CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT KEJADIAN ATAUPUN CERITA, ITU ADALAH KEBETULAN SEMATA.
Cerita ini ditulis oleh @yucriyy_
•••
15 April 2015
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, siswa di SMP Garuda sudah bergegas keluar dari kelasnya. Walau masih terlihat banyak yang sedang sibuk berkegiatan ekstrakurikuler dan persiapan acara sekolah. Beberapa juga sedang melakukan tugas kelompok di kelas dan sekitar sekolah.
Felisha yang saat itu baru saja keluar dari Lab, dikejutkan oleh Lana yang langsung menarik tangannya.
"Lan? Eh kamu kenapa deh tiba-tiba? Kita mau kemana Lana??" Felisha yang masih kebingungan pun ikut berjalan bersama Lana. Sesekali menoleh pada teman nya yang juga kebingungan di depan ruang Lab. Felisha memberi isyarat bahwa dia akan pergi sebentar dengan Lana.
Lana yang terus menarik tangan Felisha pun akhirnya berhenti di sudut kantin. Ia yang diam sejak tadi pun akhirnya berbalik dan menatap Felisha dengan mata yang berkaca-kaca. "Fel, aku mau cerita. Tapi please... tolong jaga rahasia ini ya" Felisha mengedarkan pandangannya ke seluruh area kantin yang sudah sepi.
Felisha yang sudah paham pun langsung mengajak Lana untuk duduk di kursi kantin. "Lan, kamu ceritain semuanya pelan-pelan ya. Aku dengerin sampai akhir" Lana segera mengangguk pelan.
"Fel, orang tua aku cerai. Papa selama ini selingkuh. Aku.. Aku gatau harus bersikap gimana. Aku hancur Fel" Lana tidak bisa membendung air mata nya. Sedangkan jantung Felisha berdegup cepat ketika mendengar penuturan Lana. Jujur, Felisha terkejut mendengar ini semua.
Lana masih menangis, Felisha segera bangkit dan memeluk sahabat kecilnya itu. "Fel, kamu bayangin... selama 3 hari Papa gak pulang ternyata dia selingkuh. Aku sakit hati dengernya. Aku tau gara-gara staff Papa bilang ke Mama. Dan kamu tau? Saat itu Papa diantar kerumah dalam keadaan habis mabuk. Aku nangis di kamar" Felisha saat ini masih diam, membiarkan Lana meluapkan emosinya.
Tangisannya masih belum berhenti, dan Felisha masih terus memeluknya. "Aku ga pernah siap kejadian ini terjadi sama aku Fel. Aku benci Papa!" Tangis Lana semakin pecah dan tersedu-sedu. Air mata Felisha juga tidak terbendung lagi, ia belum pernah melihat sahabat kecilnya menangis seperti ini.
Keduanya masih berpelukan, namun tangisan Lana sudah mereda. Felisha melepas perlahan pelukan mereka, mengusap air mata yang masih turun dari matanya. Wajah keduanya sembap, namun terlihat jelas bahwa Lana lebih banyak menyimpan kekecewaan dari matanya.
Felisha memegang kedua bahu Lana, sesekali air matanya ikut menetes. "Lan, cerita tentang apapun sama aku ya. Jangan kamu pendam sendiri, kita bisa saling curhat seperti biasanya. Kayak kita waktu kecil, jangan pernah ngerasa gaada sandaran Lan. Masih ada Mama dan adik kamu yang bisa saling menguatkan"
Lana menarik nafas pelan, "Hati aku sakit Fel. Aku ga mau kayak gini" Lana menggeleng pelan, Felisha tidak mau berkata lebih banyak. Bukan ranah nya ikut campur urusan keluarga sahabatnya. Ia hanya bisa memberi semangat kecil untuk menenangkan perasaan sahabatnya itu.
"Lan, mungkin kalau kejadian ini terjadi sama aku. Aku akan berontak dan hancurin apapun yang ada di depan aku. Mungkin aku bakalan nyakitin diri aku sendiri". Felisha memberi jeda sebentar, ia tidak bisa membayangkan jika hal ini terjadi padanya. Felisha adalah orang yang keras kepala dan selalu berterus terang dalam ucapannya.
"Dan aku bener-bener berterima kasih sama kamu. Kamu berani buat cerita ini sama aku, Lana" Felisha menatap mata Lana, dadanya bergemuruh ketika mengucapkan kalimat tadi.
Lana mengusap pelan air matanya, pikirannya melayang mengingat kejadian menyakitkan yang terjadi beberapa waktu lalu. Bagi Lana, Felisha adalah gadis yang tidak takut apapun. Semuanya bisa dia hadapi, dan Lana selalu mengagumi hal itu dari sahabatnya.
Lana tersenyum tipis, air matanya sudah berhenti mengalir. Terlihat jejak tangisan hebat dari wajahnya yang cantik. Felisha kembali memeluk Lana, sembari mengusap pelan punggung sahabatnya. Ia membisikkan sesuatu, "Aku ga bisa bilang apapun lagi selain sabar dan aku harap kamu tau hal ini. Meski menyakitkan, hidup harus tetap berjalan Lana"
Jantung Lana berdegup cepat, ia mengingat kesedihannya terlalu berlebihan. Ia yang paling tau bahwa Mama nya juga sakit. Namun, sejak saat itu ia masih diam. Ia benci melihat Papa nya, dan membenci Mama nya yang terlihat seolah baik-baik saja. Mungkin Mama nya mengira ia tidak tau apapun. Mungkin, seperti kalimat yang diucapkan Felisha bahwa se-menyakitkan apapun, hidup harus tetap berjalan.
Felisha mengeluarkan tisu kecil yang selalu dia bawa di saku rok nya. Memberikan tisu itu pada Lana, "Lap dulu air matanya Lan. Kita harus happy-happy ya! Aku tuh orangnya ga suka sedih lama-lama hehehe" Felisha terkekeh melihat sahabatnya yang sudah kembali tersenyum tipis.
"Sebentar lagi kita kelas 9 Lan, kamu mau lanjut kemana? Jujur, aku tuh pengen banget jadi jurnalis. Niatnya sih mau ambil jurusan broadcasting. Kamu gimana?" Tanya Felisha pada Lana yang masih membersihkan sisa air mata di pipinya.
"Aku gatau, mungkin masuk Boarding School? Atau yaaa aku masuk Madrasah Aliyah Fel" Felisha hanya mengangguk mendengar jawaban Lana.
"Yaudah yuk Lan, udah sore banget loh. Kita pulang ya" Felisha bangkit dari duduknya, diikuti Lana dibelakangnya. Mereka berjalan perlahan tanpa bicara.
Mereka berdua tidak pernah tau, bahwa kejadian hari ini ternyata mengubah hidup mereka.
•••
YOU ARE READING
DUKA LARA
RomanceSetelah puluhan malam diisi dengan tangisan, Lana akhirnya berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia berjalan menuju cermin di kamarnya, "Aku benci. Aku benci kenapa aku sebodoh itu. Kenapa aku masih mengharapkan kamu?" ujarnya lirih. Dengan keadaan m...
