Prolog

76 30 24
                                        

Happy reading ♡

*。☆*゚⁠+

Gadis itu tidak berhenti-henti memperhatikan bunga lili putih yang terkena pantulan cahaya lampu belajar yang berada di atas meja belajarnya—satu-satunya cahaya yang menerangi kamarnya saat ini. Ditemani hujan yang turun dengan sangat deras di luar sana, ia menangis dalam diam. Tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Hanya diam menatap bunga itu. Di benaknya terlintas memori-memori menyedihkan yang berputar secara terus-menerus bak kaset rusak. Ia tidak suka mengingatnya. Rasanya ingin membenturkan kepala ke dinding hingga amnesia menghampiri.

Tapi, hidup harus tetap berjalan, bukan? Tidak ada kata berhenti untuk menjalani hidup ini. Tidak ada kata menyerah untuk menjalani hidup ini. Baik bersama dia atau tidak, kita harus tetap berdiri teguh, menjalani hari-hari yang memang tidak menyenangkan.

“Waktunya sangat singkat, ya?” gumam Kania. “Apakah kamu tetap bisa menjalani hari-hari biasa seperti seolah-olah tidak ada apa-apa di hidupmu? Apakah aku tidak berarti besar bagimu?”

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang sampai kapan pun tidak bisa Kania dapatkan jawabannya. Sebab, satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu telah pergi, hilang. Pergi dalam artian yang berbeda, hilang dalam artian yang berbeda juga. Ia pergi membawa hati Kania yang sudah ditata dengan sebaik-baiknya. Ia berhasil menyembuhkan. Namun, ia pula yang menghancurkannya kembali.
    
Sepertinya aku mendapatkan sebuah jawaban dari status yang kamu posting di aplikasi berlogo warna hijau itu. Baik sebelum atau sesudah bertemu dengan ku, semuanya baik-baik saja, kan, untukmu?

*。☆*゚⁠+

Di hari pertamanya sekolah di bangku SMA, Kania sudah berani-beraninya terlambat. Ditambah lagi, ia tidak membawa nametag. Semalam ia kemana saja? Apakah ia tidak menyiapkan barang-barangnya dengan baik? Pasti nametag itu masih tergantung di meja belajar.

Gerbang yang berwarna hitam itu, tertulis nama sekolah tersebut, SMA Arunika. Indah sekali namanya. Semoga, suasana yang diberikan di dalam sekolah ini indah juga.

Tetapi, itu bukanlah yang dipikirkan Kania saat ini. Lihatlah, gerbang itu tertutup sempurna. Bagaimana ia bisa percaya diri untuk melewati gerbang itu? Kepercayaan diri yang ia bangun sedari semalam langsung hilang seketika. Seharusnya ia berangkat setengah bahkan satu jam sebelum bel berbunyi. Siapa yang akan mengira bahwa insiden kecelakaan yang membuat jalanan macet itu akan terjadi di hari pertamanya masuk sekolah? Seharusnya pula ia turun dari mobil untuk berjalan kaki saja. Tapi dengan bodohnya ia malah terus duduk di dalam mobil itu sampai macetnya reda.

Semua murid baru sudah dibariskan di lapangan. Kini, hanya tinggal Kania yang sedari tadi berdiri di luar gerbang. Tiba-tiba, seorang satpam berjalan keluar dari balik pos satpam. Ia menatap galak Kania yang terlambat. “Telat, Neng?” ujarnya.

“Iya, Pak,” jawab Kania. “Saya boleh masuk gak, ya, Pak?”

“Masuk aja. Paling dihukum.” Itulah jawaban yang tidak ingin didengar Kania.

Yah, mau bagaimanapun, Kania harus tetap masuk ke dalam dan menerima apapun resikonya. Tetapi, sebelum itu, ia mengirim pesan kepada Keysya, teman seperjuangannya sejak SMP.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
WildflowerWhere stories live. Discover now