Pembukaan yang sedikit aneh

61 1 0
                                        

Derap langkah siswa-siswi SMA Danurama berlomba-lomba memasuki gerbang sekolah, diiringi dengan bunyi nyaring bel tanda masuk yang telah dibunyikan. Para petugas OSIS sudah sibuk menjaga ketertiban, namun tetap ada beberapa siswa yang terlihat santai karena sudah terbiasa datang terlambat.

Hari ini upacara bendera terasa istimewa. Ini adalah upacara pertama yang dipimpin oleh Kepala Sekolah baru. Para OSIS, staf, dan guru ingin memastikan bahwa upacara berjalan sempurna agar memberi kesan yang positif. Masing-masing ketua kelas sudah menyiapkan barisan dengan rapi. Setelah barisan tertata, sang pembawa acara mulai memimpin upacara.

"Sialan, gue nyaris telat!" keluh seorang gadis berambut lurus sepinggang, berparas cantik, dari kelas 11 IPA 1.

Gadis di sebelahnya hanya melirik sekilas, merasa keluhan temannya itu sudah terlalu sering terjadi setiap harinya. Orietta, gadis yang berdiri di sebelah Renata, tak pernah bisa benar-benar terbiasa dengan cara Renata berbicara. Renata adalah gadis yang mencolok—selalu menarik perhatian. Wajah cantik, tubuh ideal, dan pakaian yang selalu up-to-date membuatnya terlihat jauh lebih dewasa daripada gadis-gadis seusianya. Orietta, di sisi lain, merasa dirinya hanyalah bayangan ketika berada di samping Renata. Kecantikan mereka jelas tak sebanding, dan itu sering membuat Orietta merasa kecil dan tak layak berada di dekatnya.

"Ta, gue serius! Yaampun, gue hampir mati kalau tadi nggak ketemu Kak Gara!" lanjut Renata dengan penuh emosi.

Awalnya, Orietta terfokus pada petugas upacara di depan, namun mendengar nama Gara disebut, perhatian Orietta langsung beralih. Kak Gara? Orietta merasa heran. Gara, sosok yang dikenal pendiam dan jauh dari hiruk-pikuk popularitas, tiba-tiba saja terseret dalam pembicaraan Renata yang selalu dipenuhi dengan cerita-cerita menarik.

"Kak Gara?" tanya Orietta, sedikit tidak percaya. Sosok Gara yang selalu tampak tenang di mata Orietta seperti tidak mungkin terlibat dalam sesuatu yang dramatis. Bagaimana bisa laki-laki seperti itu mendadak muncul dalam kehidupan Renata?

Renata mengangguk cepat. "Yup! Itu yang lagi bawain Pancasila!"

Orietta tahu siapa Gara. Bahkan, ia mengenal sosok itu dengan baik. Gara adalah salah satu siswa yang paling cerdas dan kalem, jarang terlibat percakapan panjang dengan orang lain, kecuali untuk urusan akademik. Membayangkan Gara memberi tumpangan kepada Renata terdengar begitu mustahil bagi Orietta. “Lo nggak percaya sama gue, ya?” Renata terlihat kesal dengan keraguan Orietta.

Orietta hanya bisa menggelengkan kepala. Bukan nggak percaya, pikirnya, tapi Renata dan Gara kayaknya bukan tipe orang yang akan terlibat satu sama lain. Namun, Renata memang memiliki daya tarik yang tak terbantahkan. Banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, ingin dekat dengannya meski tanpa alasan yang jelas. Mungkin Orietta hanya terlalu meremehkan kemungkinan itu.

"Bukan gitu, cuma rasanya kayak nggak mungkin aja," gumam Orietta pelan.

---

Selepas upacara, Orietta duduk di kantin bersama Renata. Meskipun Orietta merasa dirinya tidak pernah benar-benar cocok di antara kumpulan gadis-gadis populer seperti Renata, entah bagaimana Renata selalu bersikeras untuk mengajaknya bersama. Kadang Orietta bertanya-tanya sendiri, apa yang Renata lihat dalam dirinya? Mungkin Renata hanya butuh teman untuk bercerita, pikirnya, meskipun kadang ia merasa seperti pendengar yang tidak penting.

Tiba-tiba, Renata berteriak, membuat telinga Orietta berdengung. "Retaa! Lo harus lihat ini!"

Orietta menatap ke arah ponsel Renata yang disodorkan. "Kayak abis menang lotre aja lo heboh banget."

Renata mengangguk semangat. "Kak Gara nge-chat gue, omegyat!"

Orietta menatap layar ponsel itu. "Serius? Gara nge-chat lo?" Dia tak bisa menahan rasa penasaran. Gara, yang dikenal tidak suka basa-basi, mendekati Renata? Mungkin Orietta sudah salah menilai Gara. Bisa saja, dibalik ketenangannya, Gara memang tertarik pada gadis-gadis seperti Renata—yang ceria, menarik perhatian, dan penuh energi.

"Seneng banget! Ini Kak Gara, Ta! Kak Gara!" Renata tak bisa menahan kegembiraannya.

Tiba-tiba, Levin, teman sekelas mereka yang sudah lama mengejar Renata, datang menghampiri dengan membawa susu cokelat kesukaan Renata. "Widih, Neng cantik auranya positif banget, ya!" katanya sambil menaruh minuman itu di meja.

Orietta hanya tersenyum tipis. Levin memang tak pernah menyerah mendekati Renata, meskipun gadis itu selalu menolaknya. Orietta kadang merasa kasihan pada Levin, yang terus berusaha meski tahu bahwa Renata hanya memiliki perhatian pada laki-laki seperti Gara—karismatik dan berkedudukan tinggi.

"Ngapain sih lo ke sini lagi?" Renata melirik sinis ke arah Levin.

Levin tak menggubris sikap dingin Renata. "Ngapelin calon pacar, dong!"

Renata mendengus. "Ngga sudi! Tipe gue tuh yang kayak Kak Gara!"

Levin tertawa kecil, tapi matanya berkilat. Dia tahu betul siapa Gara—laki-laki cerdas yang selalu berada di puncak prestasi sekolah, populer, dan karismatik. "Sulit banget ngalahin Kak Gara," keluh Levin sambil duduk di depan Orietta. "Ta, kalau gue pindah suka ke lo gimana?"

Orietta tertawa kecil, meski dalam hatinya ada sedikit perasaan aneh mendengar pertanyaan Levin. Bukan karena dia menganggapnya serius, tapi karena dia merasa dirinya tak sebanding dengan Renata, apalagi jika dibandingkan dengan tipe-tipe gadis yang disukai Gara. Namun, Renata langsung menyentak. "Najis! Jangan murahan jadi cowo, deh!"

Levin tersenyum pahit, sementara Orietta mencoba fokus pada makanannya, meskipun pikirannya terusik oleh percakapan tadi.

Namun, suasana berubah drastis ketika mereka melihat Gara berdiri dari mejanya, dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Sorry, Gar. Gue nggak sengaja!" ucap salah seorang temannya, namun Gara tak menggubris dan dengan kasar memukul wajah temannya itu.

Orietta tercengang. Ini pertama kalinya ia melihat Gara bertindak kasar seperti itu. Gara yang selalu dikenal tenang kini tampak begitu berbeda, dan itu membuat Orietta semakin cemas. Ada apa dengan Kak Gara? pikirnya.

"Mungkin ini masalah serius," gumam Renata, memegang lengan Orietta yang juga tampak cukup antusias menyaksikan keributan yang ada.

"Gue diem bukan berarti lo boleh seenaknya, ya anjing!" Lagi-lagi makian dan kata kasar keluar dari sosok Gara yang terbiasa tenang.

Sosok yang tersungkur itu adalah Daniel, salah satu anak pengusaha yang cukup kaya. Benar-benar sepertinya masalah yang cukup serius sampai-sampai sosok Gara berani menyakitinya.

"Gue beneran ngga sengaja, gue ngga tahu lo bakalan semarah ini pas gue bilang–"

Bug!

Lagi, bogeman itu berhasil membungkam mulut Daniel. "Sebagai cowo yang didik baik ngga seharusnya lo ngomongin fisik orang seenak lo. Itu ngga sopan, menjijikan!"

Setelah mengatakan itu, Gara pergi meninggalkan kantin tanpa menoleh. Semua orang benar-benar terpaku menatap punggung lebar Gara yang mulai menjauh dari area kantin. Sedangkan teman-teman Gara langsung sigap membantu Daniel untuk berdiri
karena sebenarnya mereka masih satu tim yang sedari dulu solid.

"Lain kali jaga mulut lo, Niel. Gara memang ngga pernah suka sama orang yang suka body shaming apalagi cabul kaya lo tadi!"
---

Ma Boyfriend Is Gara'sStories to obsess over. Discover now