Getaran bass dari musik yang nyaring di segala penjuru bikin jantungku ikut berdebar. Udara di venue malam itu lumayan dingin, tapi lampu-lampu yang kelap-kelip bikin suasananya terasa hangat—ramai dan hidup.
Aku duduk bareng member setelah beberapa menit lalu tampil di atas panggung, disaksikan ribuan penonton. Rasanya masih deg-degan.
Suasana venue masih heboh. Teriakan fans bercampur sama musik yang terus mengalun. Kami duduk di barisan ketiga.
Begitu musik berubah, beberapa idol senior mulai berjalan melewati barisan kami. Secara refleks, aku dan member langsung berdiri dan membungkuk.
Tepat di depanku—dia lewat. Matanya sempat bertemu mataku sebentar. Sekilas aja, tapi cukup buat bikin napas tertahan. Setelah itu, dia duduk santai di kursi depan. Harum parfumnya langsung tercium jelas. Familiar. Dan entah kenapa, bikin aku makin nggak tenang.
---
Aku salah satu member dari grup rookie beranggotakan tujuh orang yang baru debut di bawah HYBE Labels, tepatnya di BELIFT LAB. Grup kami punya konsep ceria tapi tetap berisi. Nggak ada posisi tetap di grup, cuma satu orang aja yang ditunjuk jadi leader.
Sejak debut, kami sering bareng di dorm yang letaknya nggak jauh dari gedung HYBE. Karena sering bareng, kami udah deket banget—kayak keluarga sendiri. Kami sering ngobrolin lagu debut kami yang ternyata lumayan nge-hits karena nadanya ringan dan enak didengar.
Biasanya kalau udah selesai latihan dan balik ke dorm, manajer bakal mesenin makanan buat kami. Sambil makan, kami semua sibuk sama hp masing-masing. Hening, tapi nyaman.
Tiba-tiba, Moona—member paling muda—nyeletuk, “Kak, OMG! Kamu rame banget, loh, di mana-mana. Aku iri deh!”
Aku sendiri memang member tertua kelima, tapi masih masuk maknae line juga.
“Serius?” tanya Jiu, leader kami, sambil scrolling hp-nya cepat-cepat.
“Eh iya, beneran,” sambung Elle, member tertua kedua setelah Jiu. “Kita emang lagi ramai dibahas, tapi yang paling banyak dibicarain itu kamu, Bi.”
Aku ketawa kecil, seneng campur kaget. “Wah, nggak nyangka sih… semoga kita cepet dapet 1st win ya.”
Obrolan berlanjut sampai malam. Habis itu, kami masuk ke kamar masing-masing buat istirahat.
---
Aku dan para member makin sering latihan dan promosi di berbagai acara penghargaan. Jadwal kami padat, tapi semuanya terasa seru dan menyenangkan.
Pas break latihan, kami langsung ambil ponsel masing-masing. Ada yang tiduran, ada yang duduk santai, ada juga yang keluar studio.
Jiu keluar untuk ambil sesuatu—aku nggak tahu apa. Sementara aku rebahan di lantai, keringat masih ngucur di dahi dan pelipis.
Tiba-tiba Gwen, member tertua ketiga, berdiri dan bilang, “Semangat, ya! Kita harus kerja keras biar bisa menang banyak award!”
Gwen memang salah satu dancer terbaik di grup. Kadang dia bantuin aku dan member lain buat pelajarin detail-detail koreo yang lumayan tricky.
Lora, yang lebih muda setahun dariku, nyeletuk, “Iya, kak! Aku bakal kerja keras… tapi kayaknya sekarang mau tidur dulu deh” katanya sambil merem dan menjulurkan lidah, bercanda.
Yang lain cuma bisa ketawa lihat kelakuan Lora. Moona masih asik berguling-guling di lantai sambil stretching.
Beberapa menit kemudian, Jiu balik ke studio. “Ayo, ayo! Latihan lagi. Besok kita tampil di Inkigayo!” katanya sambil tepuk tangan, nyemangatin yang masih leyeh-leyeh.
YOU ARE READING
Flicker
Teen FictionDia debut. Aku juga. Dunia kami bertemu lagi setelah sekian lama. Tapi ada jarak yang terasa beda. Di panggung yang sama-tapi rasanya seperti orang asing. Ada hal yang dia sembunyikan. Dan aku mulai bertanya-tanya... apakah perasaan kita juga masih...
