Bukan ceritanya yang baru, tapi alurnya. Selamat datang kembali untuk pembaca setia ARSENIO, selamat membaca, dan semoga kalian lebih suka dengan alur cerita barunya.
Happy Reading!!
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap part-nya🧡
° ° ° ° °
"Ayo kita bercerai!"
Dengan nada pelan namun penuh tegas, gadis cantik berambut curly itu menatap sang suami yang bernama Arsen dari ambang pintu ruang kerjanya.
Jari-jari Arsen mendadak berhenti bergerak dari keyboard laptopnya, lalu matanya yang semula fokus pada layar laptopnya kini jadi teralihkan sebentar untuk melirik ke arah Rasseva—istrinya.
"Katakan sekali lagi." Nada berat itu akhirnya keluar dari bibirnya. Suara itu terdengar merdu di pendengaran Rasseva, tapi itu dulu.
"Aku ingin kita bercerai, Arsen," ucapnya sekali lagi.
BRAK!
Laptop mahal itu Arsen tutup dengan kasar, membuat Rasseva yang berdiri kaku di sana memejamkan kedua matanya sambil menetralkan detak jantungnya yang sedikit berdebar.
Dengan tatapan tajamnya, Arsen mulai melangkah menghampiri Rasseva. Tanpa gadis itu duga, Arsen mulai mencekik leher Rasseva cukup kuat, menciptakan sedikit ruang untuk Rasseva bisa bernafas.
"Sekali lagi!" ucapnya penuh amarah. Tidak peduli seberapa kuat Rasseva mencoba untuk melepaskan cengkraman itu dari lehernya.
"Ayo kita bercerai!" Dengan sisa sekuat tenaganya, Rasseva mencoba untuk berbicara walaupun suaranya sulit sekali untuk keluar. Jika hari ini dia mati, setidaknya kalimat itu berhasil Rasseva lontarkan.
Mata Arsen semakin menggelap, bahkan tangan kekarnya mulai bergetar, seolah ingin membunuh Rasseva detik itu juga. Namun belum sempat hal itu terjadi, Arsen segera mendorong leher Rasseva hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari ikatan pernikahan ini, sebelum aku puas untuk menyiksamu! Pernikahan ini adalah pilihanmu sendiri, maka terimalah akibatnya karena sudah berani mengantarkan dirimu ke orang yang salah."
Rasseva terdiam, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Kepalanya sedikit menunduk, namun kedua matanya melirik Arsen yang mulai menjauh dari dirinya. Tatapan itu terlihat pedih sekaligus benci yang mendalam. Rasseva membenci Arsen, membenci keadaan, dan membenci dirinya sendiri.
Tiga tahun mereka menikah, selama itu juga Rasseva tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam pernikahannya. Mereka jarang sekali berkomunikasi, sekalinya Rasseva berbicara, Arsen selalu saja mengabaikannya, seakan kehadirannya tidak terlihat oleh pria itu. Tentu saja, itu karena Arsen yang sangat membencinya. Sejak awal, Arsen memang tidak pernah setuju dengan pernikahan ini, hanya Rasseva saja yang menginginkan pernikahan ini terjadi, sekalipun dengan cara mereka di jodohkan.
"Nona, Tuan Arsen sedang sibuk, sebaiknya tolong jangan mengganggunya lagi, atau Nona akan mendapat perlakuan lebih dari ini." Itu suara Liam, tangan kanan Arsen yang sudah lama bekerja kepadanya. Rupanya sejak tadi pria itu melihat semua kejadian ini.
Niat Liam cukup baik kepadanya. Ucapannya tadi seolah sedang memperingati dirinya agar tidak mencari masalah kepada Arsen. Namun tetap saja, Rasseva tidak menyukainya. Mau bagaimana juga, Liam adalah tangan kanan Arsen, setia menemaninya, dan juga menurut atas perintah dari Tuannya.
Rasseva lagi-lagi hanya terdiam, memandang Liam sebentar, sebelum memutuskan untuk pergi dari hadapannya.
Di dalam kamarnya, Rasseva menyenderkan punggungnya ke pintu kamar setelah berhasil menutupnya dengan keras. Kepalanya mendongak, mencoba menghilangkan bayangan Arsen yang hampir saja membunuhnya.
YOU ARE READING
ARSENIO
Teen Fiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] ⚠️DON'T COPY MY STORY PLEASE⚠️ ✧ Happy Reading Everyone ✧ Menikah dengan seorang gadis yang tidak pernah dia kenal sama sekali, adalah mimpi buruk bagi Arsen. Hubungannya hanya dilandasi...
