Di tengah barak militer yang bising dan medan tugas yang tak kenal kompromi, Kartika Widyatama dan Pierre Andries Tendean berbagi tawa, luka, dan persahabatan yang tak tergantikan.
"Kau pernah bilang, tentara tidak boleh membawa perasaan. Tapi bagai...
Hai, selamat datang! Selamat membaca, ya. Jangan lupa berikan VOTE di setiap chapter sebagai bentuk apresiasi atas karyaku 💖 .
— Hij is er nog steeds — (Masih ada dia)
__________
Ada hal-hal yang tak pernah kita sadari saat sedang terjadi hanya terasa penting saat segalanya telah menjadi kenangan. Seperti suara tawa seseorang di antara bisingnya latihan militer, atau sejumput debu di sepatu yang tak sempat dibersihkan karena buru-buru mengejar waktu apel pagi. Atau… seperti tatapan yang tak pernah sempat dibalas, karena terlalu takut merusak kebersamaan yang sudah terlalu nyaman untuk disentuh.
Kartika tahu, hidup dalam barak bersama para lelaki bukan hal mudah. Sebagai satu dari sedikit perempuan di kesatuan tempur, ia harus dua kali lebih sigap, dua kali lebih tegas, dan kadang... dua kali lebih menahan emosi. Tapi ada satu hal yang selalu membuat harinya sedikit lebih ringan, Pierre Andries Tendean.
Mereka masuk dalam angkatan yang sama, bahkan satu regu latihan sejak tahun pertama. Jika Kartika adalah bayangan senja yang diam dan tajam, maka Pierre adalah pagi hari yang ribut dan ceroboh. Mereka seperti dua ujung spektrum yang bertahan dalam satu garis: berlawanan, tapi tak bisa benar-benar jauh.
Sampai hari ini, Kartika masih ingat kejadian paling memalukan dan entah mengapa juga paling lucu yang membuatnya nyaris dihukum push-up 50 kali.
“Siapa yang suruh kau bawa kucing ke dalam barak,” desis Kartika sambil berjongkok di balik lemari senjata.
“Bukan aku yang bawa, dia ikut sendiri!”
“Terus kenapa dia bisa tidur di dalam ranselku?”
“Mungkin dia suka padamu.”
Kartika melotot. “Dia kencing di sana, Pierre.”
“Berarti cinta mati.”
Bagi Kartika, hal-hal seperti itulah yang membuat segalanya terasa hangat. Meski kadang membuatnya ingin menendang Pierre ke selokan depan pos jaga, tapi selalu ada tawa setelahnya. Bahkan ketika tubuhnya dipenuhi lumpur latihan, atau ketika ia harus berdebat soal strategi patroli, Pierre selalu berhasil menyisipkan satu dua kalimat bodoh yang membuat dunia terasa tidak terlalu berat.
Tapi Kartika tidak pernah berharap lebih. Pierre terlalu terang untuk disentuh, terlalu bebas untuk dikekang oleh rasa yang sunyi. Dan ia sendiri terlalu pandai menyembunyikan isi hati, bahkan dari dirinya sendiri.
Mungkin cinta yang paling jujur adalah yang tak pernah diminta untuk kembali. Ia cukup ada… dalam bentuk paling sederhana: sebuah tawa di ujung kalimat, langkah kaki yang beriringan, dan ruang kosong di hati yang perlahan terbiasa.
Dan seperti kebiasaan pagi di barak, kopi panas, sorak tawa rekan satu batalyon, dan suara teriakan kawan-kawan nya yang selalu kesiangan, Kartika pun mulai percaya bahwa kebersamaan tak perlu diucap-ucapkan. Ia hanya perlu dijaga… sampai saatnya tiba, entah esok atau entah kapan, saat salah satu harus pergi lebih dulu.
Tapi pagi ini masih sama seperti kemarin. Masih ada matahari, barak yang gaduh, dan Pierre yang datang tergopoh-gopoh karena salah pakai sepatu---untuk pertama kalinya.
Dan Kartika tertawa. Masih ada waktu, pikirnya.
Masih ada ruang. Masih ada canda.
Masih ada dia.
__________
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.