Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Kkkkaaaalllliiisssstttaaa," teriakan seseorang menggema di seluruh sudut kamar seorang gadis yang sedang bergelung di dalam selimut. Hawa sejuk dari pendingin ruangan menambah rasa malasnya. Tubuh Kalista semakin meringkuk Ia tidak peduli dengan teriakan tantenya, karena rasa kantuk benar-benar membuatnya ingin terus tertidur.
"Kalista, mau sampai kapan bergelung di dalam selimut? Tante sudah capek bolak balik dapur, kamar cuma buat bangunin kamu. Ini terakhir kalinya Tante kesini, kalau nggak bangun-bangun juga, Tante nggak tanggung jawab yah kalau kamu terlambat ke sekolah," teriak Tante Rita lagi. Wanita itu berjalan meninggalkan kamar Kalista, ia menghentakkan kaki sebagai kode kalau wanita itu sedang mode on.
"Anak satu itu, benar-benar bikin darah tinggi. Lama-lama aku kena stroke karena ulah Kalista," omel Tante Rita. Berkali-kali wanita itu menghela napas panjang. Menghadapi Kalista benar-benar membuat stok kesabarannya menipis.
Waktu berjalan lebih cepat. Jarum jam terus berputar. Kalista baru saja membuka mata, pandangannya fokus pada langit-langit kamar. Ia masih menetralisir perasaanya pasca bangun tidur.
Kalista meraih ponselnya di atas nakas. Matanya membulat sempurna saat melihat jam di layar ponsel menunjukkan angka 07 lewat 15 menit. Sekali gerakan tangan, ia menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya kemudian berlari ke arah kamar mandi.
"Kebiasaan deh, Tante Rita nggak bangunin aku," keluhnya. Tanpa membuang waktu, Kalista segera melaksanakan ritual paginya sebelum berangkat sekolah. Mandi kilat dan buru-buru mengenakan seragam putih abu-abu yang kancingnya terkadang melenceng dari lubang karena kurang fokus.
"Ya ampun ada-ada aja sih, ini kenapa lagi kancing bajunya salah terus, sudah tahu buru-buru malah nggak mau diajak kerja sama." Kalista menghela napas keras, ia benar-benar kesal dengan kebiasaan buruknya jika sedang terburu-buru.
Setelah berhasil mengenakan seragam sekolah, Kalista menatap pantulan dirinya di depan cermin. Seragam putih abu-abu tampak pas di tubuh mungilnya. Kalista meneliti tampilannya dari atas ke bawah, namun ia fokus pada bagian bibirnya, masih terlihat pucat. Kalista mengambil sebuah Liptint dan mengoles benda tersebut di bibirnya. "Perfect," pujinya.
Setelah puas memandangi penampilannya, Kalista buru-buru keluar kamar. Kehadirannya disambut Tante Rita yang sudah menunggunya di depan pintu kamar.
"Good morning Princess Kalista, bagaimana tidurnya semalam, nyenyak?" Tante Rita merangkul pundak Kalista dan menuntunnya ke arah meja makan. "Kal, sarapan dulu. Tante sudah effort masakin kamu pagi-pagi buta loh, sayang kalau nggak dimakan," ucap Tante Rita sambil menyerahkan piring kepada Kalista.
Kalista mengambil piring tersebut kemudian meletakannya kembali ke atas meja. "Tante, maaf aku buru-buru. Aku sarapan roti aja yah." Kalista mengambil sehelai roti tawar tanpa toping dan langsung memakannya.
"Makan roti aja nggak kenyang Kalista." Tante Rita gemas sendiri melihat ponakannya itu. Makanan yang dimasaknya pun tidak tersentuh sama sekali. "Yaudah deh, besok-besok Tante mau mogok masak. Percuma bangun pagi-pagi buta, grasak-grusuk dengan peralatan dapur, tapi setelah masak nggak ada yang makan." Tante Rita membuang muka, pura-pura marah.