Tarantang Harau, 1967
"Kurelakan segalanya untukmu.
Ku korbankan cinta yang selalu hadir menantiku. Mereka hadir untuk meminangku.
Tak kuterimanya cinto mereka, karena aku selalu menjaga hati ini hanya untukmu.
Begitu besar aku menaruh harapan padamu. Sehingga aku menunggumu, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.
Namun, engkau hadir saat itu. Engkau hadir bersama belahan hati baru mu.
Dengan senyum penuh kejayaan, kau kecewakan hatiku.
Cinta yang suci nan abadi, kau jadikan cinta yang menusuk hati.
Kau sakiti, kau hancurkan ketulusanku.
Sejak saat itu, tak lagi aku ingin mengharapkan perasaan yang sama darimu.
Mana janji mu? Mana janji mu yang akan datang bersama cincin dan pernikahan untukku?
Aku sungguh mencintai mu, ku cintai dengan segenap hati, jiwa dan raga ku.
Tapi kau tusuk, kau tusuk dengan tusukan yang bertubi tubi.
Kau tembuskan pedang perasaan itu sedalam dalamnya kepada jiwaku.
Dan kau berhasil, kau berhasil menghasilkan luka itu. Luka yang tak berdarah tapi amat sangat perih. Kau berhasil, belahan jiwaku.
Mungkin inilah surat terakhirku untukmu. Tak akan ku ganggu lagi engkau, tak akan.
Sampai jumpa, di kehidupan yang indah nan abadi. Ku tunggu kau di sana uda.
Salam terakhirku untukmu, Wassalamualaikum.
Sainaz, yang tak lagi merindukanmu."
Penuh air kertas itu dibacanya, Zahirul dengan penuh penyesalan tak kuasa menahan tangis. Tak ada lagi yang bisa di jelaskan, hanya rasa sakit dari wanita yang telah menunggunya lah yang dapat mengartikan bagaimana batinnya begitu terluka.
Sainaz, seandainya aku bisa memutar waktu tak ingin aku menyakitimu kekasihku. Namun apalah daya, kemiskinan dan kehidupan membuat cinta kita terhalang karena manusia tak mengerti apa itu cinta. Keluargaku memaksa ku untuk menikahinya. Beratnya pertimbanganku Sainaz, sangat berat. Maafkan aku, maafkan aku yang telah mengotori cinta suci kita. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin terlahir menjadi jodohmu. Tak bahagia aku di sini, tak ada cinta seperti cinta kita kekasihku. Aku mohon, maafkan lah aku. Beri aku maaf dan jangan kau lupakan cinta kita. Aku menyesal, sungguh aku menyesal...
Beri waktu untuk ku merubah segalanya, ya kekasihku?
Semoga Allah selalu melindungimu, dan mengetahui isi hati ku.
Tunggu aku, Sainaz.
