We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1

576 48 4
                                        

Malam ini hujan turun sangat deras membasahi halaman depan Vila Keluarga Diaskara yang sudah sangat banyak mobil-mobil dari seluruh Aliansi dari Keluarga Diaskara dan Bimantara. Tak ada kata tidak untuk sebuah "Black Code" yang sudah di keluarkan dari sang Pemimpin Keluarga. Penculikan dan sebuah kiriman surat dari pembelot yang sudah berkhianat dari Diaskara Group. 

Para pemimpin dan perwakilan dari setiap yang dipanggil sedang duduk di meja panjang, yang di pimpin dari Seorang Gita Nayara Diaskara. Dirinya saat ini sudah menggengam surat dengan lambang Cartel paling kejam yang berada di Meksiko "Del-Diablo", jaringan terbesar dengan bisnis Narkoba, senjata Ilegal dan paling parahnya jaringan Perdagangan Manusia.

Semua tegang menatap amarah dari wajah Gita, karena mereka semua baru kali ini melihat pemimpin yang biasanya tenang menyusun strategi, berubah begitu anak kesayanganya diculik seakan-akan amarah bisa meledak kapan saja. Perwakilan Diaskara hanya Gita dan Lily yang berada di meja, sedangkan Kathrine sang istri hanya bisa menyembunyikan rasa kesedihanya dan menjaga si Bungsu agar tidak bertindak semena-mena, namun lambat laun dia akan tau kalau kakaknya diculik.

Sebenarnya tak harus membuka isi surat, karena dengan mengirim surat dan menculik anak dari sang pemimpin artinya perang tanpa ampun. 

"Coba jelaskan William dan Noah, kenapa kalian bisa kecolongan saat Lily dikejar, kenapa malah Trisha yang mengejar dan bisa-bisanya dia berada di sana?" dengan nada pelan namun penuh dengan amarah mencekam

"maaf tuan, tak ada pembelaan untuk itu, sekali lagi itu kelalaian kami dan tidak ada kata maaf untuk itu" jawab William

Gita berjalan menuju Pedang yang sedang di gantung tepat di dinding samping ia duduk saat ini, dengan cepat mengeluarkan pedang dari sarungnya, lalu menghunus pedang itu dan terbang menuju leher noah "Dan kau noah coba jelaskan bagaimana dia bisa menyelinap di pasukan khusus yang harusnya penjagaanya ketat" semua orang kaget, bagaimana bisa Gita terbang dan menghunus pedangnya dari jarak sejauh itu.

"Maaf tuan, sekali lagi tak ada pembelaan untuk itu, tidak ada kata maaf untuk kejadian ini" jawab Noah yang gemetar, karena baru kali ini ia melihat reflek dan kekuatan dari sang pemimpin.

Melihat itu Lily mendekat dan menggenggam pedang itu, menjauhkan ujung pedang dari leher Noah "Papa, ini bukan salah mereka berdua, keadaan di sana juga sangat kacau, tolong turunkan, semuanya jadi takut kalau papa tidak bertindak layaknya seorang pemimpin" perlahan pedang itu Gita lepas, dan tak sadar kalau tangan Lily terluka karena menggenggam pedang.

"Pahhh tolong tenang dan buat rencana yang bisa secepatnya menyelamatkan Trisha, sama seperti yang biasa papa lakukan menyusun rencana tentang apapun, aku yakin Trisha juga baik-baik saja, dia sudah dilatih dengan situasi yang lebih dari ini pa, aku yakin dia pasti bisa bertahan. Kita hanya perlu membuat rencana matang agar Trisha cepat pulang"

"Kami semua siap mempertaruhkan nyawa kami tuan" jawab William, saat itu juga seisi ruangan membungkuk seolah-olah siap menerima apapun perintah dari sang pemimpin.

_________________

Di sisi lain, Udara dingin ruang bawah tanah terasa menusuk tulang. Bau besi tua dan tanah lembab memenuhi rongga hidung Trisha setiap kali ia menarik nafas. Tangannya terikat di belakang punggung, dan kakinya dirantai dengan besi pemberat. Namun, seakan-akan ia pernah melalui semuanya ia bersikap tenang, menganalisa setiap semua gerakan penjaga dan detail ruangan yang ia tempati sekarang. Tak lama datang seseorang dari balik jeruji besi

"Nos volvemos a encontrar pequeño" 
kita bertemu kembali anak kecil   jawab orang itu yang ternyata pernah menembaknya yang membuat dirinya masuk rumah sakit

tchh....Jeje, esta basura tampoco entenderá lo que digo.
cihh, sampah ini juga tak akan mengerti dengan ucapanku  jawabnya dengan senyuman yang membuat Trisha sebenarnya meludahi wajahnya.

Hablad con todos vosotros, ancianos, porque vuestro lugar pronto será el suelo.
bicaralah semumu orang tua, karena tempatmu sebentar lagi berada di tanah  jawab Trisha membalas yang membuat terkejut dengan semua orang kalau Trisha juga bisa bahasa mereka.

"Tchhh, selamat datang di Meksiko sang anak Mafia" jawab Orang itu

"Sebutkan namamu" jawab Trisha dengan nada tanpa takutnya

Orang itu lalu membuka pintu penjara dan masuk, mencengkram rahang Trisha dan menariknya "angkuh sekali sikapmu, kau tak tau siapa aku?" jawab Orang itu

"Mengapa aku harus takut dengan bawahan papaku sendiri" jawab Trisha seperti menantang

"Teruslah kau bersikap angkuh, kita lihat apakah mereka akan datang atau aku akan mengirimu menjadi potongan demi potongan pada mereka" jawab Orang itu sengaja membuat Trisha takut

"Itupun kalau kau bisa memotongku" jawab Trisha sambil tersenyum tanpa rasa takut

Dengan rasa kesal, orang itu melempar Trisha lalu pergi begitu saja. 

"Awasi anak itu, dia bukan anak biasa dan kalian harus berhati-hati jika kalian ingin mendekatinya" jawabnya pada kedua penjaga lalu pergi begitu saja

Setelah semuanya pergi, kedua penjaga berbalik ke tempatnya. Salah satu masih penasaran dan seakan tak percaya dengan ucapan bosnya. 

Luka di sudut bibr Trisha mulai mengering, dan rambut hitamnya yang kusut menutupi sebagian wajah. Tapi sorot matanya—tajam, tenang, dan tak kenal takut—masih sama. Ia duduk bersandar di dinding, kedua tangan masih terikat, namun kepalanya tegak, seperti seorang tak kenal yang namanya rasa takut dan menganggap dipenjara bukan karena kalah, tapi karena sedang menunggu waktu untuk membalikkan permainan.

Penjaga itu melirik rekan penjaganya, namun rekanya terlihat heran dengan tatapan barusan

"Heyy, ada apa? Kenapa matamu begitu?" tanya Penjaga 

"Dia cuma Gadis belasan tahun, tapi entah mengapa tatapanya seperti sudah pernah melihat neraka"

"Kau tenang saja dia hanya anak kecil yang pandai menggertak"

"Ingat perkataan Bos, jangan anggap anak itu adalah anak biasa"

Sudah dua hari Trisha di dalam penjara ruang bawah tanah, hanya dengan lubang ventilasi satu dari atas. Suara Helikopter  yang berlalau lalang dan bau solar saat para penjaga yang melintas dari atas membuat Trisha dapat memperkirakan lokasinya saat ini. Yang selama ini para penjaga tidak tau adalah, alat GPS dari Sepatu Trisha yang belum ketahuan oleh para penjaga sampai sekarang. 

Alat itu memang buatan si kembar yang tidak bisa dideteksi degan mudah oleh alat Detector. Untungnya alat itu masih menyala dan memberikan letak Koordinat lokasinya sekarang, karena itu Trisha melatih fisiknya secara perlahan agar tetap bugar.

Dengan posisi tangan diikat dan kaki diberi pemberat, Trisha berolahraga agar ototnya tetap kuat. Gerakan-gerakan sederhana yang menurut para penjaga tak bisa dilakukan, ternyata bisa dilakukan dengan mudah. Yang mereka kira-kira semua itu gerakan sia-sia, malah berbalik ke mereka dengan rasa khawatir yang mulai menyerang mereka. Karena mereka melihat sendiri. gerakan semakin cepat dan besi pemberat tak ada lagi artinya, dia bisa mengangkatnya dengan mudah sekarang.

______________

Saat ini, seluruh pasukan tengah dalam perjalanan menuju Meksiko menggunakan Pesawat Hercules—salah satu pesawat militer angkut terbesar di dunia, mengingat jumlah pasukan yang mereka bawa sangat besar.

Sejak awal, Lily sudah merasa bahwa rencana ini terlalu gegabah. Ini bukan sekadar operasi biasa—ini menyangkut urusan antarnegara, dan bisa saja dianggap sebagai pemicu konflik internasional. Namun, di balik kegelisahannya, Lily tetap menaruh kepercayaan penuh pada ayahnya. Ia tahu, sang papa bukan orang sembarangan—ia selalu punya ribuan rencana cadangan untuk setiap kemungkinan terburuk.

Final Saga (Secret Admirer Season 3)Stories to obsess over. Discover now