Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

1. Kematian adalah kutukan!

73 4 0
                                        

Langit Beijing berwarna abu-abu. Angin musim semi berhembus pelan, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di tengah hiruk pikuk kota, di sisi jalan memperlihatkan layar hologram raksasa yang menayangkan pengumuman eksklusif.

"Pemenang Nobel Fisika tahun ini adalah Chen Lian dari High School Nasional Beijing, atas penemuannya dalam teknologi partikel stabil yang mampu menekan peluruhan kuantum!"

Lautan manusia yang duduk di sekeliling auditorium megah, segera bertepuk tangan. Seorang lelaki muda dengan tinggi 184cm yang memiliki wajah tampan dan kulit sebersih porselen, ia bernama Chen Lian, mendesah pelan kemudian maju kedepan.

Raut wajahnya tanpa ekspresi, sementara pembawa acara tersenyum ke arahnya dan memegang sebuah piala untuk diberikan pada Chen Lian.

Chen Lian menerima piala itu dan membungkuk, kemudian berkata pada microfon, "Terima kasih." Ucapannya singkat, padat, dan dingin.

Ia tak terlalu peduli dengan pujian yang melambung-lambung. Semua itu hanya angka dan teori. Dunia baginya, adalah tempat penuh ketidakpastian yang harus dipecahkan dengan logika dan data.

Orang-orang hanya bertepuk tangan.

Chen Lian segera turun dari panggung, kemudian menatap jam tangannya dan keningnya mengerut. Sudah hampir pukul 9 malam, tetapi acara ini tak kunjung usai.

Chen Lian berdecak, "Kenapa lama sekali?"

"Aku ingin segera istirahat di rumah."

Sebelum acara selesai, Chen Lian meninggalkan kursinya dan berjalan menuju lift. Sudah 3 hari ia tidak tidur, demi menyempurnakan penemuannya itu.

KLING!

Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari seseorang.

"Kau menang nobel barusan? Wah, selamat ya! By the way, belikan makanan. Di rumah tidak ada makanan."

Chen Lian memberikan ekspresi jijik saat membaca pesan itu, "Dasar tidak tahu malu."

Setelah melewati berpuluh-puluh lantai, akhirnya Chen Lian sampai di trotoar dan naik taksi.

Beberapa menit setelahnya, sampai di apartemen elit, ia segera menuju lift dan masuk ke dalam unit.

Di rumahnya hanya ada seorang pemuda dengan rambut berantakan, kumis yang tak terawat dan berusia sekitar 26 tahun, ia sedang bermain game di dalam kamar Chen Lian.

"Seperti biasa," keluh Chen Lian sembari menatap pemuda yang bernama Chen Hu itu.

"Mana makanannya?" tanya Chen Hu.

"Kau tidak membeli makanan?" tanya Chen Hu lagi.

Chen Lian menghela nafas dan menatap pamannya dengan dingin, ia hanya bisa mengeluh dalam hati. "Paman ini selalu menganggur, pilih-pilih kerja dan bermalas-malasan. Sungguh manusia tak berguna!"

"Aku mau istirahat, pergilah," sentak Chen Lian.

"Kakak Li Yi dan Kakak Chen Luo pasti pulang larut malam, aku sangat lapar. Bahan makanan habis, jadi aku tidak masak." keluh Chen Zhong.

"Kalau lapar, itu makan! Kalau tidak punya uang, itu kerja! Jangan bermain game mulu!" tegur Chen Lian.

Chen Hu tidak peduli, dan melanjutkan bermain game.

Chen Hu sejak SD tinggal bersama kakaknya, Chen Luo, hingga ia dewasa tetap tinggal dengan kakaknya. Ia juga yang mengasuh anak kakaknya, Chen Lian, sejak kecil karena kedua orang tua Chen Lian terlalu sibuk bekerja.

Li Yi, bekerja sebagai ahli bedah. Sementara, Chen Luo sebagai dosen Universitas paling elit di Beijing. Keduanya tidak pernah memiliki waktu untuk anaknya sendiri.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PEMBANGKANG SURGAWICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang