Chapter 9

206K 3.8K 20
                                    

Meskipun aku hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggiran jakarta,aku bahagia.

Ia dengan tulusnya setiap hari mengirimku makanan,hingga aku tak perlu lagi bekerja.

Sekolah pun aku hanya mengandalkan beasiswa.
Orang tuaku meninggalkanku sejak aku berumur 5th.

Tak ada kenangan yang membekas di otakku. Karena memang saat itu aku masih kecil.

Hingga saat ini pun aku tahu mereka dimana,bahkan aku tak tahu apa alasan mereka meninggalkanku.

Tapi di balik semua ini,aku menjadi sosok wanita mandiri,tegar,dan kuat.

Di tambah kehadiran Ali,yang bisa menjadi kekasih,sahabat,juga orang tua bagiku.
Ali tak pernah keberatan tentang asal-usul keluargaku.

Dan ketika Ali pergi...
Hidupku kembali kelam,tak ada yang menjagaku dan menghiburku saat aku terpuruk.

"Ali,kenapa lo harus pergi ninggalin gue". Gumamku di ambang pintu rumah.
Air mataku kembali meluncur dengan derasnya.

"Gue harus kuat !!". Tekadku dalam hati.

****

Ali berjalan dengan senyum mengembang ketika memasuki rumahnya.

"Kenapa lo senyum-senyum?". Tanya Kaia yang tiba-tiba muncuk dari balik dinding kamarnya.

"Biasa,permaianan. Mereka mau coba-coba pemanasan sama gue".

"Permainan?". Tanya Papa Ali yang sedari tadi duduk di hadapan laptop.

"Ada orang yang mengintaiku tadi Pa". Jawab Ali duduk di samping  papanya.

"Ngapain Pa?". Tanya Ali penasaran dengan apa yang di lakukan papanya itu.

"Papa sedang melacak keberadaan Mr.Black . Agar kepindahan kita nantinya untuk mengusut kasus ini tidak sia-sia". Jelas Papa ali.

"Ow ...". Ucap Ali mengiyakan.

"Barang lo uda siap belum? Sejam lagi kita berangkat". Kata Kaia mengingatkan.

"Satu jam lagi?". Ali terperanjat dari duduknya.

"Bukannya nanti malam kak"?. Tanya Ali heran.

"Kita perjalanan juga butuh waktu Ali,lu mau ketinggalan pesawat?mending lo siap-siap gih". Perintah Kaia di sambut cibiran adik ke kakaknya.

"Iye,bawel amat deh kayak nenek-nenek nggak dapet cabe". Cibir Ali membuat Kaia melotot ke arahnya.

Papanya hanya tertawa melihat tingkah laku anak-anaknya.
Ali dan Kaia memang hebat dan jago fighting tapi mereka juga manusia yang juga penuh canda tawa antara kakak dan adik.

Ali menuju kamarnya,hanya beberapa baju dan barang seperlunya saja yang ia bawa.
Ali tidak suka repot akan barang-barang yang menurutnya tidak penting.

Tiba-tiba Ali terpaku akan sesuatu yang di hadapannya. "Prilly". Ucapnya lembut.

Aku dan Kamu.Kita.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang