Mikaela Nadira tidak pernah berniat meninggalkan Raden Mahendra Yudha Fikri tanpa alasan. Tapi rasa insecure-nya tumbuh diam-diam saat ia menyadari satu hal-cinta saja tidak cukup untuk menjembatani jarak antara hidupnya yang sederhana dan dunia Rad...
hey. gue penulis cerita Satu Arah. panggil gua Myz dan nnti gua panggil kalian Myz juga. random aja sih nulisnya. berawal dari overthinking, berakhir jadi kisah dua orang yang (mungkin) nyasar ke arah yang sama. jangan lupa tinggalin jejak okeiii!!
****
"huftt, kopi lagi?" seru seorang gadis yang baru saja pulang dari kesibukannya dengan muka yang datar.
Mikaela menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu kaca kafe itu. Hujan masih menyisakan aroma tanah basah yang terbawa masuk bersamanya. Aroma kopi menyeruak hangat, membungkus udara dengan rasa tenang-tapi dadanya justru sesak.
Langkahnya pelan, matanya menari mencari tempat duduk kosong. Tapi justru saat itulah...
Suara yang pernah akrab menyapanya dari balik meja bar. "Lala?"
Mikaela membeku. Suara itu. Nada yang lembut, masih sama. Masih hangat. Masih... Raden.
Dan saat ia mendongak, tatapan mereka bertemu. Raden berdiri di balik mesin espresso, dengan apron hitam dan senyum yang mendadak layu. Tatapannya gak marah-tapi penuh tanya. Seolah waktu berhenti sebentar buat kasih ruang pada dua hati yang belum sempat mengucap perpisahan dengan utuh.
"Raden?" Seru mikaela dengan tatapan yang tidak bisa uraikan dengan kata-kata.
"Mau pesan? ahh, Vanilla latte. Kan?" Tanya Raden dengan nada yang lirih.
"Kenapa kamu disini?"
"Kenapa engga?" Sela Raden Dengan senyum kecut yang terukir dibibirnya.
Mata mereka saling terkunci. Tak ada kata, hanya diam. Tapi diam itu lebih bising dari suara keramaian café. Mikaela ingin bicara. Tapi lidahnya kelu. Dan Raden... hanya menatapnya, seolah menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak pernah sempat ia tanyakan.
Lalu...
Tringg... Tringg...
Suara dering ponsel memotong momen itu. Mikaela refleks menunduk, membuka layar. "Fiona Calling..."
Sahabatnya. Orang satu-satunya yang tahu kenapa ia pergi.
Mikaela menggenggam ponselnya lebih erat. Seakan panggilan itu menariknya keluar dari ruang perasaan yang belum selesai.
Ia mendongak sekali lagi. Raden masih menatap. Tapi kali ini, ekspresinya berubah. Ada kecewa yang coba disembunyikan. Dan Mikaela tahu... Mereka gak akan bisa pura-pura biasa lagi setelah ini.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mikaela ingin lari lagi.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
****
rainsbymr
PROLOG — dari penulis yang suka ngelantur
Oke gengs, jujur ini tuh... sejarah sih. Halu mode on Karena ini cerita PERTAMA yang akhirnya bisa gue selesaikan tanpa drama nangis-nangis di pojokan kamar sambil bilang ‘gak sanggup lagi’.
Nulis Satu Arah tuh kayak naik roller coaster: ada cinta, ada nangis, ada pengen nimpuk karakter sendiri, dan yang paling penting… ada Raden. Si tengil berjiwa bad boy, tapi bikin pembaca pengen bilang: “dia buat aku luluh guys…”
Btw, buat kalian yang suka senyum-senyum sendiri baca cerita romance ala anak SMA — selamat datang di dunia Mikaela dan Raden yang kadang satu arah, kadang muter-muter dulu baru nemu jalannya.
Semoga kalian enjoy, dan jangan lupa abis baca bilang, “AKU JUGA MAU COWO MODEL RADEN NIH!!!”
– Penulis yang hidupnya gak satu arah, tapi muter-muter dulu ke warung.