Saat matahari mulai terbenam, memancarkan sinar keemasannya ke seluruh daratan, sebuah penemuan mengerikan terjadi di lantai pertama rumah besar itu; setumpuk mayat berlumuran darah tergeletak tak bergerak di lantai keras, menodainya dengan semburat warna merah tua.
Ruangan di sekitar mayat itu sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak memecah keheningan yang mencekam. Saat sinar matahari terbenam masuk melalui jendela, cahaya itu menerangi pemandangan dengan detail yang mengerikan, darah di lantai masih basah dan berkilauan di bawah cahaya siang yang memudar.
Si wanita yang baru saja memasuki sebuah mansion besar dengan lolipop di mulut hanya bisa terdiam memandangi tumpukan mayat yang jumlahnya mungkin ratusan orang. Dia menoleh ke sekitar, tidak menemukan apapun atau siapapun. Seakan sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, ia sama sekali tidak merasa mual meski bau darah di sana begitu pekat serta penampilan mayat-mayat itu dalam keadaan hancur tak berbentuk.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara seorang lelaki dari arah samping membuat si wanita spontan menoleh. Dia mendapati seorang pria bersetelan rapi serba hitam sekarang sedang memainkan dua kepala dan dilempar-lempar bergantian layaknya bola-bola badut.
"Apa-apaan ini, Vril? Bukankah sudah kukatakan untuk menyisakan aku?" Si wanita mendengkus kesal.
"Kau saja yang terlalu lelet menjalankan tugas di luar. Makanya jadi tidak kebagian di sini." Vril Dox mengejek.
"Apa?" Tidak terima, si wanita lantas memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang pria bernama Vril tersebut.
Tentu sang lawan yang sedang memegang dua kepala itu meladeni. Keduanya selain adu mulut sekarang pun mulai adu tinju. Lantas, seorang pria lainnya yang hadir di ruangan itu setelah mendengar adanya kegaduhan memijat pelipisnya sebentar. Dia sudah terbiasa dengan pertengkaran kekanakan yang terjadi di antara rekan-rekannya.
Lelaki itu menghela napas terlebih dahulu sebelum akhirnya kemudian berseru nyaring, "Vril, Priscilla! Hentikan perbuatan kanak-kanak itu! Bos sudah menunggu!"
Mendengar bosnya disinggung, dua orang itu pun akhirnya berhenti bertarung dan hanya saling membuang muka. Vril kemudian mendekat pertama kali kepada si lelaki yang baru datang, "Bagaimana dengan yang lainnya, Winslow?"
"Semuanya beres," balas si lawan bicara.
Tidak ada lagi percakapan di antara ketiga orang di lantai bawah dengan latar tumpukan mayat menjijikkan tersebut. Vril dan Priscilla pada akhirnya naik ke lantai teratas di mana bos mereka berada sedangkan Winslow masih menetap di lantai satu untuk menjalankan tugasnya.
Sesampainya di lantai empat mansion itu, keduanya langsung menuju ke sebuah ruang kerja yang memang sudah terbuka. Vril mengetuk pintunya sebagai formalitas lalu masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam. Tidak jauh beda dengan pemandangan di lantai satu, ruang kerja dari pemilik mansion tempat dia sekarang berpihak juga tak kalah menjijikkan.
Ada beberapa orang yang kepalanya sudah hancur sebab terkena serangan benda tumpul. Sedangkan satu orang lagi masih hidup dan sekarang berada di pinggir kursi kerja serta sedang menjilat dari sepatu seseorang.
Pria yang duduk di kursi kerja ruangan itu terlihat arogan, bersandar dengan pandangan tajam ke arah seorang lelaki yang sekarang menjilati sepatunya. Bola mata hijau cerahnya menyorot pada si lelaki sampah dengan pandangan mengejek.
"Bos." Vril memanggil untuk mengalihkan atensi dari si lelaki paling dominan dalam ruangan tersebut. Tidak ada jawaban, yang Vril dapatkan hanyalah tatapan mempertanyakan dari lelaki yang sudah menjadi tuannya sejak dahulu. "Semuanya sudah selesai."
"Bagus." Bosnya berkomentar sedikit. Lalu dia melanjutkan, "Priscila, urus dokumen-dokumen dan aset di sini lalu pindahkan semuanya atas namaku."
"Baik, Bos." Priscilla Rich, nama wanita yang dikhususkan mengurus dokumen penting di organisasi mereka itu langsung bergerak ketika diperintahkan.
YOU ARE READING
Lex : Big Mob Boss
ActionLegion of Doom, organisasi mafia yang dikepalai oleh Lex Luthor ini mampu membuat siapapun yang mendengarnya bergidik. Lex tidak pernah tanggung-tanggung dalam menghabisi musuhnya dengan cara paling menyakitkan. Psikopat itu sangat menikmati tangann...
