Keylan Aletta Fara

3 2 2
                                        

"Ma, Aletta berangkat dulu" lengkap dengan tas sekolah serta sepatu yang ditenteng, cewek itu berdiri di depan mamanya.

"kamu nggak mau sarapan?" mama Key bertanya tanpa melirik anaknya.

"enggak nanti aja di sekolah" tangan Aletta terangkat hendak menyalimi ibunya.

"yasudah, terserah kamu aja"

Kosong, tak ada yang membalas uluran tangan anaknya. Seperti biasa, mama Key beranjak ke dapur tanpa memedulikan Aletta. Aletta berjalan keluar rumah, melewati saudarinya yang duduk di sofa.

"Nggak usah sok-sokan nggak sarapan, kalo sakit urus sendiri" ketus makhluk yang usianya 4 tahun lebih tua dari Aletta.

"Emang biasanya gitu kan? Pernah lo ngurusin gue?"

Ini hari pertamanya di kelas 11, sudah dibuat tidak mood saja.

Dia Aletta, Keylan Aletta Fara. Tokoh utama dalam cerita ini. Tokoh utama bukan berarti diutamakan, karena masih ada dua tokoh yang menanti.
Meskipun nama depan Aletta adalah nama mama Key—ibunya, bukan berarti ia memiliki kedekatan dengan wanita berusia 39 tahun itu. Yah, setidaknya Aletta tahu dia bukan anak pungut dikarenakan namanya mengandung nama ibunya.

"Halo Al" Aletta mengawali panggilan, hpnya dijepit antara kepala dan bahu kiri. Kedua tangannya masih sibuk mengenakan sepatu.

"Halo, gimana Le?" Suara dari seberang terdengar, Aletta memegang hpnya dengan gaya normal—menggunakan tangan. Sepatunya sudah selesai dikenalkan.

"Berangkat jam berapa?"
"Tergantung"
"Tergantung?"
"Lo udah siap?"
"Udah"
"Gue otw"

tutt..

Panggilan terputus, Aletta menatap pagar rumahnya tinggal menunggu Alvaro datang.

Suara berisik knalpot motor sport terdengar, Aletta menoleh, dipikirnya Alvaro yang datang, masa cepet banget? Ternyata bukan, suara itu berasal dari tetangga Aletta, namanya Rafael, kalo nggak salah nama panjangnya Rafael Putra A. Aletta tidak tahu apa kepanjangan huruf A dibelakang nama Rafael, toh dia juga tidak peduli. Lagipula, Aletta tahu nama itu dari selembaran poster yang dibuat OSIS di Mading sekolah. Tidak sengaja.

"Oy bro!" Lamunan Aletta buyar, sebuah mobil hitam mengkilap Mercedes Benz EQE berhenti di depan pagar rumahnya, satu kaca mobil turun, menampilkan Alvaro yang ada didalam.

Aletta segera menuju mobil Alvaro dan masuk kedalam.

"Tumben sepagi ini Le, belum sarapan kan lo?" Pertanyaan sekaligus tebakan yang jitu.

"Belum" balas Aletta santai.
"Kenapa?"
"Belum mood cerita Al"
"Yaudah nanti aja kalo udah mood lagi"

Aletta menatap rutinitas pagi orang-orang, ada ibu-ibu bawa motor sambil boncengin tiga anaknya, satu didepan pake baju TK, dua yang dibelakang SD sama SMP. Ada bapak-bapak dorong gerobak bubur ayam. Ada anak seumurannya yang kasmaran mringas mringis boncengan motor. Ada pula mahasiswa pengangguran yang menguap sambil merentangkan tangannya di depan pintu kost. Banyak kejadian-kejadian pagi ini, seperti pagi sebelumnya dan setelahnya, pasti ada kejadian di pinggir jalan dengan genre nya masing masing.

Gerbang sekolah sudah terlihat, mobil Alvaro masuk dengan gagahnya.

Deru mesin tak terdengar lagi, Aletta bersiap turun.

"Eh, bentar Le" cowok itu menghentikan nya
"Kenapa?"
"Nih, ada titipan dari bu Sari sam mba Puput tadi" Alvaro menyodorkan sebuah kotak bekal.

"Apaan nih?"
"Udah terima aja siapa tahu isinya emas 50 gram"
"Yeu kocak, yakali emas 50 gram di masukin kotak bekal"
"Ada noh dirumah gue"
"Anjir, orkay emang aneh aneh ape cuma lo doang si? Heran gue"
"Idup mah bebas aja Le, asal nggak judi ama buntingin anak orang "
"Prinsip lo kalo itu, gue turun yak" Aletta membuka pintu mobil begitupun Alvaro.

"Mau gue anterin nggak?"
"Nggak usah Al, gedung kita beda"
"Beda aja tetep nyambung"
"Nggak, nggak usah. Gua bisa sendiri, makasih buat tumpangannya sama bekalnya"
"Iya, ati ati"
"Iya deh lo juga"

Mereka berpisah di halaman sekolah, Aletta menuju gedung MIPA dan Alvaro masuk gedung IPS.

"ALETTAA!!!!" seorang cewek dengan bandana merah muda berlari memeluk Aletta erat.

"LE! KITA MASUK MIPA 1!! PLISS DEMI APA SENENG BANGETTT!!!" Lia menggoyangkan badan Aletta ke kanan dan ke kiri disela pelukannya.

"Lia, Lia udah, iya gue juga seneng kalo gitu.. tapi sekarang kita diliatin banyak orang" bisik Aletta membuat Lia tak bersuara, tali juga tak bergerak.

"Lia, lepas dulu. Kok jadi diem?"
"Bentar Le, gue malu. Mereka masih liatin kita?"
"Kagak, udah ayo gue juga mau lihat daftar kelasnya" Lia melepas pelukannya, mereka berdua menuju mading, ikut berdesak desakan bersama murid lainnya meskipun sudah tak seramai tadi.

"Ini Alvan yang lo suka kan?" Tanya Aletta menunjuk nama 'Alvan Ramdhani'.

"Sssttt...iya, jangan keras-keras"
"Ye.. pantes aja seneng banget"
Lia hanya senyum senyum sendiri, Aletta menggeleng-gelengkan sambil terus melihat daftar nama teman sekelasnya yang baru.

"Permisi ya, permisi Sadewa Putra Mahatma numpang lewat" seseorang membelah kerumunan di depan mading.

"Permisi ya mba" Sadewa telah sampai dibelakang Aletta, senyum Lia semakin lebar setelah melihat siapa yang datang bersama Sadewa.

"WEHH SEKELAS KITA!!! Anjay.. sama si Hendrik juga cok!!" Heboh Sadewa menemukan namanya dan kawan kawan, mereka bertiga bertos ria.

"Lho ada lo ternyata, sekelas ama gue juga?" Tunjuk salah satu teman Sadewa kepada Aletta

🌻🌻🌻🌻🌻

Nih ceritanya udah kutulis di buku gesss cuman mager di salin aja, andai bisa copy-paste huhu...

INI EMG BELUM ADA KONFLIK SATU PUN YA SENG KUUUU.....
DUKUNG PLISSS!!!!!

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 18, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PHYTAGORAS Where stories live. Discover now