Prolog : Dari Mula yang Ingin Ditunjukkannya

17 0 0
                                        

JIka waktu adalah sebuah misi, maka apa yang paling berarti saat diri harus menuntaskan sesuatu yang perlu diraih olehmu?

Jika waktu adalah sebongkah harapan, maka apa yang paling kau benci ... daripada menunggu harapan terwujud alih-alih waktu ... menghabisimu?

Jika aku ... adalah umat yang dianggap mampu, mampu berjalan-jalan di atas tajamnya kerikil di setiap langkahku ... maka apa yang paling sial daripada rasa sakit itu ...?

Aku menatap langit-langit kamar yang berwarna biru kelabu ini dengan perasaan yang bahkan tidak ku mengerti

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku menatap langit-langit kamar yang berwarna biru kelabu ini dengan perasaan yang bahkan tidak ku mengerti. Tak hanya pandai membuatku kebingungan, aku pun merasa seakan ada ribuan batu yang menimpa dadaku, ia menyesakkan, tidak sedikitpun membiarkanku menghirup udara dengan leluasa.

"Kita pasti bisa melewatinya ..."

Kata-kata itu terus membayangi kepalaku, ia ramai menjamah persepsiku soal takdir yang diri-Nya berikan padaku. Entahlah, mungkin aku sudah merasa lelah walau sekadar untuk menangis saja?

Aku tak mau tenggelam pada luka yang bahkan tidak lagi punya rasa ... di sana. Kemudian ku pindahkan posisi tidurku, berhadapan dengan tembok dingin yang lebih setia menemaniku.

"Kamu tahu apa yang pedih daripada kehilangan?"

Aku menatap lamat tembok itu dengan tatapanku yang mulai menyendu, sama seperti kelabu di langit-langit kamarku. Ah, sialan ...

"Bertahan," gumanku tanpa sadar.

Aku tak dapat melepaskan pandanganku dari tembok yang berada di hadapku, seperti juga mengamati diriku ... yang mungkin menurutnya menyedihkan itu? Namun, sayangnya aku tidak bisa meledak-ledak dengan seenaknya. Aku tidak boleh bertindak seperti biasanya-berpersepsi bahwa dunia akan selalu berpihak padaku ... lucu sekali Sasmitha.

Makanya, jika ada yang berkata padaku apa yang paling pedih selain kehilangan ... aku akan jawab dengan lantang ... bahwa ia adalah bertahan.

Lalu tanpa sadar, bulir-bulir bening di pelupuk mataku mulai berjatuhan-menyebalkan. Lagi-lagi tembok itu melihatku seperti ini ... melihat batasanku dalam bertahan.

Bertahan yang menurutku paling pedih daripada kehilangan.

Bertahan dengan kesepian sembari memikul ribuan kenangan tentang mereka. Sendirian.

Dan aku tidak akan mempertanyakan ataupun mengumpati kepedihan ini lagi. Karena kali ini ... aku akan menunjukkan pada-Nya ... menunjukkan bahwa aku bisa bertahan.

Walau artinya harus kesakitan lebih banyak ... tapi, Kau tinggal lihat saja, sejauh mana aku akan bertahan ...

... sampai aku memutuskannya.

Sasmitha
(Series "Ujian Tengah Semester")

SasmithaStories to obsess over. Discover now