We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Präfix

216 12 0
                                        

Ada sebuah rahasia yang kubawa ke mana-mana, terkubur jauh di balik tulang rusuk ku yang kian hari kian terasa rapuh. Rahasia itu tidak berwujud harta atau skandal besar; rahasia itu hanya berupa napas yang sering kali terasa berat, dan rasa nyeri yang menyelinap di sela-sela tulang saat aku mencoba berdiri tegak.

Namaku Jehan Avalon Keryn. Di mata orang-orang, aku hanyalah seorang kakak sulung yang "selalu bisa diandalkan". Aku adalah definisi dari kata baik-baik saja. Aku adalah orang yang akan selalu tersenyum meski kakiku gemetar menahan lelah. Aku ahli dalam berakting. Aku ahli dalam menyembunyikan lebam di balik lengan baju, dan menutupi rasa pusing yang menyerang dengan alasan "kurang tidur".

Tapi, apakah kalian pernah bertanya, apa yang terjadi pada sebuah pilar jika ia terus-menerus menopang beban yang tidak seharusnya ia pikul? Ia tidak akan langsung tumbang dengan megah. Ia akan retak. Perlahan, pelan, dan tanpa suara.

Di dalam tubuhku, ada sesuatu yang sedang berpesta. Sel-sel yang seharusnya menjaga ku tetap hidup kini berbalik menjadi musuh yang menggerogoti setiap tetes kekuatanku. Mereka memanggilnya Leukemia. Aku memanggilnya "tamu yang tak diundang", yang datang untuk menagih sisa waktuku sedikit demi sedikit.

Aku tahu, suatu hari nanti topeng ini akan jatuh. Aku tahu, hari di mana aku tidak bisa lagi berbohong akan segera tiba. Dan saat hari itu datang, saat aku akhirnya terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit yang dingin dengan mesin-mesin yang berbunyi nyaring, aku hanya berharap satu hal:

Bahwa mereka tidak akan terlalu terluka melihat kebenaran yang selama ini ku sembunyikan.

Karena bagi mereka, aku adalah pahlawan. Tapi bagiku sendiri, aku hanyalah seorang anak yang sudah terlalu lelah untuk terus pura-pura kuat.

Ini bukan kisah tentang bagaimana aku bertahan hidup. Ini adalah kisah tentang bagaimana aku belajar melepaskan—bahwa kadang, menjadi rapuh adalah satu-satunya cara untuk akhirnya benar-benar pulang.

Selamat datang di duniaku. Dunia yang—setidaknya sampai hari ini—masih berusaha kukatakan: Et ass an der Rei. Semuanya akan baik-baik saja.

Et ass an der Rei // Jaehee (lokal)Stories to obsess over. Discover now