Kahiyang Laya sudah sibuk di depan perapian ketika kokok ayam baru terdengar mengalun panjang. Hawa panas yang menerpa wajah manis itu berbanding terbalik dengan udara dingin di luar. Suara jangkrik masih mendominasi padahal mentari akan segera naik untuk bertugas.
Sehabis beribadah Subuh tadi, Kahiyang langsung menyibukkan diri di dapur. Usai mencuci pakaian, wanita muda itu pergi ke kebun belakang rumah untuk memetik kangkung serta beberapa sayuran lain. Yang kemudian, bahan-bahan tersebut akan diolah menjadi makanan untuk sarapan atau makan siang.
Biasanya, pagi-pagi begini Kahiyang sudah sibuk di pasar, menjual beberapa hasil kebun untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, hari ini, dia berniat mengambil libur sebab kondisi putrinya yang kurang sehat.
Sekian lama berkutat dengan penggorengan, Kahiyang tersenyum puas melihat oseng kangkung, tempe goreng, rebusan sayur-mayur, dan sambal yang sudah tertata rapi di atas meja kayu panjang. Setelah ini, wanita muda yang mengenakan tunik serta bawahan kain batik tersebut berencana mengecek putrinya di kamar. Dia menutup semua makanan yang telah jadi dengan tudung saji sebelum melangkah meninggalkan dapur.
Rumah panggung yang hanya dihuni oleh dua orang itu berukuran lumayan besar. Terdiri dari dua tingkat. Peninggalan kakek nenek Kahiyang. Dindingnya masih menggunakan bilik dari anyaman bambu, sedangkan untuk lantai memakai papan. Di tingkat pertama terdapat empat kamar dan di tingkat kedua ada satu ruangan besar yang bisa memuat dua ranjang. Biasanya dulu digunakan sebagai kamar tamu.
Kahiyang sendiri dan putrinya jelas memilih lantai satu. Apalagi Nisaka--nama putri Kahiyang--sedang dalam masa aktif. Bocah berusia dua tahun setengah itu hanya akan tenang jika sedang tidur saja.
"Bu ... Bu ....."
Kahiyang mengerutkan kening ketika mendengar suara Nisaka memanggilnya disertai rengekan. Dia mempercepat langkah menuju ke kamar utama yang ditempatinya bersama sang putri. Perasaannya tiba-tiba saja menjadi buruk. Nisaka bukan anak yang akan menangis saat bangun tidur.
"Bu ... Bu ...."
"Iya, Nak. Ibu di si--astaghfirullah!"
Kahiyang Laya terseok menghampiri putrinya, mengabaikan sebuah gelas berisi air yang terjatuh membasahi tumpukan pakaian yang belum dipindahkan ke lemari. Dia begitu panik ketika mendapati darah di sebagian wajah Nisaka. Anak itu tidak pernah sakit sehingga kejadian ini membuatnya amat panik karena terjadi pertama kali.
"Ya Allah, Nak, astagfirullah ...."
Kahiyang menahan tangis, berusaha menekan kepanikan dalam dirinya agar dapat bertindak baik. Dengan tangan gemetar, dia mencabut beberapa lembar tisu di meja samping tempat tidur lalu membersihkan wajah Nisaka. Anak itu sendiri menangis sambil berusaha menghindari usapan Kahiyang karena merasa tak nyaman.
"Ya Allah, sebentar, Nak, Ibu bersihkan dulu." Raut cemas masih memenuhi wajah Kahiyang. Wanita muda itu lekas mengangkat sang putri. "Ayo, Nak, kita pergi ke puskesmas. Tahan, ya, Sayang. Ibu bakal cepet-cepet ke sana."
Sebelum membawa Nisaka dalam gendongannya, Kahiyang buru-buru memasang kerudung instan hitam yang tergantung di belakang pintu. Dia menyambar tas juga, memasukkan dompet, dan membawa sekotak tisu untuk berjaga-jaga.
💫💫💫
Karena keadaan yang cukup genting, Kahiyang berhasil membawa Nisaka ke ruang pemeriksaan tanpa mengantri terlebih dahulu. Ibu satu anak tersebut tak berhenti meremas tangan, gugup. Segala doa yang dia kuasai terus dilafalkan tanpa melepaskan pandangannya pada Nisaka yang sedang diperiksa dokter.
"Apakah Nak Nisaka sering rewel saat buang air kecil, Bu?" Dokter perempuan itu memulai pertanyaan setelah selesai memeriksa Nisaka.
Kini, dua orang dewasa itu tengah berhadapan dengan meja sebagai penghalang. Sementara Nisaka sendiri sudah kembali dan dipangku oleh Kahiyang.
"Em," Kahiyang melihat ke atas, berusaha mengingat-ingat, "enggak terlalu sering, Dok. Cuma, ya, kadang suka agak kolokan," jawabnya kembali menatap sang dokter.
"Oh, begitu. Maaf, Bu, saya ingin bertanya lagi. Apakah putri Ibu pernah mual sampai muntah dan urinenya terlihat lebih pekat?"
Kahiyang tidak langsung menjawab. Dia membasahi bibir, tiga detik kemudian, baru mulutnya mengeluarkan suara.
"Betul, Dok. Nisaka beberapa kali mual-mual. Saya kira mual Nisaka hal biasa karena kekenyangan. Soal urine, saya tidak terlalu ingat." Kening Kahiyang mengerut cemas. "A-apa ada sesuatu yang gawat, Dok?"
Mengerti kekhawatiran ibu dari anak yang baru diperiksanya, sang dokter berusaha tersenyum menenangkan meski helaan napasnya mengartikan hal yang berlawanan.
"Mohon maaf sebelumnya, Bu, setelah mendengar apa yang menjadi keluhan Nak Nisaka, saya dengan berat hati menduga jika Nak Nisaka mengalami gangguan ginjal," jelas sang dokter.
Kahiyang menarik napas, refleks mendekap lebih erat putrinya yang sudah jatuh tertidur. "Ga-Gangguan ginjal, Dok? Astagfirullah, Nak .... Apa, apa yang harus saya lakukan, Dok? Ya Allah ...."
Kahiyang nyaris tidak bisa mengeluarkan suara saking terkejutnya. Namun, kewarasan langsung kembali menguasainya mengingat sang putri yang membutuhkannya.
"Sebenarnya di sini ada tempat rawat inap, Bu. Namun, mengingat alat-alat di puskesmas ini tidak lengkap dan hanya untuk penyakit ringan, jadi saya dengan menyesal mengatakan bahwa Ibu harus membawa Nak Nisaka ke rumah sakit kota agar mendapatkan perawatan maksimal."
Tubuh Kahiyang bersandar lemas ke kursi. Hal-hal yang terjadi secara tak terduga seolah-olah menyedot seluruh tenaganya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa permata hatinya yang selalu terlihat ceria ternyata mengidap gangguan ginjal. Belum lagi, dokter mengatakan bahwa dia harus pergi ke kota untuk pengobatan Nisaka.
Ah, pantas aja dari semalam kayak ada yang beda dari Nisaka. Ya Allah ... harus ke kota, ya ....
Bukan, ini bukan tentang Kahiyang yang enggan bepergian jauh atau memikirkan biaya besar yang akan ditanggungnya nanti. Mau pergi sejauh mungkin pasti akan dia lakukan jika demi putrinya. Atau, mau seberapa banyak uang yang dibutuhkan, dia pasti akan bekerja keras untuk mendapatkannya.
Namun, ini tentang sesuatu yang tersimpan di kota itu. Tempat penuh keramaian dan kenangan yang tiga tahun lalu telah dia tinggalkan. Lantas, apakah sekarang waktu di mana dia harus keluar dari tempat persembunyiannya?
"...ya?"
"...pa?"
"Bu Laya?"
Suara yang agak keras itu membuat kesadaran si empunya nama tertarik kembali. Matanya mengerjap cepat sebelum fokusnya tertuju pada sang dokter.
Ah, aku malah melamun.
"I-Iya, Dok. Ma-Maaf, saya kurang fokus."
"Ibu tidak apa-apa?" Mata teduh sang dokter menatap Kahiyang dalam-dalam. Tampak mengerti kekalutan sosok di depannya sebagai sesama ibu.
Kahiyang menggeleng sembari tersenyum kaku. "Tidak apa-apa, Dok. Saya hanya sedang berusaha mencerna semuanya karena hal ini terlalu mendadak. Terima kasih, Dok."
Dokter itu tersenyum tulus. Ada kehangatan yang terpancar di sepasang matanya yang terbingkai kacamata.
"Saya tahu Ibu saat ini sedang khawatir. Tapi, saya yakin bahwa Nak Nisaka adalah anak yang kuat. Jadi, terus berusaha untuk kesembuhan putrinya, ya, Bu. Apalagi gangguan ginjal yang diderita Nak Nisaka masih tergolong ringan. Insyaallah, bisa sembuh, Bu."
Kahiyang mengangguk-angguk sembari mengaminkan, merasa tersentuh mendengar ucapan sang dokter.
"Terima kasih, Dok."
"Dengan senang hati, Bu Laya. Ini untuk resep obat sementara, ya. Sebentar, Bu." Sang dokter mulai menuliskan beberapa daftar obat yang harus ditebus.
Kahiyang Laya menerima selembar kertas kecil berisi resep obat setelah menunggu selama beberapa saat. Ibu satu anak tersebut lantas berterima kasih pada dokter dan beranjak dari sana dengan Nisaka di gendongannya.
💫💫💫
YOU ARE READING
Temaram Itu Merindukan Cahaya
Historical FictionTidak mau berpisah dengan sang putri yang baru dilahirkannya, Kahiyang kabur ke tempat yang jauh. Dia melepaskan segala kemewahan dan kehormatan yang selalu didapatkannya sebagai salah satu keluarga keraton. Hal tersebut dilakukan karena Kahiyang ta...
