1- Flashback Awal

791 162 218
                                        


"Sakit hati bukan berarti hidup harus berhenti, tapi itu adalah panggilan untuk bangkit dan menguatkan diri."

-- Putri Saviena Lestari --

****

Dikamar yang gelap, kini ada seorang gadis yang sedang bertengger di dinding belakang ranjang tempat tidurnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dikamar yang gelap, kini ada seorang gadis yang sedang bertengger di dinding belakang ranjang tempat tidurnya. Setetes demi setetes air mata gadis itu keluar. Dengan sikap tegarnya, dia menghapus air mata nya dengan gusar. Teringat dengan jelas di memori kepalanya, ayahnya yang sering menghukumnya karena hal-hal kecil. Dirinya yang selalu dituntut untuk belajar terus-menerus agar dirinya mendapatkan nilai yang terbaik.

Memang disisi menuntut itu baik tapi apa tidak dengan cara lain untuk menuntut dirinya dengan baik. Tidak ayahnya, tidak ibu tirinya, semua saja, mereka sering membanding-bandingkan diri nya dengan adik tirinya. Pandangannya yang tadinya menatap lurus ke depan, kini pandangannya ia turunkan untuk menelisir sepanjang luka-luka di tubuhnya.

"Badan Putri sakit semua Pah, dicambukkin terus sama Papah. Ngecambukkin Putri nya istirahat dulu napa sih Pah, Putri juga cape diginiin terus." gumam gadis itu sambil menelusuri luka-luka di tangan mungil nya itu. Gadis itu, siapa lagi selain Putri. Yaps gadis ini bernama Putri Saviena Lestari. Anak kandung dari saudara Sanjaya Adirama.

Ceklek

"Ga usah jadi cewe paling tersakiti deh, nih makan!!" seru gadis yang muncul dari balik pintu kamar Putri. Siapa lagi selain adik tiri dari Putri. Sifat nya yang tak kalah jauh dari ibu nya yang licik itu, memang buah yang jatuh dari pohon itu tidak jauh dari pohonnya. Pikir Putri. Gadis itu melempar kan sebungkus roti ke muka Putri, Putri sekarang tidak mau membalas perbuatan sepele itu. Apabila dia membalas, yang ada cambukan dari Papah nya yang siap membalasnya lagi.

"Makasih." ucap Putri pada adik tirinya. Adik tirinya itu pun tidak membalas ucapan trimakasih nya, melainkan dia bertengger di meja belajar Putri dengan posisi tangan yang dilipat didepan dada.

"Makan sampai habis!!" ucap Desi dengan nada bicara tinggi. Desi? Yaps, adik tiri Putri yang sifatnya mendarah daging dengan ibu nya itu bernama Desi Elena Haury.

"Des," panggil Putri pada adik tirinya, si Desi pun hanya menaikkan alis nya, bertanda tanya.

"Sampai sekarang, lo belum nganggep gue sebagai kakak lo? Ya gue tau, kita saudara tiri tapi apakah kita ga bisa berhubungan dengan baik layaknya kakak dan adek kandung?" tanya Putri pada adik tirinya dengan menatap Desi sendu.

"Gue tegasin sekali lagi ya buat lo, sampai kapanpun kakak gue tetep kak Aksa, dan gue ga akan pernah nganggep lo kakak gue sampai kapanpun, ngerti?!!" jawab Desi dengan nada sentaknya pada Putri. Disitu Putri pun langsung tersayat hati nya mendengar jawaban dari adik tirinya itu. Padahal Desi sudah dianggap sebagai adik kandung nya sendiri tapi Desi, malah tidak mau menganggap dirinya sebagai kakaknya.

LUKA LARA PUTRIStories to obsess over. Discover now