Cahaya lampu dari layar komputer memantul pada kaca mata seorang pria yang duduk di balik meja besar dengan tumpukan dokumen di sampingnya. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menunjukkan seberapa dalam pikirannya tenggelam dalam angka-angka dan laporan yang ada di hadapannya. Drebya Virendra, 32 tahun, CEO Nexora Tech, pria yang dikenal sebagai pengusaha muda sukses, tapi juga dingin dan tak banyak bicara.
Di usianya yang masih tergolong muda, ia berhasil membawa perusahaan yang diwarisi dari orang tuanya berkembang pesat. Nexora Tech bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak dan kecerdasan buatan, bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar dalam pembuatan teknologi berbasis data.
Namun, ada satu hal yang terus menjadi duri dalam kehidupannya.
Adiknya.
Mervin Dirandra.
Siswa kelas 12 di SMA Grahacakra yang penuh kontradiksi. Cerdas, tetapi nakal. Berbakat, tetapi bermasalah. Ia adalah salah satu siswa yang pernah menjuarai olimpiade sains, tetapi juga siswa yang paling sering dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling.
Drebya begitu sabar menghadapi adiknya. Sejak kematian kedua orang tuanya delapan tahun lalu, akibat kecelakaan pesawat, Drebya mengambil alih kendali penuh atas Nexora Tech. Ia belum siap waktu itu, tapi ia tidak punya pilihan.
Di sisi lain, Mervin masih terlalu kecil untuk mengerti beban yang mereka hadapi. Ia kehilangan kedua orang tuanya, tetapi Drebya kehilangan lebih dari itu. Ia kehilangan kebebasan, kehilangan masa mudanya, dan yang lebih buruk, ia merasa kehilangan kendali atas adiknya.
Tapi anehnya, Mervin bukan anak yang buruk. Ia jenius dalam bidang sains, bahkan lebih berbakat daripada kebanyakan siswa di usianya. Kemenangan olimpiade nasionalnya membuat nama SMA Grahacakra naik ke puncak, dan ironisnya, sekolah yang berkali-kali ingin mengeluarkannya justru mendapat manfaat besar darinya.
Dan setiap kali Mervin berbuat ulah, ada satu orang yang akan selalu menelepon Drebya.
Reya Calestia.
Guru Bimbingan Konseling di SMA Grahacakra yang sepertinya sudah memiliki nomor Drebya dalam daftar panggilan cepatnya. Wanita itu tidak pernah kehabisan alasan untuk meminta Drebya datang ke sekolah, baik untuk membahas kenakalan Mervin, maupun sekadar mencari celah untuk berbincang dengannya.
Dan benar saja, ponsel Drebya bergetar di atas meja kerjanya. Tanpa melihat layar, ia sudah tahu siapa yang menelepon.
SMA Grahacakra|Ruang BK
Di sebuah ruangan berukuran sedang, dengan buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak. Reya menekan ponselnya dengan sabar, menunggu panggilan diangkat. Tangannya yang satu lagi bertumpu pada meja kayu yang penuh dengan dokumen pelanggaran siswa. Di depannya, duduklah Mervin, menyender malas di kursi seolah ruang BK ini adalah ruang tamunya sendiri.
"Bu, kayaknya Mas Biya lagi sibuk," ujar Mervin sambil memainkan ujung dasinya yang sudah longgar. "Lagian, ini kan cuma insiden kecil."
Reya menatapnya tajam. "Kecil? Mervin, kamu masuk ke dalam aula terus ngelempar petasan di sana pas rapat OSIS berlangsung!"
Mervin menyengir. "Yaa... yang penting kan nggak ada yang terluka, Bu. Itu kan cuma petasan bawang, gak bahaya sama sekali."
Reya memijat pelipisnya. "Udah cukup. Masmu harus tahu soal ini."
Di seberang sana, panggilan akhirnya diangkat. Suara berat dan datar terdengar.
Nexora Tech|Ruang CEO
Drebya mendesah pelan. Baru saja ia hendak menutup proposal kerja sama dengan klien, kini ia harus menghadapi masalah lain.
"Siang, Pak?"
"Siang, Bu Reya."
"Mervin berulah lagi, Pak Drebya," suara ceria itu terdengar terlalu bersemangat untuk sebuah kabar buruk.
"Apa kali ini?"
"Dia main petasan di aula saat rapat OSIS."
"Baik," Drebya bergumam, sama sekali tidak terkejut. "Lalu apa hukumannya?"
"Sementara hanya mendapat peringatan keras dan skorsing satu hari. Tapi, seperti biasa, saya butuh wali untuk menandatangani surat peringatan ini."
Drebya menekan batang hidungnya, berusaha menahan kekesalan. "Saya sedang sibuk. Bisa saya tanda tangan besok?"
"Sebenarnya saya ingin menyarankan sesuatu, Pak Drebya." Suara Reya terdengar lebih santai. "Mungkin ada baiknya Bapak datang lebih sering ke sekolah. Mervin butuh bimbingan secara langsung."
"Dia sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri."
"Jangan begitu, Pak." Reya terkekeh kecil. "Siapa tahu kalau Mas—eh maksud saya... kalau Bapak sering datang, dia jadi lebih tahu aturan. Atau mungkin... saya bisa mendapatkan kesempatan mengajak Anda makan siang?"
Drebya terdiam sejenak. "Saya tidak punya waktu untuk hal-hal gak penting."
"Makan siang itu penting, Pak."
"Selamat siang, Bu Reya."
Tuutt-Telepon berakhir.
Reya tersenyum miring. "Dasar manusia es... tapi menarik."
***
Author's note^^
Hi, welcome to new story:)
Cerita ini akan menjadi AU pada umumnya, yang lebih banyak crumbs chat dan medsos. Jadi kemungkinan narasi dari cerita ini pun tidak akan sepanjang cerita-cerita sebelumnya.
Keep an eye on Twitter for updates♡
YOU ARE READING
Bimbingan Kasmaran
Romancea byeon wooseok x kim hyeyoon ft. park sunghoon local au The story of a mischievous student, his cold-hearted brother, and a cheerful counselor who finds excuses to see him.
