Persahabatan mereka seharusnya abadi-atau setidaknya, itulah yang Villia yakini. Tapi kenapa semuanya terasa berubah?
Perasaan yang tak terucap, keputusan yang diambil diam-diam, dan sebuah kehilangan yang mengubah segalanya.
Di tengah luka dan kebi...
Di antara gema pengumuman panggung besar itu. Seorang gadis menaruh harapan untuknya terbang dengan kilauan piala di tangan. Namun, tidak ada satupun nama Ataragi Villia yang disebut. Sorak-sorai untuk juara datang bertubi-tubi, seakan menjadi anak panah yang menghujam tepat ke arah jantungnya.
Gadis itu terduduk kaku di kursi penonton. Memandangi satu persatu sang juara yang naik ke atas panggung dengan sambutan meriah. Kata usaha tidak akan mengkhianati hasil, terasa hanya sebuah omong-kosong baginya. Usaha yang ia torehkan berhari-hari seakan dikepung ketidakberdayaan malam ini.
Apakah bakat yang selama ini orang agungkan hanyalah sebuah ilusi?
Villia menunduk menatap kakinya sendiri, berharap hilang tak terlihat di tengah kursi penonton yang semakin sepi. Surainya jatuh terurai panjang, sementara telapak tanganya menyembunyikan wajah yang mulai dialiri air mata kecewa.
"Harusnya gue nggak maksa ikut. Kalo tau gini, mending jaga Ayah aja di rumah," gumamnya pelan.
"Kayaknya gue emang salah tempat." Gadis itu mendesah kecewa, tangannya mengusap satu-persatu eluh yang mulai membasahi pipinya.
Di antara ratapan itu, tiba-tiba satu suara berat menyelip dari samping.
"Menurut gue enggak."
Villia tersentak. Menoleh cepat, ia mendapati seorang pemuda duduk santai di kursi sebelah-berjarak satu bangku. Dia duduk santai, dengan sebelah tangannya tertumpang di atas kursi.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Atensi Villia melayang lebih jauh. Ukiran wajah pemuda itu bisa di bilang menakjubkan. Wajahnya tegas, dengan rambut ikal berantakan yang entah kenapa justru membuatnya semakin menarik.
"Ataragi Villia kan? Penampilan lo tadi keren kok!" ujar pemuda itu penuh keyakinan.
Villia memalingkan wajah. Hatinya masih terlalu sakit untuk menerima pujian.
Tiba-tiba pemuda itu mendekat ke sebelah Villia. Perawakan tinggi, gagah itupun sukses membuat kursi yang ia duduki berdecit kecil.
Keadaan hening sejenak. Isi kepala Villia ribut bermonolog kesana-kemari, entah apa yang membuat orang asing itu tiba-tiba mendekatinya.
"Lo tau enggak sih? Panggung itu kayak hubungan cinta pertama," kata pemuda ikal itu tiba-tiba, sorot matanya kosong menatap ke arah panggung.
Villia mengerutkan dahi, "Hah?" pikirannya mulai tak tenang. "Kayaknya cowok ini emang enggak normal," gumamnya sambil menatap prihatin.
"Pertama kali naik, deg-degannya bukan main. Tapi kalau gagal, rasanya pengen balik nggak usah tampil dari awal," lanjut pemuda itu menjelaskan.
"Analogi aneh," timpal gadis itu pelan.
Pemuda itu menoleh, menungging kan senyum tipis. "Tapi bener, kan? Lo baru pertama kali ikut kompetisi gede?"
Villia ragu, lalu mengangguk kecil. "Iya. Mungkin terakhir juga."
"Jangan gitu." Tatapannya mendadak serius, "Sayang suara kayak gitu, lo sia-siain."
Villia tersenyum pahit ke arah Pemuda itu. Ia tak tahu harus menanggapi bagaimana. Suasana antara Mereka berdua benar-benar aneh, Villia juga mulai merasa tidak nyaman dengan orang asing yang tiba-tiba mendekatinya. Bukanya baper atau kepedean, tapi bagaimana kalau ada motif lain dibaliknya?
Ditengah lamunan gadis itu, pemuda di sampingnya tiba-tiba berbisik, "Gue tau, kenapa lo nggak menang." ujarnya pelan.
Mata Villia terbelalak, ia tertegun setelah mendengar pernyataan itu. "Hah? Maksudnya?"
Tersenyum, pemuda itu mengarahkan telunjuk ke tengah panggung. Tepat di mana para juara berdiri merayakan kemenangan.
"Juara pertama sih emang pantas, teknik vokalnya gila. Tapi... juara dua? Nada fals di reff masih lolos. Tau nggak kenapa? Karena dia anak juri." katanya sarkas dengan keyakinan penuh.
Telunjuknya bergeser ke juara tiga. "Yang itu? Tekniknya biasa aja. Gue yakin dia juga ada, main belakang."
Villia melipat tangan, lalu menatapnya sinis, "Ini kompetisi besar, nggak mungkin ada kecurangan receh begitu."
Aneh, kenapa juga gue harus percaya?
"Percaya atau nggak, terserah," ia terkekeh. "Om gue panitianya, dan gue denger cukup banyak gosip."
Suasana jatuh pada keheningan setelah Villia memalingkan wajahnya. Gadis introvert itu sudah lama kehabisan energi setelah obrolan mereka. Namun, seolah tak ada rasa tidak enak maupun lelah, pemuda itu tersenyum tipis lagi. Tatapannya penuh selidik tertuju kepada Villia.
"Ngomong-ngomong, lo tim bubur diaduk apa nggak?" celetuknya tiba-tiba.
Villia mendengus, kaget sekaligus kesal. "Apa sih!? Lo sebenernya siapa!?"
Ia mengangkat bahu. "Jawab dulu! Penting buat masa depan."
"Nggak." Jawab Villia ketus. Dia bergeser menjauh dari posisi awalnya.
Bukanya sadar, laki-laki itu malah tersenyum puas. "Oke, bagus. Kita bisa jadi temen."
Villia memalingkan wajah, malas menanggapi.
"Ehem, iya-iya serius amat." Pemuda itu tersenyum tipis, kemudian ia mengulurkan tangan di hadapan Villia. Perempuan itu menatap bingung ke arah tangan yang tersodor ke arahnya.
"Yaelah, gue kenalan doang," jelas laki-laki itu, sambil membawa tanganya lebih dekat ke hadapan Villia.
Walau agak enggan, tapi gadis itu tetap menerimanya.
"Dirga-Dirga Atmadja," ucapnya percaya diri dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. "Lo ... dari SMA Abdi Pertiwi kan?"
Villia mengangguk heran, tapi belum sempat untuk bertanya. Bangkitnya Dirga dari kursi mematahkan pertanyaan yang bahkan belum sempat dimulai.
Dirga langsung berdiri setelah mengenalkan dirinya, sekejap ia tampak buru-buru setelah melihat jam tangannya. "Em ... maaf ya gue lupa kalo tadi ada janji. Yaudah, gue duluan ya. Semoga besok kita bisa ketemu lagi."
Villia mengangguk pelan. "Iya. Makasih, Dirga."
Dirga melangkah pergi, tapi sempat menoleh sambil tersenyum. "Inget ya! Bubur nggak diaduk, dan jangan nangis sendirian lagi."
Villia agak kesal mendengarnya namun tetap menahan diri. Gadis itu menatap punggung Dirga yang berjalan menjauh, meninggalkannya dengan rasa penasaran dan tanda tanya besar.
Bayangan Dirga belum sepenuhnya menghilang namun ada resonansi yang mengganggu di ujung genggaman Villia. Belum lama ia ditinggalkan laki-laki itu ia sudah kembali terdistraksi oleh kebisingan baru.
Apt ... apt ... apt ... apt— a-ahak, ahak!
Telepon Villia berbunyi keras dengan lagu Apt yang ia pasang, wajar saja saat ini lagu itu memang sedang tren dikalangan remaja se usia Villia.
Dari dalam layar telepon yang bergetar di tangannya, jelas terpampang nama Pak Tono—tetangga dekatnya sendiri. Merasa telpon tersebut penting, Villia segera berdiri dari tempat duduknya melangkah keluar untuk mencari tempat yang lebih sunyi.
"Halo, ada apa ya, Pak?" tanya gadis itu serius. Ia berjalan pelan di lorong gedung yang sunyi, gema langkah dari sepatu high heels hak rendahnya terdengar jelas, seolah menyalakan ketegangan yang kian menekan di dadanya.
"Villia, ayahmu ..." suara balasan di ujung telepon terdengar setengah panik.
Villia menghentikan langkahnya, tangannya menggenggam telepon lebih kuat dari biasanya, "Ayah?"
"Iya ayahmu, sekarang ada di RSUD Semarang."
*To be continued*
Ilustrasi buatan sendiri ya... yang bilang Ai atau nyomot dari pinterest, semoga harinya senin terus.