dari pandangan mama." ucap Maureen khawatir seraya berjalan mendekati Kate yang masih sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper.

"Disini mama juga bakal ngerasa kesepian, papa biasanya kan pulang malam." lanjutnya saat sudah duduk disamping Kate.

Kate menghadapkan tubuhnya kearah Maureen. "Dulu juga Kate selalu merasa kesepian, gak ada teman ngobrol, teman buat main. Mama sama papa selalu sibuk sama pekerjaan masing-masing sampai lupa kalau anaknya lagi sendirian dirumah. Anak sekecil itu dulu sudah harus merasakan kesepian." sindirnya secara halus sampai membuat Maureen merasa bersalah.

"Kan mama sama papa kerja buat kamu juga Kate." balas Maureen sambil mengusap pelan kepala Kate.

Kate memejamkan matanya menahan kesal dan juga tangis. Dia kesal karena mamanya selalu membela diri. Dia juga ingin menangis karena merasa kasihan pada dirinya sendiri.

"Cukup, ma. Aku gak mau bahas ini lagi, keputusanku untuk sekolah di Bali udah bulat. Jangan coba-coba mama rayu aku lagi untuk berubah pikiran!" putusnya menatap kecewa pada Maureen.

Maureen menatap sedih pada anaknya itu. Dia merasa bersalah karena selama ini sudah mengabaikan anaknya itu. Namun, dia tidak tau harus bagaimana selain membela diri?

"I'm sorry, Kate."

🪼🪼🪼

Welcome Back Guyss!
New story!
Seru gak?

Jangan lupa vote dan komennya!

Untuk cast nya aku taro di sini ya
Ini castnya yang utama-utama aja oke!

Untuk cast nya aku taro di sini yaIni castnya yang utama-utama aja oke!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Love In SummerWhere stories live. Discover now