PROLOG

342 35 6
                                        

Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah menyadari bahwa dunia tidak berputar mengelilingimu. Kamu akan dipaksa untuk terus berlari di atas treadmill kehidupan, tidak peduli kakimu sudah berdarah atau napasmu tinggal tersengal di ujung tenggorokan.

Sebab, hidup memang sedingin itu. Hari ini, aku telah memutuskan untuk berhenti berpura-pura bahwa aku sedang berlari. Kenyataannya, aku hanya diam di tempat, membusuk perlahan di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter yang pengap ini.

Namaku Kesya. Kegiatanku setiap hari layaknya sebuah kaset rusak yang terus diputar ulang tanpa henti. Bangun tidur dengan kepala pening, makan apa saja yang masih tersisa di meja, kembali merebahkan diri di kasur, menggulir layar ponsel tanpa tujuan, mencari lowongan pekerjaan sebentar, lalu berakhir dengan merutuki pemerintah hingga aku kembali tertidur.

Begitulah kehidupanku sekarang. Sebuah eksistensi menyedihkan dari seorang pengangguran yang seolah tak kasat mata di tengah hiruk pikuk dunia yang bergerak terlalu cepat.

Bukannya aku tidak memiliki mimpi. Bukannya aku tidak ingin duduk di bangku perkuliahan, menenteng buku tebal, dan berdebat di ruang kelas layaknya anak-anak muda lain. Aku sangat, sangat ingin berkuliah.

Namun, apa daya? Realita menamparku terlalu keras. Ketika pengumuman SNBP keluar, namaku tidak ada di sana. Penolakan itu terasa seperti godam yang menghantam dadaku.

Aku ingin mencoba jalur SNBT, berjuang lewat tes tertulis, namun dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pendaftarannya? Uang makanku sehari-hari saja sudah seperti keajaiban jika masih tersisa di akhir minggu.

Lalu, beasiswa? Ah, jangan membuatku tertawa. Aku sudah mencari ke setiap sudut internet, mendatangi berbagai instansi, dan hasilnya selalu sama, Persyaratan harus berstatus sebagai mahasiswa aktif minimal semester dua ataupun harus memiliki prestasi yang gemilang.

Lalu bagaimana caranya aku bisa menjadi mahasiswa semester dua jika untuk masuk di semester satu saja pintunya sudah terkunci rapat untuk orang miskin sepertiku? Ya, wassalam.

Semua mimpi-mimpiku tentang toga dan gelar sarjana terkubur hidup-hidup di bawah tumpukan syarat administrasi yang tak masuk akal.

Mau tidak mau, aku harus mencari kerja.

Namun, mencari kerja di negara ini ternyata sama absurdnya dengan mencoba bernapas di dalam air. Lowongan pekerjaan bertebaran di mana-mana, tetapi persyaratannya seolah sengaja dibuat untuk menolak eksistensiku.

Dicari pelayan toko, syarat: Good looking.

Sejak kapan melayani pembeli membeli sabun cuci membutuhkan wajah setingkat model ibukota?

Dicari staf administrasi, syarat: Minimal S1.

Dicari kasir, syarat: Pengalaman minimal 1 tahun.

Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pengalaman satu tahun jika tidak ada satu pun perusahaan yang mau memberiku kesempatan untuk memulai bulan pertamaku?!

Lagi-lagi, aku hanya bisa menyalahkan semua ini pada pemerintah. Mereka yang duduk di kursi empuk itu dengan mudahnya mengingkari janji-janji manis saat kampanye.

Mereka berteriak lantang akan memperluas lapangan pekerjaan, namun kenyataannya, bagi rakyat kecil sepertiku, mencari kerja saja dipersulit oleh birokrasi dan standar yang tidak manusiawi.

Mereka berjanji akan memberikan beasiswa sebanyak-banyaknya untuk anak bangsa yang berprestasi. Nyatanya? Aku sering melihat dengan mata kepalaku sendiri, beasiswa itu jatuh ke tangan orang-orang yang salah.

Mereka yang pergi berkuliah hanya untuk bermain-main, yang menggunakan uang beasiswa dari pajak rakyat untuk berfoya-foya nongkrong di kafe mahal dan membeli barang branded. Sementara aku, yang hanya butuh sedikit saja bantuan untuk bisa belajar, dibiarkan membusuk di pinggir jalan.

RUDEStories to obsess over. Discover now