Prolog

1K 127 4
                                        

"Bukankah anda telah berjanji menerima saya tanpa mempermasalahkan kesalahan saya di masa lalu?"

Pertanyaan itu mengudara, membuat jurang besar di dalam hatinya yang telah busuk, dimakan oleh keserakahan dan keegoisan karena ketidakadilan yang diterima sejak masih berada dalam kandungan sang ibunda.

Lagi.

Tatapan dingin menghampiri bersamaan dengan kata-kata yang terus menyayat hati.

"Kalau anda ingin saya menerima. Bisakah anda berlagak layaknya patung yang tidak bisa berbuat apa-apa?"

Raga terhenyak, nada bicara yang santai namun jelas berisi penghinaan. Ucapan yang menyuruhnya bungkam sebelum amarahnya menggelora.

Ia adalah ultimatum baginya, untuk tidak melakukan suatu tindakan yang menunggu penyesalan tiba.

Karena ia tau, pria itu pasti tidak akan bisa menerimanya.

Siapa yang ingin menerima bekas orang lain?

Terlebih bekas putra mahkota dan kawan-kawannya, orang yang paling dibencinya di muka bumi.

Gadis itu terlihat menunduk, pria itu terus membuatnya merasa tidak nyaman. Membuatnya seolah ia tidak punya harga diri, atau memang sejak awal ia sudah tidak memilikinya sejak menikah dengannya.

Dibawa di kediaman duke utara dengan wilayah yang begitu dingin, nyaris beku dengan salju yang turun sepanjang musim tanpa pernah berhenti. Membuat tumbuh-tumbuhan bahkan sulit untuk tumbuh. Terlebih, selalu ditinggal sendiri karena sang pemilik wilayah selalu dikirim ke medan perang untuk menyelesaikan misi yang diberi oleh putra mahkota. Membuatnya kesepian setengah mati.

Seolah, ia dibiarkan mati secara perlahan dalam wilayah yang begitu dingin itu. (Name) bukannya seseorang yang tahan akan cuaca dingin. Tapi harus dipaksa beradaptasi karena status yang mengikatnya dengan Eiser, sehingga mau tidak mau ia harus ikut ke mana pun suaminya membawanya.

Dagunya dijepit di antara dua jari yang menyentuhnya, membuatnya mendongak hanya untuk saling bertatapan dengan mata pria yang seakan ingin melobangi miliknya itu.

"Saya tidak meminta anda untuk mencintai saya."

Ia dengan cepat mengembalikan komposisi dirinya, tanpa sadar tangannya menyentuh pergelangan tangan sang duke.

(Name) membawa rasa bersalah dalam dirinya karena masuk dalam kehidupan pria itu sebagai pengacau, sebagai duri yang ditaruh putra mahkota untuk sang duke, karena itu pula dirinya tidak ingin terlibat begitu jauh, tidak ingin menyakiti pria asing yang bahkan hanya ditau berdasarkan nama dan rumornya saja itu.

Duke itu tampak menaikkan salah satu alisnya. Ntah kenapa raut wajahnya malah terlihat makin tidak senang.

"Saya tau, cinta anda kan habis di putra mahkota."

Kesalahpahaman yang terbentuk, mengingat bahwa gadis itu dulunya adalah salah satu kandidat calon tunangan putra mahkota, selalu menempel padanya layaknya perekat.

Eiser selalu melihat, di mana pun keberadaan putra mahkota, pasti gadis itu selalu ada didekatnya. Seolah ia memang memiliki rasa yang begitu besar terhadap putra mahkota. Dengan tidak tau malu mengikutinya ke mana-mana hingga menciptakan rumor yang menghibur di istana.

𝐒𝐚𝐥𝐯𝐚𝐭𝐨𝐫𝐞 [𝐄𝐢𝐬𝐞𝐫𝐱𝐘𝐨𝐮]Stories to obsess over. Discover now