Bab 1

147 26 15
                                        

"Dalam sekejap mereka meninggalkanku, kebahagiaanku direnggut. Kini diriku berjuang hidup dalam kesendirian."

-Luna Calista-


Luna tidak merasakan firasat kalau hari itu terakhir kalinya ia sarapan di meja yang sama dengan orang tuanya.

Saat di sekolah tepat jam istirahat, Luna dan pacarnya sering menghabiskan waktu di atap sambil memandang langit. Pacar Luna bernama Byan, ia merupakan siswa populer di sekolahnya. Luna sangat beruntung bisa berpacaran dengan Byan.

Selain tampan, Byan juga mahir bermain gitar dan bernyanyi. Bahkan, Byan murid terpintar di sekolahnya, berbanding terbalik malahan Luna murid dengan peringkat terendah di sekolah. Banyak yang membenci Luna setelah ia berpacaran dengan Byan. Satu persatu sahabat Luna mulai menjauhinya karena mereka juga sama-sama menyukai Byan.

Luna sering di bully di sekolahnya, tetapi ia bisa mengatasi itu. Byan yang mengetahui kalau beberapa siswi membully Luna, ia tak terima akan hal itu. Byan mengeluarkan mereka semua dari sekolah. Bahkan, ada dari mereka yang dijebloskan ke penjara. Karena alasan itu hidup Byan dalam bahaya. Orang tua pembully itu tidak terima anak mereka dikeluarkan dari sekolah dan masuk penjara.

Luna merasa ketakutan saat Byan tidak bersama dirinya. Luna dilanda serangan panik, jika Byan tidak mengangkat teleponnya. Luna dan Byan sering terlibat pertengkaran karena Byan kesal saat Luna memarahinya tanpa alasan yang jelas.

***

Hari itu turun hujan, Byan yang mengendarai mobil menjemput Luna di rumahnya selalu mendapat telepon dari Luna, karena tidak tahan mendengar suara deringan telepon, Byan pun mengangkat telepon.

"Kenapa lama banget angkat teleponku? Aku khawatir tau gak,"

"Maaf, Luna. Aku tutup teleponnya, ya. Aku gak konsentrasi menyetir,"

"Kamu gak boleh tutup teleponnya, kamu harus bicara sama aku,"

"Luna, tolonglah mengerti, jangan seperti ini, aku gak apa-apa. Lagian, bentar lagi aku sampai di rumah kamu,"

"Jangan tutup teleponnya!"

Tiba-tiba ponsel Byan terlepas dari genggamannya. Byan yang tak ingin Luna marah padanya, ia pun berusaha mengambil ponsel yang terjatuh, namun ia kesulitan karena tidak melihat di mana posisi ponsel itu jatuh.

Luna terus saja memanggil namanya, ia pun tak memperhatikan jalan dan mengambil ponsel itu. Dari arah depan ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dan mobil itu adalah milik orang tua Luna. Tabrakan tidak bisa dihindari, terdengar benturan keras, mama Luna terlempar keluar.
Kecelakaan parah itu menewaskan Byan dan orang tua Luna.

Setelah kecelakaan itu, Luna mengurung diri di rumah, ia tak makan dan minum selama dua hari. Tetangganya sangat menghawatirkan Luna karena seperti mayat hidup. Bahkan, Luna yang biasanya ceria tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun.

Luna yang sedang berduka didatangi beberapa orang dengan memberikan berkas yang tertulis utang yang harus dibayarkan oleh orang tua Luna.

Luna yang tidak tahan lagi menghadapi masalahnya, berniat mengakhiri hidupnya. Namun ia mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya, karena mengingat janji pada orang tuanya dan ingin mewujudkan impian Byan.

Luna membeli begitu banyak makanan dan memakan makanan itu dengan lahap. Tabungan orang tuanya, perhiasan serta sertifikat dua rumahnya yang lain ia berikan untuk jaminan melunasi sebagian utang orang tuanya. Dia sering melarikan diri karena mencoba menghindari beberapa penagih utang yang mencoba memeras uangnya.


***

Luna memutuskan untuk berhenti sekolah karena tak sanggup membayar biaya sekolah yang terlalu mahal. Luna bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan untuk menyambung hidupnya.

Hari itu adalah hari paling sial bagi Luna, tanpa sengaja ia bertemu teman-teman sekolahnya. Mereka menertawakan Luna, bahkan mereka mempermalukan Luna di restoran. Makanan yang mereka pesan sengaja di lemparkan ke wajah Luna, mereka juga memaksa Luna meminum minuman yang membuat alergi Luna kambuh.

Dari kejauhan seorang gadis seusia Luna memperhatikan apa yang diperbuat teman-teman Luna. Amarahnya membuat dia beranjak dari kursinya dan menghampiri Luna. Gadis itu merebut gelas dari tangan teman Luna kemudian menyirami ke wajah teman Luna.

Setelah puas membalaskan perbuatan mereka terhadap Luna, gadis itu menarik tangan Luna dan membawanya ke luar restoran. Saat sampai di parkiran gadis itu menyuruh Luna masuk ke dalam mobilnya.

"Nama gue Adelia, pakai ini buat bersihin wajah lo," ucap Adelia sambil memberikan tisu ke tangan Luna.

Luna mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang dipenuhi sisa makanan. "Makasih ya."

Adelia meneguk air dari botol minum. "Lo mau kerja di rumah gue, kebetulan mama gue lagi kesusahan nemuin pembantu baru. Entar gue bakal bantu lo biar bisa masuk sekolah gue. Gaji, tempat tinggal semua aman. Gimana, lo mau gak?"

Luna pun terdiam, tawaran Adelia sangat menarik, untuk sementara waktu ia aman dan terhindar dari masalah penagih utang. Namun, ia ragu, apakah gadis yang ia temui baru pertama kali ini benar-benar membantunya? Atau ada maksud tersembunyi? Pikiran Luna dipenuhi hal buruk, bisa saja Adelia akan menculiknya, ia belum sepenuhnya mempercayai ucapan Adelia.





TROUBLEMAKER (Kavin Arshaka)Where stories live. Discover now